
Jantung Eva kian berdegup kencang.
Ntah kenapa namun hawa dingin melintas di belakang punuknya. Eva menghentikan langkah sebab ia telah tiba tepat diambang pintu ruangan di ujung lorong.
Dengan gemetar Eva mengangkat tangannya, berusaha meraih gagang pintu yang bundar berwarna keemasan.
"Kakak apa yang kamu lakukan disini?!"
Nyaris saja jantung Eva berhenti berdetak. "Powll! mengagetkan saja!"
Eva hanya bisa mengelus dada sembari bersandar di tembok dengan nafas kasar. Padahal hanya membuka sebuah pintu kenapa ia menjadi sangat gugup dan takut seperti ini.
"Arghh.." Eva kembali mengerang, ia melupakan luka dipunggung yang masih basah.
"Kakak, kamu kenapa?" Powll bergegas menghampiri Eva.
"Nggak, gakpapa Powll."
"Ayo ke sofa duduk dulu."
Powll memapah Eva menuju sofa. Dari gelagat perempuan tersebut sepertinya ia belum tahu mengenai apa yang menimpa Eva tadi pagi.
"Yaampun kakak! Darimana luka sebanyak ini muncul?!"
Benar saja, Powll terbelalak lebar saat melihat di balik dress yang dikenakan Eva terselip tebalnya perban yang menggulung tubuhnya.
"Tadi pagi aku tidak sengaja menyinggung Kak Angela dan putrinya."
"Apa? Kak Angela? Apa yang sebenarnya terjadi tadi pagi kak?!"
"Sebenarnya tadi pagi aku turun untuk sarapan dan Kak Angela tidak mengizinkan aku duduk di kursi. Ia juga tidak suka aku panggil kakak. Jadi dia...mencambuk ku." Tutur Eva.
"APA? MENCAMBUK KAKAK? KETERLALUAN SEKALI. APA KAK HIETLAR TAHU?" Powll berdiri dengan kesal dan nada tinggi.
"T-tenanglah Powll. Hietlar juga tahu, beruntung ada dia datang tepat waktu. Jika tidak, aku mungkin tidak bisa duduk dengan kamu sekarang."
Untuk sesaat Powll menarik nafas dalam dalam, dan berusaha duduk kembali untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Powll sebenarnya tahu betul sikap Angela yang angkuh dan sangat memanjakan putrinya, Geli. Namun disisi lain ia juga tidak menyangka bahwa Angela akan berprilaku kasar dan keji apalagi kepada orang yang ia tahu sangat berharga bagi Hietlar.
"Kakak, sepertinya aku haru menceritakan kisah keluarga kami yang rumit ini." Ucap Powll setelah merasa cukup tenang.
"Cerita apa Powll?"
"Hmm, ini sebenarnya kisah lama. Tentang keluarga aku yang cukup berantakan. Bermula pada saat ibuku mengandungku, ayah pulang menggandeng seorang perempuan yang ia perkenalkan sebagai selingkuhan nya. Lebih parahnya lagi perempuan itu juga memapah seorang gadis kecil yang usianya tak berbeda jauh dengan Kak Hietlar. Setiap hari kak Hietlar melihat ayah dan ibu kami bertengkar padahal ibuku sedang mengandung, kadang kadang ayah tidak segan berprilaku kasar kepada ibu. Karena frustasi, setelah melahirkan aku ibu memilih mengakhiri hidup. Dan semua ini menjadi trauma yang besar bagi Hidup kakak."
"Tidak sampai disitu, Setelah aku berusia 5 tahun dan kakak 13 tahun. Pasukan tentara menyerbu keluarga kami, tepatnya di rumah ini. Saat itu ayah lebih memilih melindungi selingkuhannya dan geli ketimbang aku dan kakak yang ditelantarkan di gudang. Beruntungnya kami berhasil selamat, namun kami melihat ayah dan selingkuhan nya sudah tergeletak bersimbah darah di ruangan ujung lorong itu." Tutur Powll dengan mata berkaca-kaca.
Eva tertegun mendengar kisah yang diceritakan oleh Powll. Ia benar benar tidak menyangka bahwa Hietlar telah mengalami banyak kepahitan hidup. Eva hanya bisa menatap iba Powll dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Bahkan sampai detik terakhir, Ayah hnya berkata 'Jaga Angela dengan baik'. Karena itu kakak menghargai permintaan ayah dan menjaga Angela hingga saat ini. Dan sepertinya karena terlalu dimanjakan, Kak Angela jadi angkuh dan tidak dapat diatur." Sambungnya.
