Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
20. Janggal


__ADS_3

Hema menyalakan mesin kemudian menjalankan mobil sebelum menggubris pertanyaan Eva. "Silahkan Nyonya."


Eva mendelik kearah Hietlar, lelaki tersebut tengah menatap dirinya dengan lekat dan mengedikkan kedua alisnya seolah tengah penasaran dengan apa yang ingin Eva tanyakan. Eva sendiri berusaha menghela nafas panjang dan menyusun kata-kata yang tepat terlebih dahulu dalam pikirannya.


"H-hema, apakah kamu memiliki pekerjaan sampingan selain bekerja di dewan negara bersama Hietlar?" Eva ragu.


"Tidak nyonya, aku hanya mengabdi pada tuan dan negaraku saja."


Datar, dingin namun terasa tegas. Perkataan Hema membuat Eva tertegun, suara beratnya sangat nyaring di telinga. Pantas saja lelaki ini menjadi tangan kanan Hietlar, sebab dari suaranya saja Eva bisa merasakan ngeri dan sangar yang kuat.


"Ooo begitu, hmm."


"Kenapa kamu mempertanyakan pekerjaan Hema, sayang?"


"Sebenarnya tadi aku tidak sengaja menemukan dompet Hema tergeletak di kursi saat kalian di dalam panti, kemudian aku melihat sebuah kartu identitas anggota partai....Jermanisme ."


"A-apakah Hema beneran terlibat dalam partai itu?" Imbuhnya.


srett...


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak hingga Eva dan Hietlar hampir menghantam kursi. Beruntung Hietlar langsung memeluk Eva hingga mereka bisa mempertahankan keseimbangan.


Bruk..


Hietlar menendang kursi Hema. "Bawa mobil yang benar!"


"M-maaf tuan nyonya, di depan lampu merah." Celetuk Hema.


"Cih! Kamu gakpapa kan sayang?"


"Aku gak bakal kenapa-kenapa kalau ada kamu, hehe." Eva tersenyum tipis, dibalas Hietlar dengan desis nakal dan elusan lembut di sebelah pipi gadis tersebut.


Sementara itu, Eva kembali mengamati gelagat Hema dari belakang. Semula lelaki tersebut berprilaku normal, baru setelah Eva mempertanyakan prihal kartu identitas tersebut Hema terlihat sangat panik dan gelisah sampai meneguk sebotol air sekaligus. Sementara Hietlar sendiri ntah karena penasaran atau apa ia ikut ikutan menatap Hema dengan tajam dari pantulan kaca mobil.


"M-maaf nona, aku tidak mengerti maksud pertanyaan anda." Hema berdalih.


"Huh baik aku bertanya langsung pada intinya saja. Kamu anggota Jermanisme atau bukan?"

__ADS_1


"A-aku-"


"Sudahlah sayang, untuk apa kamu memperdulikan urusan Hema." Tukas Hietlar.


"Tentu saja aku perduli, dia adalah tangan kanan kamu. Bagaimana jika dia berbuat sesuatu yang tidak baik dan bisa mencelakakan kamu suatu saat nanti?"


"Aku paham dengan maksud kamu. Tapi Hema bukan hanya tangan kanan aku, dia adalah rekan kerja, sahabat dan keluarga bagi aku." Tegas Hietlar.


"Sudah jangan mempertanyakan itu lagi, percaya pada aku bahwa aku bisa menjaga diri dengan baik." Hietlar melembut, seraya memegang bahu Eva dan tersenyum tipis.


Eva hanya mengangguk kemudian berlabuh dalam dekap hangat calon suaminya tersebut. Ia tidak mau hubungan nya dengan Hietlar menjadi renggang hanya karena permasalahan pekerjaan Hema saja. Namun terlepas dari itu semua, tidak dapat dipungkiri jika Eva masih benar-benar penasaran dengan Hema, dan tentunya dengan Hietlar.


Suara jeritan minta tolong di sekitaran rumah, kuburan mayat massal di tengah kebun anggur, penyelundupan senjata di panti asuhan....semua kejadian keji ini terjadi di rumah Hietlar, jika Hema adalah wakil ketua Partai Jermanisme , apakah Hietlar......


Monolog tersebut sukses membuat mata Eva membulat sempurna. Ia langsung menengadah melihat wajah Hietlar, lelaki tersebut juga mendelik kearahnya dengan senyum hangat yang khas. Eva kemudian mengalihkan pandanganya dan memeluk Hietlar lebih erat.


Tidak mungkin. Hietlar terlalu lembut dan penyayang untuk menjadi ketua partai tersebut. Apa yang aku lihat bisa saja salah dan aku terlalu berpikir berlebihan.


