Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
19. Liebe zu Hause


__ADS_3

Eva masih dengan segudang pertanyaan nya berbaur dalam rasa penasaran yang terus melilit pikiran nya. Sembari memandangi para penjaga itu silih berganti masuk kedalam panti, Eva melihat seorang wanita paruh baya dengan rambut putih tertutup uban seumuran 60-70 tahun berdiri menyambut Hietlar dengan ramah. Eva tidak bisa mendengar percakapan mereka sebab jarak yang cukup jauh, namun Eva bisa memastikan bahwa perempuan tersebut adalah kenalan Hietlar.


Kenapa koper-koper ini masih belum selesai di turunkan? Kalau seperti ini sama saja semua koper yang dibawa hanya untuk panti asuhan.


Tak lama Hietlar mendelik kearah Eva dari kejauhan sembari tersenyum tipis sebelum akhirnya masuk kedalam panti. Senyuman tersebut seolah meminta Eva agar sabar menunggunya di dalam mobil.


Mendapatkan kesempatan untuk menggeledah mobil di saat Hietlar dan para penjaga nya sibuk di dalam, tanpa pikir panjang Eva memeriksa setiap sudut sela mobil berharap menemukan sebuah petunjuk untuk menjawab semua pertanyaan nya. Sampai Eva melihat dompet Hema tergeletak di bawah kursi kemudi, sepertinya lelaki tersebut tak sengaja menjatuhkannya.


Eva berusaha meraih dompet tersebut namun tatapan terfokus pada benda berkilat yang tak sengaja ia sentuh.


PISTOL?! PELURU?! kenapa banyak sekali benda seperti ini di kolong kursi!


Dengan gemetar Eva memaksakan tangannya untuk meraih dompet Hema. Perlahan lahan dengan keringat dingin yang mulai bercucuran Eva membuka dompet kulit berwarna cokelat tua tersebut.


Awalnya isi di dalam dompet tersebut tidak ada yang aneh, hanya sebatas kartu identitas dan beberapa lembar uang kertas.


Ini kartu apa?! Wakil ketua Partai Jermanisme ??


Huh partai Jermanisme yang sedang diam-diam membasmi kaum imigran itu? K-kenapa Hema bisa terlibat dalam partai mengerikan itu? Apa jangan-jangan...


Eva memang tidak pandai dalam dunia politik, Eva juga memang tidak mengerti pertikaian yang tengah terjadi dalam negara nya. Namun satu yang Eva tahu, bahwa Jermanisme adalah salah satu partai paling mengerikan dalam sejarah Jerman hingga saat ini, sebab ia pernah melihat langsung kekejaman mereka dalam membantai para imigran di Munchen saat dirinya masih berusia 15 tahun.


Mengacu dari hal ini, Jika Hema yang merupakan tangan kanan Hietlar terlibat dalam jaringan Jermanisme , tidak menutup kemungkinan Hietlar juga terlibat. Eva sempat berpikir seperti itu sampai ia mengingat bahwa 90% pelayan di rumah Hietlar kebanyakan para imigran, tentu saja hal ini membuktikan bahwa dengan memperkerjakan mereka berarti Hietlar menerima orang orang tersebut dan tidak terlibat dalam jaringan Jermanisme .


Disamping itu semua Eva berusaha menetralkan pikiran dan berusaha tidak berprasangka buruk dulu terhadap Hietlar.


Tok


Tok


Tok


"Nyonya."


Hampir saja jantung Eva berhenti berdetak karena ketukan di kaca mobil tersebut. Ia terperanjat kaget dengan mata membulat sempurna sembari menaruh dompet Hema di sela kursi.


"I-iya Kenapa?"

__ADS_1


"Nyonya, Tuan Hietlar meminta anda turun dari mobil dan masuk kedalam panti." Ucap penjaga tersebut.


Huh...tenang Eva, jangan bertindak gegabah dulu semuanya belum terbukti.


Sesuai interupsi, Eva turun dari mobil ditemani empat orang penjaga yang dengan sigap mengelilinginya seraya memasang badan waspada, seolah akan terjadi sesuatu saja padahal jarak dari mobil ke pintu panti hanya beberapa meter saja.


Disamping itu Eva memutar bola matanya menyisir setiap sudut halaman panti. Rumput-rumput yang mengering dipenuhi guguran daun, tumbuhan merayap memenuhi bangunan panti serta jaring laba-laba yang menghiasi sudut plafon membuat Eva bergidik ngeri.


Panti asuhan apanya, jelas jelas ini hanya rumah terbengkalai. Jika memang iya panti pun dimana penghuninya?


