
"Salah satu dari mereka adalah ketua partai dan datang dengan niat baik, Tuan. Mohon Tuan meluangkan waktu sebentar untuk berbincang dengan mereka."
"Hmm baiklah, suruh mereka menunggu di ruang tamu. Aku akan segera turun." Sahut Philip.
"Baik Tuan."
Disamping itu, mata Eva membulat sempurna. Raut wajahnya berubah menjadi gelisah sebab ia sudah menebak siapa orang yang datang tersebut. Bahkan jantung Eva mulai berdebar cepat hingga keringat dingin mulai bercucuran, tangannya juga meremas selimut dengan kuat.
Apa mungkin Hietlar? Atau Henrich? Cepat sekali dia menemukan keberadaan aku. Apa aku harus bertemu dengannya???
Tidak tidak, lebih baik aku menghindari mereka dulu selama beberapa hari.
Melihat gelagat Eva yang benar-benar gelisah membuat Philip menatapnya dengan iba. Mungkin dalam hati pemuda tersebut, ia tengah memikirkan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Eva hingga gadis lugu dan ceria sepertinya bisa menampilkan ekspresi takut dan gelisah seperti ini. Bisa dikatakan bahwa Philip juga terkejut sebab setelah 3 tahun meninggalkan Eva, gadis tersebut menunjukkan banyak perubahan sikap.
Philip menggenggam tangan Eva dan mengelus sebelah pipinya dengan lembut "Kamu kenapa? Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan?"
"A-aku gakpapa kak, pergilah temui mereka-" Ucap Eva dengan bibir bergetar.
"Kamu yakin, hmm?"
"I-iya kak." Eva tersenyum tipis.
"Baiklah, jangan terlalu banyak berpikir. Sama aku, kamu pasti aman."
Eva mengangguk menanggapi ucapan pemuda tersebut.
Philip pun beranjak dari ranjang, namun dalam sekejap tangannya ditahan oleh Eva. Gadis itu mendongak dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kak, tolong apapun yang terjadi sembunyikan keberadaan aku." Lirihnya.
"Tenang, percayakan semuanya padaku." Philip tersenyum lembut.
Setelah merasa sedikit lega, Eva melepaskan tangan Philip dan membiarkannya pergi meninggalkan kamar. Gadis itu hanya bisa bersandar pada kepala ranjang sembari memeluk lutut dengan tatapan kosong. Pikirannya riuh mencari solusi dari masalah yang sedang ia hadapi sekarang.
Disisi lain Philip berjalan dengan santai menuju ruang tamu seraya bersilang tangan. Saat menuruni anak tangga, Philip dapat melihat seorang pria berjas hitam tengah duduk di sofa dengan seorang penjaga berdiri tegap dibelakangnya. Mereka berdua nampak tengah memutar mata menyisir ruangan seolah sedang mencari sesuatu, sejak saat itu Philip mulai memiliki firasat buruk.
"Tuan muda, senang bertemu anda." Sapa Hietlar seraya mengulurkan tangan
__ADS_1
"Terimakasih tuan sudah datang berkunjung, silahkan duduk." Sahut Philip sembari berjabat tangan.
"Terimakasih tuan."
"Tidak usah sungkan. Sebelumnya saya menetap di jepang selama 3 tahun dan kebetulan hari ini saya baru pulang, jadi saya tidak mengenal banyak orang disini-"
"Ohhh iya tuan, saya lupa memperkenalkan diri, Hehe. Saya Hietlar, ketua Partai Jermanisme dan ini asisten pribadi saya, Herman Feglein."
"Ohh tuan Hietlar yang itu? iya iya. Saya Philip Rosevelt, apa ada urusan mendesak dengan keluarga kami?"
"Hmm Tuan Philip. Langsung pada intinya saja ya, saya sedang mencari Tunangan saya yang hilang di Gang Frishcut tadi pagi. Dari informasi warga sekitar mereka melihat seorang perempuan tertabrak oleh mobil Tuan dan dibawa pergi. Sebelumnya saya tidak bermaksud mencurigai hal buruk tentang Tuan, hanya saja barangkali perempuan tersebut adalah tunangan saya mungkin Tuan bisa memberikan sedikit penjelasan. " Ujar Hietlar.
Mendengar pernyataan Hietlar, tangan Philip tiba-tiba mengepal keras, hampir saja ia menampilkan raut wajah marah yang kentara. Philip berusaha menghela nafas dan menetralkan pikiran.
"O-oh begitu. Sebenarnya Tuan benar bahwa saya menabrak seseorang, tapi yang saya tabrak adalah laki-laki. Saya juga sudah membawanya ke rumah sakit untuk diobati dan memberinya kompensasi."
