Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
32. Kembalinya sobat lama


__ADS_3

Setelah mendapatkan kabar mengenai tempat keberadaan Eva saat ini, Hietlar dan Hema bergegas meninggalkan panti dan beranjak menuju kediaman keluarga Rosevelt, sementara para anak buahnya kembali melakukan pencarian besar-besaran di dalam maupun di luar kota.


Disamping itu semua sebenarnya situasi kota Munchen saat ini juga benar-benar sangat kacau sebab Inflasi di Amerika berpengaruh besar pada ekonomi Jerman. Bahkan sepanjang mata memandang, di setiap sudut jalan banyak gelandangan yang tersebar dimana-mana. Kebanyakan dari mereka terkena dampak hiperinflasi dan kehilangan pekerjaan akibat di PHK.


Franz-kanselir Jerman (Perdana menteri) saat ini, pasti sedang disibukkan dengan urusan negara. Jika tahu mengenai pergerakan pasukan Hietlar yang tiba-tiba ini kemungkinan Franz akan melakukan tindakan tegas. Hietlar sedari tadi termangu menatap pemandangan dari balik jendela mobil sebab tengah memikirkan cara untuk mengatasi resiko yang mungkin akan segera ia hadapi.


"Saya yakin Tuan Franz tidak akan tinggal diam jika kita mengerahkan pasukan besar secara terang-terangan seperti ini." Ucap Hema yang tengah fokus menyetir mobil.


"Dia hanya burung dengan sayap yang patah. Tidak akan berani macam-macam dengan aku." Ketus Hietlar.


"Tuan memang benar, tapi setidaknya kita harus memiliki persiapan untuk kemungkinan terburuk."


"Hmm, baiklah. Setelah sampai di kediaman Rosevelt, segera hubungi para anak buah dan suruh mereka waspada dengan membawa senjata. Jika rubah tua itu berani bangun, jangan segan untuk langsung menidurkannya."


"Baik tuan, semoga kali ini kita tidak menerima konsekuensi fatal karena-"


"Sudahlah! konsekuensi dipikirkan setelah Eva ditemukan saja. Untuk sekarang apa kamu sudah tahu alamat kediaman keluarga Rosevelt?"


"B-baik Tuan. Sejauh yang saya tahu keluarga Rosevelt menetap di Hannover tetapi mereka memiliki ratusan kediaman yang tersebar di seluruh penjuru negara, termasuk di Munchen. Mereka memiliki sebuah kediaman megah di utara Distrik Helle."


"Oh? Rupanya dekat rumah keluarga Braun?! Baiklah kesana sekarang!"


"Baik Tuan."


Hema menginjak gas dan berusaha secepat mungkin sampai di Kediaman keluarga Rosevelt sebab gelagat tuannya tersebut mulai mengkhawatirkan. Kegelisahan Hietlar telah membuntukan akal sehatnya. Yang Hietlar pikirkan saat ini hanyalah Eva dapat ditemukan dalam keadaan selamat tak peduli apapun yang akan terjadi kedepannya.


...----------------...


Huh...Dimana aku? Dirumah sakit? sejak kapan rumah sakit ganti warna cat dan pasang lampu gantung? Arghh kepalaku sakit sekali..


Eva terperejam seraya memegangi kepalanya yang masih berbalut perban. Bola matanya berputar menyisir sudut ruangan megah tempat ia berbaring tersebut hingga tatapannya berhenti pada seorang pemuda yang tengah tertidur lelap memegang erat tangan Eva di dadanya.


"AAAAA TOLONG ADA ORANG CABUL!!!"


Pekikan Eva sontak membangunkan pemuda tersebut. "Eva? kamu sudah sadar, ini kakak!"


"K-kak Philip?-"


Mata Eva membulat sempurna, ia tidak menyangka bahwa yang tidur disebelah nya tersebut adalah Philip-Sahabat Eva. Pemuda tersebut bahkan tanpa ancang-ancang langsung memeluk Eva yang masih terbaring lemah dengan mata berbinar.

__ADS_1


"K-kakak? Bukannya Kakak menetap di jepang?" bisik Eva.


"Tidak betah, setiap hari hanya bisa merindukan kamu." Celetuk Philip.


"Aku pikir kakak tidak akan pernah pulang lagi ke Munchen."


"Kamu masih sama seperti 3 tahun lalu, gadis bodoh." Cibir Philip.


Eva mengulum bibir seraya melepaskan pelukan Philip dengan kesal. "Hmmm..."


Philip malah terkekeh dengan tingkah menggemaskan Eva.


Sementara itu untuk beberapa saat Eva malah termangu, bayangan mengenai kejadian sebelum tertabrak mobil mulai bermunculan dalam benak nya. Eva masih ingat betul wajah beringas Henrich yang tidak sabar membunuhnya dan teriakan keras para anak buah Henrich yang berusaha mengejar Eva. jelas saja ingatan ini kembali membawa Eva dalam rasa gelisah.