Meskipun hati nya berkata demikian, lain hal dengan pikiran Eva yang memaksanya untuk mencari tahu kebenaran latar belakang calon suaminya tersebut. Kegaduhan dalam pikiran Eva terlalu banyak dan rumit hingga ia merasa sangat lelah, dan tanpa sadar Eva tertidur pulas dalam dekapan Hietlar.


Srettt


Sekitar 3 jam menempuh perjalanan darat, Mobil berhenti di sebuah rest area jalan tol Munich/Munchen. Eva terbangun saat merasakan Hietlar perlahan lahan tengah berusaha melepaskan dekapannya. Eva mulai mengerjapkan mata dan mengamati sekitaran. "Hmmm, kita sudah sampai?"


"Maaf sayang aku membangunkan kamu. Kita sekarang sedang berada di rest area, aku akan turun sebentar untuk membeli makanan dan ke kamar mandi." Ucap Hietlar.


"Aku mau ikut, ingin membeli makanan juga."


"Boleh, nanti kamu jangan jauh-jauh dari Hema ya, tunggu aku di dalam swalayan saja jangan di luar."


"Siap Tuan."


"Gadis pintar...."


Hietlar pun berlalu dari dalam mobil. Eva memandangi punggung lelaki tersebut berjalan menjauh menuju ke toilet. Sementara Eva sendiri berdiri dipinggir mobil bersama Hema. Karena kejadian penemuan kartu identitas sebelumnya, Eva jadi nggan menatap Hema apalagi mengajaknya berbicara. Ia langsung beranjak menuju swalayan dan Hema pun mengikutinya dari belakang.


Saat masuk, Eva langsung mencari beberapa roti, minuman dan makanan ringan. Dari kejauhan Eva melihat Hema tengah berbincang serius dengan kasir, ntah apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Setelah semua barang yang Eva beli terkumpul ia bergegas menuju kasir, menyadari kedatangan Eva pun kasir dan Hema langsung berhenti berbincang.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali."


"Ini nyonya, aku sedang memesan kopi hangat untuk anda dan Tuan." Sahut Hema.


Eva hanya mengangguk menanggapi ucapan Hema. Setelah melakukan pembayaran Eva langsung meraih paperbag makan dan berlalu keluar dari swalayan, tentunya diikuti Hema dengan dua kopi panas ditangannya.


"Nyonya biar saya yang bawa makanan ini." Seloroh Hema seraya berusaha mengambil paperbag dalam genggaman tangan Eva.


"Tidak usah, kamu bawa dua kopi itu saja."


"Kalau begitu kita duduk saja di dalam swalayan nyonya, di luar dingin."


"Aku ingin berdiri lebih lama, rasanya kebas duduk terlalu lama."


Sekitar 10 menitan berlalu, Hietlar tak kunjung keluar juga dari dalam toilet. Ntah apa yang tengah dilakukan lelaki tersebut. Saat ini Eva juga mulai kedinginan, ia mempererat jaket tebal yang digunakan sembari sesekali menipu telapak tangan yang ditutupi sarung tebal supaya semakin hangat.


Memang saat ini tengah musim angin kencang yang menyebabkan hawa terasa dining menuju turunnya salju yang kemungkinan terjadi besok, sebab itu mereka mengenakan pakaian tertutup dan tebal.


"Lama sekali Hietlar?! Coba kamu masuk dan tanyakan apa yang sedang dia lakukan." Dengan bibir bergetar Eva masih berusaha berbicara.


"Maaf Nyonya, saya tidak bisa meninggalkan Nyonya."


"Aku gakpapa, lagian sepi seperti ini tidak akan terjadi sesuatu pada aku."


Hema tak bergeming, menandakan ia masih kekeh untuk terus berjaga di belakang Eva. Sementara itu Eva hanya bisa menghela nafas dan mendengus kasar, kesetiaan dan kepatuhan anak buah Hietlar memang tidak bisa diragukan lagi.


Nitt


Nitt


Bunyi klakson dari mobil-mobil Hitam yang jumlahnya cukup banyak sekitar 8 mobil menggema, mengagetkan Eva yang tengah menikmati angin sepoi-sepoi. Melihat mobil-mobil tersebut berjalan mendekat, Hema langsung maju dan membuat Eva berada tepat di belakangnya. Hema menarik sebuah pistol dari saku dan menyembunyikan nya dibalik punggung, seolah ia bersiap menyerang dalam diam.


"A-apa yang terjadi Hema? S-siapa mereka?"


......................

__ADS_1


__ADS_2