Kini Eva sudah berada dalam panti reyot tersebut. Tidak seperti pemandangan di luar, di dalam panti ini terlihat cukup rapi, bersih serta hangat dengan tungku api yang menyala. Eva langsung disambut senyuman hangat seorang perempuan paruh baya yang sebelumnya menyapa Hietlar.


"Hallo Nyonya Eva. Saya Celia Scott, pengurus panti asuhan sekaligus teman lama Tuan Hietlar." Scott beranjak menghampiri Eva dan mengulumnya tangannya.


"Oh iya Nyonya Scott, saya Eva Braun ca-"


"Istri Tuan Hietlar kan? Beliau sudah menceritakan tentang Nyonya barusan." Scott memotong ucapan Eva sembari tersenyum lebar.


Eva melirik Hietlar sekilas, Rupanya lelaki tersebut tengah tersenyum tipis sembari menatapnya. "Hehe, iya kira-kira seperti itu, Nyonya."


"Mari nyonya duduk dulu, biar saya ambilkan teh sebentar."


"Sayang maaf tadi kamu menunggu lama di dalam mobil." Celetuk Hietlar.


"Gakpapa kan kamu sedang ada urusan."Eva menggenggam tempurung tangan lelaki di sampingnya tersebut.


"Kemana Hema? Aku tidak melihatnya sejak tadi." Imbuhnya.


"Dia sedang membereskan barang-barang dalam koper di banker, sayang."


"Oooo." Eva mengangguk paham.


"Silahkan Nyonya, Tuan...Teh hangat nya diminum dulu." Ucap Scott seraya menaruh dua cangkir teh hangat diatas meja.


"Terimakasih." Seloroh Hietlar sembari meneguk secangkir teh tersebut.


"Nyonya bukannya ini panti asuhan? kemana anak-anak dan penghuni lainnya? Rasanya sepi sekali, hehe." Celetuk Eva.

__ADS_1


Uhuk...Uhuk


"Hietlar minum pelan-pelan." Eva menepuk pelan punggung Hietlar.


"O-oh itu, karena bangunan ini sudah sangat rusak jadi kami memutuskan pindah ke panti asuhan baru pagi ini, anak-anak sudah berangkat duluan bersama para perawat."


"Kalau begitu kenapa barang-barang nya di taruh disini, kenapa tidak langsung dibawa ke panti baru saja?"


"Aku tidak tahu mereka pindah hari ini sayang. Baru tahu barusan. Sebenarnya aku berniat mengantarkan barang-barang ini kesana namun lokasinya cukup jauh dan takutnya mengulur waktu perjalanan kita ke Munchen." Sahut Hietlar.


"Hmm begitu." Eva mengangguk paham saja.


Tak lama Hema datang dari arah pintu belakang bersama beberapa penjaga. Tatapan Eva menjadi sedikit tertunduk tidak berani menatap Hema, semenjak tahu identitas aslinya ntah kenapa Eva merasa takut pada lelaki tersebut.


"Tuan semuanya sudah rapi." Seloroh Hema.


"Bagus, ayo sayang kita lanjutkan perjalanan." Hietlar menarik tangan Eva dan membawanya kembali masuk kedalam mobil. Namun Hietlar tidak duduk, ia malah berbalik hendak menutup pintu mobil.


"Kamu gak masuk juga?"


"Sebentar sayang ada yang mau aku bicarakan dulu pada para penjaga."


"Hmm."


Hietlar menutup pintu dan bergegas menghampiri puluhan penjaga tersebut dan seolah membicarakan sesuatu. Namun seperti biasa Eva tak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang bisa ia tebak hanya gelagat Hietlar yang tampak sangat serius.


Tak lama Eva melihat para penjaga itu bubar dan masuk kedalam mobil masing-masing kemudian satu persatu meninggalkan panti asuhan. Kini hanya tersisa tiga mobil penjaga dan mobil yang ditumpangi Eva.


"Sayang maaf menunggu lama."


"Aku pikir mereka semua ikut ke Munchen untuk menjaga kamu, tidak disangka hanya untuk mengawal barang-barang dalam koper yang untuk panti asuhan saja." Ujar Eva.


"Itu semua adalah barang penting sayang, aku takut terjadi sesuatu di jalan jadi membawa mereka semua."


Barang penting? Apakah senapan senapan itu memang di gunakan untuk tujuan tertentu?


"Mmm, Hema....boleh aku bertanya sesuatu?" Celetuk Eva.

__ADS_1


......................


__ADS_2