
Gadis itu bukan hanya ragu, ia juga gugup. Selain baru pertama kali bertemu, ini juga pertama kalinya bagi Eva jalan hanya berdua saja, bersama lelaki asing pula.
Karena biasanya kemanapun Eva pergi, Gerlt selalu ikut dan membuntutinya.
Memang Tuan wolf sangat tampan dan rupawan, namun tetap saja Eva merasa tidak tenang karena tidak tahu sifat asli lelaki tersebut. Bagaimanapun Eva adalah seorang perempuan, ia harus bisa menjaga dirinya sendiri.
"Huftt, kenapa aku tidak ikut bersama Kak Eva saja, Pak." Keluh Gerlt. Lagi lagi ia mengulum bibir menatap Henrich dengan julid.
"Anak kecil jangan ikut campur, ikut aku saja ayo." Ujar Henrich seraya tersenyum tipis dan menjentik kening gadis tersebut.
"Nanti bertemu di Kafetaria Frishcut saja ya, Bung!" Imbuhnya.
Usia boleh tua, jiwa harus tetap muda. Begitulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan sikap Henrich. Meskipun usianya menginjak kepala empat dan sudah menikah, lelaki itu tetap suka berfoya foya di dunia anak muda.
Disisi lain, Tuan wolf hanya tersenyum menanggapi ucapan Henrich.
Eva juga hanya bisa pasrah seraya menghela nafas panjang, menatap punggung Henrich dan adiknya pergi menjauh hingga tak terjangkau lagi oleh pandangan.
"Silahkan masuk, Eva." Ucapan tuan Tuan Wolf menyadarkannya dari lamunan.
Saat berbalik badan, Eva terperanjat kaget. Tuan Wolf berdiri tepat dibelakang punggungnya, bahkan bisa dibilang jarak mereka kurang dari satu senti. Dress cream selutut menggembung yang dikenakan Eva bahkan spertinya sudah bersentuhan dengan Setelah jas yang dikenakan Tuan Wolf .
Eva segera berjalan mundur, memberi sedikit jarak antara dirinya dan Tuan Wolf . "T-terimakasih, tuan."
Dengan gugup Eva masuk kedalam mobil yang pintu nya telah dibuka dan masih dipegang oleh Tuan Wolf sedari tadi. Ia duduk di depan, Tepat di samping Tuan Wolf yang mengemudi.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Eva tengah berdoa agar kafetaria yang dimaksud tidak terlalu jauh, sehingga dirinya bisa segera keluar dari mobil mewah yang terasa mencekam perasaannya.
Brukk
Tuan Wolf masuk kedalam mobil dan mengenakan setting belt. Ia menoleh kearah Eva yang sedari tadi diam menunduk. Tangan Eva terus terusan mengepal dan saling beradu jari, menandakan bahwa dirinya tengah gugup.
Tuan Wolf tersenyum tipis, melihat tingkah Eva yang menggemaskan bagi nya.
"Gunakan dulu setting belt nya, Eva." Ujar Tuan Wolf seraya mengangkat tubuhnya dan berusaha meraih setting belt di sebelah kiri bahu Eva.
__ADS_1
Jelas saja untuk meraih setting belt itu tubuh Tuan Wolf harus mendekat. Bukan hanya dekat, kini tubuh Tubuhnya tepat berada didepan Eva. Nafas Eva seolah terhenti, ia tak berani mengeluarkannya sebelum tubuh Tuan Wolf menjauh.
Namun naas, Wajah Tuan Wolf malah menoleh. menatap netra biru Eva yang membulat sempurna. Deruan nafas Tuan Wolf yang hangat bahkan menyapa lembut pipi mulus gadis tersebut, membuat seluruh tubuhnya merinding.
Mereka saling beradu tatap selama beberapa menit, tiap detiknya bagikan mengayuh sampan ditengah samudra. Penuh tarikan dan menggebu jiwa.
Cklek
Suara setting belt yang terpasang mengalihkan pandangan keduanya. Rupanya selagi mata Eva dan Tuan Wolf beradu tatap, tangan Tuan Wolf berusaha perlahan memasang setting belt. Kemudian dengan sigap seraya mengukir senyum tipis penuh arti, Tuan Wolf kembali duduk di kursinya dan menghidupkan mesin.
Disisi lain, Eva masih termangu. Berusaha menetralkan jantung nya yang meronta ingin loncat keluar.
Untuk gadis muda seperti Eva yang baru saja menginjak usia 17 tahun kala itu, memang sedang berada di fase yang sangat mudah tertarik pada lawan jenis meskipun hanya dengan sebuah tindakan kecil.