"Tapi warga bilang yang Tuan tabrak itu perempuan!" Timpal Hema.
"Mungkin mereka salah lihat, saat itu suasana sedang ramai." Sahut Philip.
"Ke Rumah Sakit mana Tuan mengantarkannya?" Seloroh Hietlar memecah keheningan.
"Ludwig Maximillian. Jika tidak percaya silahkan datang langsung."
"Baik saya akan kesana. Semoga orang yang tertabrak itu bukan tunangan saya." Tegas Hietlar.
"Tenang saja, Tuan. saya siap bertanggungjawab."
"Kalau begitu, kami permisi." Ucap Hietlar seraya berdiri.
"Silahkan, Tuan."
Hietlar dan Hema pun berjalan keluar meninggalkan kediaman Rosevelt yang megah bak istana. Sedari tadi mereka berdua juga terus menatap bangunan yang menakjubkan tersebut sembari mencari-cari keberadaan Eva. Namun bisa dibilang usaha mereka kali ini datang ke rumah megah tersebut tidak membuahkan hasil yang pasti. Mereka hanya bisa menerima apa yang diucapkan Philip dan beranjak menuju Ludwig.
Sementara itu Philip sembari bersilang kaki menatap tajam punggung Hietlar dan Hema hingga mereka menghilang dari pandangan. Philip meraih segelas teh yang di sajikan dan meminumnya sekali teguk dengan raut wajah datar. Ia pun beranjak naik ke lantai atas menghampiri Eva.
"Eva, kamu sudah bertunangan?" Celetuk Philip.
__ADS_1
"D-dari mana kakak tahu?"
"Laki-laki yang datang itu bernama Hietlar, pimpinan Partai Jermanisme. Apa dia tunanganmu?!" Philip berjalan mendekat dengan tatapan tajam.
"I-iya kak, harusnya kami sebentar lagi akan menikah."
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku? apa saat kalian sudah punya anak baru memberitahuku hah?" Ketus Philip.
"Kak...Maaf, ini semua berjalan dengan cepat. Aku sendiri sedang bingung karena masalah ini." Lirih Eva.
"Apa yang sebenarnya terjadi, coba jelaskan dulu supaya aku bisa paham masalah yang sedang kamu hadapi!"
Eva berusaha menghela nafas panjang sementara Philip berjalan mendekat dan duduk di samping Eva.
"Secara singkatnya kami jatuh cinta pada pertemuan pertama dan besoknya Hietlar datang melamar ke rumah. Aku setuju dan ikut pindah bersamanya ke Berlin. Di Berlin aku menemukan banyak kejadian janggal hingga akhirnya aku mengetahui identitas Hietlar yang sebenarnya adalah pemimpin partai Jermanisme. Partai kejam itu dipimpin oleh calon suami aku kak, ditambah ia menyembunyikan identitasnya selama ini bagaimana bisa aku menerimanya lagi?!" Ujar Eva.
"Jadi karena ini kamu berusaha melarikan diri darinya?"
Eva menganguk menanggapi ucapan Philip, air mata yang sedari awal di bendung kini tak kuasa lagi ditahan. Bulir-bulir itu mulai lolos dan semakin deras. Philip dengan iba mendekap Eva.
"Gadis bodoh, bagaimana bisa kamu langsung menerima lamarannya tanpa tahu apapun, pernikahan itu bukan permainan. Apalagi dilihat dari wajahnya saja sepertinya usianya berbeda jauh denganku, apalagi dengan kamu. Harusnya kamu bertanya padaku supaya aku bisa menyelidiki latar belakang kehidupannya dulu. Kamu ini selalu saja ceroboh." Tegas Philip.
"A-aku tidak tahu akhirnya akan seperti ini, hks hks."
"Sudah sudah, yang terjadi biarlah terjadi. Apakah Paman Friedrich tahu hal ini?"
"Mereka tidak tahu apapun karena Hietlar sejak awal selalu memperlakukan keluarga aku dengan sangat baik. Karena itu aku bingung harus menjelaskan nya bagaimana hks hks."
"Aku akan bicara dengan paman-"
"Jangan kak, aku masih belum bisa melepaskan Hietlar sepenuhnya."
Ucapan Eva membuat mata Philip berkaca-kaca, hatinya bergetar seolah tersayat dan tertancap pisau. Perlahan-lahan Philip pun melepaskan dekapannya dan menatap Eva dengan lekat.
"Kamu....jatuh cinta padanya, hmm?"
......................
__ADS_1