Reflek dengan tangan gemetar Eva memegang lengan kekar Philip. "Kak aku dimana sekarang? bukannya aku dikejar beberapa penjaga? kemana mereka semua?"


"Tenanglah, kamu berada di kamarku. Sekarang kamu sudah aman." Philip meraih bahu Eva dan mendekapnya.


"J-jadi Kak Philip yang sudah menyelamatkan Aku?"


"Kalau itu....Maaf, bukan hanya menyelamatkan kamu tetapi aku juga yang telah menabrak kamu." Lirihnya.


"Siapa sebenarnya mereka? biar aku beri perhitungan keras!" Tegas Philip.


Eva melepaskan pelukannya "Untuk sekarang Aku belum bisa berterus terang. Tapi jika waktu yang tepat datang aku pasti akan menceritakan semuanya."


"Hmm baiklah. Aku tidak akan memaksa kamu bercerita. Sekarang banyak-banyaklah istirahat, kaki kamu...."


Eva tertunduk dan menyingkap selimut yang menutupi kakinya. Ia terperanjat kaget saat melihat kaki kiri nya terbungkus perban tebal dan diikat kayu. Dengan mata berkaca-kaca Eva berusaha menggerakkan kaki meskipun terasa semu dan sedikit perih.


"K-kenapa dengan kaki aku, kak?" Lirihnya.


"Tenang Eva tenang. Hanya retak saja, dokter bilang akan sembuh dalam sebulan dan kamu bisa berjalan kembali."


"Benarkah?"


"Maaf, kamu jadi seperti ini karena aku."


Philip memegang bahu Eva dan menatapnya dengan lekat. Eva sendiri mulai kembali menangis, tapi bukan karena kaki nya yang retak, melainkan karena kejadian-kejadian mengejutkan yang selalu menimpa dirinya.

__ADS_1


Eva hanya gadis lugu yang tidak mengerti tentang politik dan perang dingin di dalamnya. Ntah kutukan apa yang membuat Eva tiba-tiba masuk kedalam lubang hitam tersebut dan membuat hidup Eva tidak bisa tenang lagi kedepannya.


"Sudah jangan menangis lagi, aku mohon maafkan aku. Jika kamu masih marah silahkan pukul atau potong kaki ku! aku tidak akan keberatan selama kamu bisa memaafkan aku." Philip memelas.


"Apa yang kakak bicarakan?! Aku tidak akan berani memotong kaki Tuan Muda keluarga Rosevelt. Jika paman George tahu sepertinya aku akan dicincang atau dimasukkan kedalam kandang macan." Ucap Eva seraya mengusap kasar pipinya yang basah.


"Hmm baiklah nona Braun, tapi kamu harus meminta sesuatu dariku untuk menebus kesalahan ini!"


"Apapun boleh?" Eva menyipitkan mata.


"Iyaa, APAPUN boleh."


Hmm dilihat dari situasi saat ini, aku tidak bisa pergi sekarang, anak buah Tuan Henrich pasti masih mengejarku. Apa sebaiknya aku meminta perlindungan dari Kak Philip saja?


"Hmm baiklah karena kakak memaksa, izinkan aku tinggal di sini sampai kaki aku sembuh dan...."


"Dan apa? Katakan saja, apapun yang kamu minta pasti akan aku berikan."


"Dan...Tolong rahasiakan keberadaan aku dari siapapun."


"Kenapa? Apa ada yang mengancam kamu?!"


"Nanti akan aku jelaskan jika waktunya sudah tiba. Bisa kan kakak berjanji?"


"Baiklah, selagi untuk kebaikan kamu apapun akan kakak lakukan." Sahut Philip seraya tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri.


Kini Eva bisa sedikit mengukir senyum tipis dan bernafas lega. Berlindung dibawah naungan Philip adalah hal paling benar yang bisa Eva lakukan sekarang. Bagaimanapun Philip adalah putra tunggal bangsawan kelas atas dan masuk kategori konglomerat dunia. Jangankan Henrich, bahkan Presiden dan Perdana Menteri pun akan berpikir ribuan kali sebelum menyinggung keluarga Rosevelt.


Tok


Tok


"Tuan, di depan gerbang ada dua orang laki-laki yang meminta izin untuk bertemu dengan Tuan." Ucap pelayan dari balik pintu.


"Siapa mereka, apa sudah membuat janji dengan Willie?" Sahut Philip.


"Salah satu dari mereka adalah ketua partai dan datang dengan niat baik, Tuan. Mohon Tuan meluangkan waktu sebentar untuk berbincang dengan mereka."


......................

__ADS_1


__ADS_2