Tak ayal hal inilah yang menyebabkan Eva terlihat masih lugu di mata Tuan Wolf.
"Tenang Eva, Aku tidak akan melakukan apapun pada kamu." Ucap Tuan Wolf diiringi tawa kecil.
Eva mendelik, tawa kecil Tuan Wolf itu seolah melukai harga dirinya yang sedari tadi berusaha agar terlihat tenang. "Aku tidak gugup, hanya suasana di dalam mobil ini terlalu panas."
Seraya melirik Eva yang fokus menatap keluar jendela mobil, Tuan wolf menyetir dengan pelan. Saking pelannya Eva merasa bahwa mobil itu tak bergerak sama sekali.
Namun Eva tak menghiraukannya. Ia lebih memilih pura pura tidak peduli daripada harus memulai pembicaraan lagi dengan tuan Wolf.
Apakah dia sengaja melambatkan mobil agar aku bertanya dan mulai pembicaraan? hmm biarlah, aku tak perduli.
Eva hanya bisa bermonolog dalam batinnya.
Setengah jam di lalui dengan berat, akhirnya Eva dan Tuan Wolf sampai di depan sebuah kafetaria yang tak jauh dari Marientplatz. Ntah apa yang membuat Tuan Wolf menyetir dengan lamban, padahal mereka bisa tiba hanya dengan beberapa menit saja.
Wolf keluar lebih dulu dari mobil dan membukakan pintu untuk Eva. Perilaku Tuan Wolf benar benar seolah mengistimewakan Eva. Perempuan mana yang tidak luluh.
"Mari Eva." Ucap Tuan Wolf dengan lembut, mempersilahkan Eva agar turun dan berjalan bersamanya
"Terimakasih, Tuan."
__ADS_1
Setelah Eva keluar dari mobil, Tuan Wolf melepas jas nya dan menutupi kepala mereka dari air hujan. Keduanya berlari, menerobos hujan kecil di sore hari tersebut.
Eva menatap wajah Tuan wolf dengan berbinar, lelaki itu mengalungkan tangannya pada tubuh Evadan membuat jarak diantara mereka hilang, tersapu bersih demi teduh dari gerimis hujan yang perlahan mengecil.
Mereka melangkahkan kakinya dengan berat saat melihat kondisi kafe yang ramai. Eva menelaah lingkungan sekitar, kebanyakan dari mereka hanya numpang berteduh dari derasnya hujan.
Sembari mengamati sekitaran, Eva mengusap rok nya yang sedikit basah karena cipratan genangan air saat berlari. Tuan Wolf mengalungkan jas hitamnya di pundak Eva.
Sontak Eva menoleh. "T-terimakasih tuan."
Sementara Tuan Wolf hanya tersenyum tipis. Raut wajah nya yang hangat berganti menjadi kaku dan dingin dalam sesaat. Topi ia kenakan dengan cepat, seolah berusaha menutupi wajahnya dari tatapan banyak orang.
Tuan Wolf menarik tangan Eva dan bergegas masuk kedalam kafetaria.
"Kenapa tuan sangat buru buru? apakah ada masalah?"
"Diamlah, tanyakan pertanyaan kamu nanti." Seloroh Tuan Wolf.
Seolah dirinya seorang buronan, Tuan Wolf berjalan cepat seraya tertunduk memegang topinya berusaha menghalangi wajah. Tanpa melepaskan genggaman tangan Eva, Tuan Wolf menghampiri barista dan membisikkan sesuatu.
Setelah itu, Tuan Wolf kembali menarik tangan Eva dan membawanya menaiki anak tangga menuju lantai dua ditemani oleh seorang pelayan. Bisa dibilang bahwa lantai dua di Kafetaria Frishcut adalah tempat VIP dengan pelayanan paling sempurna di seluruh kota Munchen.
Cklek
Pelayan membukakan pintu. Tuan Wolf dan Eva masuk kedalam sebuah ruangan yang terdapat meja makan bundar terbuat dari marmer perak dengan ukiran tangan yang khas. Kemegahan yang sedari awal disuguhkan oleh Tuan Wolf menimbulkan beragam pertanyaan di benak Eva.
Siapa sebenarnya Tuan Wolf? apakah dia orang yang sangat penting?
"Duduklah Eva, sembari menunggu Gerlt dan Henrich datang kamu boleh makan apapun yang ada disini." Ujar Tuan Wolf.
Lelaki itu mengusap rambut pirang nya yang basah seraya menaruh topi dan jas nya diatas sofa.
"Tuan, kenapa Gerlt dan Pak Henrich belum datang? Harusnya mereka tiba lebih dulu."
................
__ADS_1