Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
34. RS Ludwig Maximillian


__ADS_3

Eva termangu beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Philip. Pada kenyataannya Eva memang masih sangat mencintai Hietlar, namun hatinya juga ragu untuk mempertahankan perasaan tersebut. Ditambah kekacauan yang sedang Eva alami saat ini akan sangat memungkinkan baginya untuk perlahan-lahan melepaskan Hietlar.


Sementara itu melihat Eva hanya diam saja, Philip menghela nafas panjang dan tersenyum tipis. "Kita bicarakan masalah ini lain-"


"Aku masih mencintainya." Celetuk Eva membuat Philip tertegun dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi itu dulu. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk melupakannya."


Philip mengalihkan pandangan dan menatap Eva dengan lekat sembari mengukir senyum bulan sabit. "Oh? Kamu menyerah hanya karena dia pemimpin partai kejam huh?"


"Hanya? Apa maksud kakak dengan 'Hanya'? Menjadi pemimpin partai seperti itu pasti akan menghadapi banyak masalah dan hidup di bawah ambisi. Aku tidak mau hidup seperti itu, aku hanya mau hidup sederhana bersama suamiku. Baik bertani atau beternak tidak masalah, kemudian melahirkan beberapa anak dan hidup bahagia ditempat yang damai hingga akhir hayat. Kehidupan seperti itu yang aku mau setelah menikah nanti." Ujar Eva dengan tatapan berbinar.


"Aku harap, kehidupan impian kamu itu bisa menjadi kenyataan." Ucap Philip seraya menyingkap helaian rambut Eva kebelakang telinganya.


"Kalau kakak? Ingin punya pasangan dan kehidupan seperti apa?" Seloroh Eva.


"Hmmm, seperti-"


"Ah sudahlah kak, aku tahu itu masalah pribadi tidak usah diceritakan, hehe." Tukas Eva.


Philip hanya tersenyum menanggapi celotehan gadis tersebut. Beruntung Eva mengalihkan pembicaraan, jika tidak mungkin Philip sudah berkata yang tidak-tidak saat ini.


"Hehe begitulah kira-kira. Mmm ngomong-ngomong rencana kamu kedepannya bagaimana?"


"Aku belum berpikir jauh kak, hanya ingin menyembuhkan kaki dulu baru memikirkan masalah lain." Eva menatap iba kakinya.


"Kalau begitu tinggal lah di rumah ini dengan santai, aku akan berkunjung kerumah kamu dan berusaha menjelaskan situasi saat ini pada mereka."


"Hmm, Apa kakak sudah memiliki alasan yang tepat? bagaimana kalau mereka memberitahu Hietlar tentang keberadaan aku?"


"Tenang saja, Aku sudah punya rencana."


...----------------...


Ditempat lain, Hietlar dan Hema sudah sampai di RS Ludwig. Keduanya bergegas menghampiri ranah administrasi dan berbicara pelan pada petugas yang tengah berjaga.


"Sampaikan pada Profesor Stein, Tuan Hietlar ingin bertemu dengannya sekarang." Bisik Hema.


"O-oh Tuan Hietlar? Baik Tuan, mohon tunggu sebentar."


Sembari menunggu kedatangan Profesor Stein, Hietlar duduk di kursi tunggu sementara Hema menyisir IGD dan seluruh area Rumah Sakit untuk mencari keberadaan Eva.

__ADS_1


Tak lama berselang, seorang pria tua berambut putih lengkap dengan seragam Rumah Sakit ditemani beberapa orang dibelakangnya berjalan mendekat kearah Hietlar.


"Tuan Hietlar maaf menunggu lama, mari ikut keruangan saya."


"Terimakasih Prof, tapi mereka?" Sahut Hietlar seraya melirik beberapa orang di belakang Stein.


"Oh iya, mereka semua anak koas. Karena terburu-buru aku jadi lupa menyuruh mereka menunggu." Sahut Stein


"Kalian lanjutkan penelitian, saya ada tamu penting " Imbuhnya.


"Baik Prof." Anak koas kompak seraya beranjak pergi.


"Mari, Tuan."


Stein memperlakukan Hietlar dengan sangat terhormat. Ia mempersilahkan Hietlar masuk ke ruangannya dan duduk di sofa untuk berbincang-bincang.


"Kedatangan tuan kali ini apa ada yang bisa saya bantu?" Seloroh Stein.


"Sebenarnya aku sedang mencari seseorang, mungkin Profesor mengenalnya jadi aku datang untuk mendapatkan sedikit informasi."


"Siapa, Tuan?"


"Ini. hmm....Kenapa tuan menanyakannya?"