Disisi lain Eva mengangguk paham. "Baiklah, sekarang aku mengerti darimana sikap kasar dan kejam Kak Angela berasal."
Powll tersenyum kecil, sebab mengenang cerita lama yang menyakitkan air matanya tak sengaja jatuh. Eva juga bisa merasakan bahwa apa yang dialami keluarga Hietlar benar benar menyedihkan.
"Ngomong-ngomong apa yang lagi kak Eva lakuin tadi di deket ruangan ujung lorong?" Powll menyeka air matanya.
"A-aku tadi mendengar ada sesuatu yang jatuh, jadi hanya berniat mengeceknya sebentar. Takutnya maling."
Eva hanya tersenyum kecil, sebenarnya alasan utama ia ingin masuk ke ruangan tersebut bukan hanya karena itu, tetapi juga karena rasa penasaran yang terus berlalu lalang di benaknya.
"Terus kalau bukan maling apa? Tidak mungkin hanya angin. Ditambah rumah ini sangat sepi, ntah kemana semua orang pergi."
Powll terdiam, ia memutar bola matanya dengan canggung enggan menatap Eva. "M-mungkin mereka semua sedang latihan..."
"Latihan apa?"
"Latihan menembak, berkuda atau yang lainnya mungkin." Powll terlihat semakin gugup.
"Pelayan juga ikut latihan menembak dan berkuda?"
Powll kembali diam, seolah skakmat dengan pertanyaan Eva. Ia tak menggubris pertanyaan Eva sama sekali.
"Ck, sudahlah kakak ipar paling mereka sedang istirahat atau sedang apa. Ayo aku antar ke kamar saja kakak harus banyak istirahat." Powll menarik tangan Eva dan kembali memapahnya menuju kamar di lantai dua.
__ADS_1
Sebenarnya Eva cukup penasaran dengan isi di dalam ruangan tersebut, namun ia juga tak bisa berbuat banyak selain patuh pada aturan yang berlaku.
Apalagi Powll terus memapahnya menuju kamar sehingga ia tak memiliki kesempatan lebih jauh untuk mengamati kamar tersebut atau bertanya hal lain.
"Istirahat ya kak, kalau butuh apa apa panggil aku aja di kamar sebelah." Ucap Powll setelah mengantar Eva sampai kedepan kamarnya.
"Terimakasih Powll. Kalau boleh tahu Hietlar kemana ya?"
"Kakak mungkin jam segini sedang sibuk mengurus pekerjaan di ruangan bawah. Nah bisa jadi barang yang jatuh itu tidak sengaja tersenggol kakak." Ujar Powll.
Eva hanya mengangguk paham.
Setelah melihat kepergian powll. Eva menutup pintu dan berjalan menuju balkon. Niatnya ingin melihat pemandangan langit senja dari atas kebun anggur yang terhampar sejauh mata memandang.
Eva duduk diatas sebuah kursi kayu yang menghadap ke luar. Ia merasakan terpaan angin sepoi-sepoi yang menyapu tubuhnya dengan kesejukan.
Untuk sesaat, Eva mendengar samar samar suara lain selain hembusan angin dan gesekan dedaunan.
Suara apa itu?.... Seperti tangisan dan permintaan ampun?
Eva memejamkan mata, berusaha memfokuskan telinga pada suara kecil yang remang tersebut.
Kok gak ada lagi? Ahh mungkin cuma perasaan saja.
Dengan kesal Eva membuka matanya lagi, sudah cukup hari ini ia mengalami hal berat. Ia tidak mau menambah beban pikiran dengan memikirkan suara yang tidak jelas asalnya darimana. Eva memilih menatap langit senja seraya menikmati udara segar yang terhirup.
Huaa, tidak lepaskan aku
Bug
Brak
Eva terperanjat kaget, kali ini suara tersebut terdengar jelas dan ia yakin bahwa itu adalah suara orang yang membutuhkan pertolongan. Eva berjalan menuju pagar balkon dan mengamati setiap sudut, namun ia tak melihat sesuatu yang aneh sedikitpun.
"Aaa, Siapa ini lepaskan- mmm!"
Tiba tiba saja sepasang tangan menutup mata Eva dan menyekap mulutnya.
__ADS_1
................