"Hari ini aku datang ke kediaman Rosevelt, tidak sengaja berpapasan dengan seorang dokter yang baru keluar dari dalam rumah. Setahu aku Tuan muda Rosevelt baru pulang hari ini, apa dia kurang sehat atau bagaimana aku ingin bertanya pada dokter tersebut." Ujar Hietlar.


"Hmmm, begitu. Sebuah kebetulan, Dokter pribadi keluarga Rosevelt itu adalah salah satu murid kepercayaanku, namanya Dimian Anderson."


"Bagus, apa profesor tahu alamat rumahnya?"


"Dia itu dokter pribadi keluarga bangsawan konglomerat kelas atas, rumahnya pasti dirahasiakan demi keamanan keluarga."


"Baiklah, tidak masalah aku akan mencari nya meskipun sampai ke ujung dunia." Ucap Hietlar dengan tatapan tajam.


"Ada masalah apa sebenarnya, Tuan? Saya sarankan jangan mengusik keluarga Rosevelt untuk saat ini, pondasi organisasi kita masih rapuh setelah Tuan keluar dari penjara beberapa bulan lalu."


"Tenang, aku sudah punya rencana yang matang untuk masalah ini." Hietlar menyeringai licik.


Tok


Tok

__ADS_1


"Tuan, saya sudah selesai." Ucap Hema dari luar ruangan.


Mendengar sahutan Hema, Hietlar lekas berdiri "Terimakasih untuk informasinya, prof."


"Kita satu tujuan, tidak usah sungkan tuan." Ucap Stein sopan.


Setelah itu Hietlar beranjak keluar dan menghampiri Hema. Saat itu Hema langsung menggelengkan kepala dengan tatapan kecewa. Hietlar sudah menduga bahwa Eva tidak akan ada di rumah sakit tersebut sebab itu ia tidak terlalu terkejut dengan informasi yang di isyaratkan Hema.


Hietlar hanya mendengus kasar dan berjalan meninggalkan area Rumah Sakit.


"Segera cari informasi mengenai seorang dokter bernama Dimian Anderson. Dan selidiki juga kisah masalalu Tuan Muda Rosevelt." Cetus Hietlar.


"Baik tuan."


Keduanya bergegas kembali menuju markas di Liebe Zu Hause 15. Diperjalanan, Hema sempat menghubungi para anak buah untuk berkumpul secepatnya di markas sembari membawa apa yang Hietlar minta sebelumnya.


Kegelisahan Hietlar kali ini sudah meluluhlantahkan banyak rencana matang yang telah ia persiapkan sebelumnya. Salah satunya kampanye rutin yang biasa ia gelar setiap bulan selama 3 hari berturut-turut kini terpaksa ia tunda demi menemukan calon istrinya. Ditambah hari ini Hietlar menggerakkan banyak pasukan di dalam kota mungkin kabar tersebut sudah sampai ke telinga perdana menteri saat ini. Hietlar benar-benar harus segera memutar otak membuat rencana penanggulangan masalah kedepannya.


Tak berselang lama, Hietlar dan Hema sampai di Panti. Saat melihat Mobil para anak buahnya sudah terparkir rapi berjejer di lapangan mereka bergegas masuk kedalam markas.


"Tuan!" Para anak buah berdiri memberikan hormat.


"Bagaimana? Apa ada yang berhasil menemukan istriku?" Celetuk Hietlar sembari duduk di kursi.


"Setelah berdiskusi, tidak ada yang berhasil menemukan nyonya, Tuan. Tapi kami sudah membawa berkas yang tuan butuhkan." Sahut salah satu penjaga sembari menyodorkan sebuah amplop coklat.


Hietlar meraih amplop tersebut dan membaca informasi didalamnya dengan teliti. Sejauh ini raut wajah Hietlar baik-baik saja, hingga sampai di halaman terakhir baru ia bergeming dengan senyum kecil yang sulit diartikan maksudnya.


"Segera datang ke alamat ini dan bawa Dokter Dimian hidup-hidup. Ingat, jangan sampai meninggalkan jejak apapun!"


"Baik tuan."


Beberapa penjaga berdiri dan bergegas menjalankan misi yang diberikan oleh Hietlar. Sementara itu pria tersebut masih terus membaca halaman terakhir yang sepertinya berisi informasi menarik baginya.


"Hema, apa kamu percaya dengan cinta masa kecil?" Celetuk Hietlar.


"H-hah? S-saya orang keras tuan, tidak mengerti urusan asmara."


"Haha, lebih baik kita pulang kerumah Braun sekarang. Sepertinya anjing itu tidak perlu ditangkap, ia akan datang sendiri menyambangi daging yang ditinggalkan." Hietlar menyeringai licik.


......................

__ADS_1


__ADS_2