
Perjalanan ke Berlin kali ini tidak terasa melelahkan karena sepanjang jalan Eva ditemani alunan musik, pemandangan yang menakjubkan serta perbincangan hangat Hietlar dan Powll.
Baginya lima jam perjalanan terasa bagaikan lima menit.
Saat ini bahkan mereka telah sampai di gerbang masuk menuju pusat kota. Namun mobil berhenti sejenak untuk menerima pemeriksa dari aparat berwajib yang tengah bertugas.
Disini lagi lagi hal aneh terjadi saat aparat tersebut melihat wajah Hietlar, dalam sekejap ia mengangkat tangan dengan sigap memberikan hormat.
Setalah Hietlar mengangguk aparat itu langsung berlari dan membukakan jalan.
Bahkan Eva sempat mendengar aparat tersebut berbicara di walkie talky kepada rekan rekannya untuk mengamankan jalan yang di lalui Hietlar.
Eva sangat penasaran dengan status Hietlar. pekerjaan apa yang sebenarnya ia lakoni sampai apartur negara saja memberinya hormat dan perlakuan istimewa. Mungkin sebab Eva tidak terlalu paham mengenai dunia politik dan ranah nya jadi Eva hanya bisa menerka-nerka saja.
"Sebenarnya kamu bekerja di dewan negara sebagai apa, Tuan?" Celetuk Eva.
"Kenapa kamu memanggil aku dengan sebutan itu lagi? aku lebih suka kamu memanggil aku dengan nama asliku." Tutur Hietlar seraya tersenyum tipis.
"Hmm...Baik, Hietlar."
"Haha, begitu gadis pintar." Hietlar mengelus lembut rambut Eva.
"Jadi apa pekerjaan kamu?"
"Nanti kita bahas kalau sudah sampai ya, sekarang aku mau fokus menyetir dulu supaya cepat sampai di rumah." Ujar Hietlar.
Kenapa aku merasa Hietlar menyembunyikan sesuatu, setiap kali aku membahas pekerjaannya ia tidak pernah berbicara sembari menatap mataku.
Eva tertegun, sibuk mendengarkan monolognya sendiri. Memang benar ini bukan kali pertama Eva menanyakan pekerjaan Hietlar, bahkan semenjak diperjalanan gadis itu sudah menanyakan nya dan jawaban Hietlar selalu sama seperti barusan.
"Eva, kok diem?" Sambungnya.
"I-iya Hietlar, ceritakan saja nanti kalau sudah sampai di rumah." Sahut Eva.
Sekitar 10 menit menyusuri jalan raya di pusat kota, tatapan Eva selalu tertuju pada aparat yang berlalu lalang. Baik tengah bertugas di tengah jalan maupun yang tengah menyeruput kopi mereka akan mengehentikan aktifitasnya kemudian dengan sigap berdiri memberikan hormat pada mobil yang ditumpangi Hietlar.
Eva benar benar dirundung rasa penasaran.
Tak lama berselang akhirnya mobil mereka masuk kedalam sebuah kawasan yang kanan kirinya adalah kebun anggur. Tidak jauh dari awal gerbang kebun, mereka sampai di sebuah villa yang sangat besar dan megah.
__ADS_1
2 orang penjaga langsung membukakan gerbang dan memberi hormat saat mobil tersebut lewat.
Tatapan Eva meliar ke setiap sudut Villa tiga lantai tersebut. Ia melihat dua orang berdiri di setiap lorong balkon lantai seraya memegang senapan laras panjang lengkap dengan seragam tentara.
Meskipun Eva tidak paham dunia politik dan militer yang ditekuni oleh Hietlar, namun Eva tahu bahwa negaranya saat ini tengah dalam masa tenggang Setelah perang Dunia 1 berakhir. Jadi Eva sedikit bingung untuk apa pengawalan se ketat ini di rumah Hietlar.
"Kita sudah sampai, ini adalah rumah aku, mari." Ucap Hietlar sembari keluar mobil dan membukakan pintu untuk Eva.
Eva digiring masuk bersama Hietlar kedalam rumah.
Tepat di depan pintu, sekitar 10 penjaga dan 6 pelayan berjejer seraya menunduk memberi hormat. "Selamat datang di rumah, Tuan." Ucap mereka serempak.
"Sayang, mereka semua adalah pelayan aku, mulai sekarang akan melayani kamu juga." Hietlar tersenyum seraya merangkul pinggang ramping gadis tersebut.
Eva dibuat tersipu dengan panggilan baru Hietlar padanya.
"Ini adalah nyonya baru kalian, namanya Eva. Dia adalah calon istriku, perlakuan dia seperti kalian memperlakukan aku. Paham!" Sambungnya.
"Baik tuan." semua orang serempak.
Hietlar meraih tangan Eva dan menuntunnya menaiki anak tangga.
"Ini adalah kamar kita, nanti barang barang kamu akan di bereskan oleh pelayan." Hietlar menuntun Eva masuk kedalam sebuah kamar yang luas, bahkan sepertinya lebih luas dari rumahnya di Munchen.
Kamar tersebut bukan hanya luas dan megah tetapi juga memiliki dinding anti suara, bathroom yang besar, ruang ganti, ruang kerja dan balkon kecil untuk menikmati pemandangan kebun anggur yang terhampar luas sejauh mata memandang.
"Kamar ini luas sekali Hietlar, akan sangat sepi rasanya jika hanya ditinggali berdua." Sahut Eva.
"Sebentar lagi akan ramai dengan suara anak anak kita." Seloroh Hietlar.
Lelaki itu memandangi wajah cantik Eva dengan berbinar diiringi senyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri. Eva bisa merasakan dengan jelas bahwa Hietlar juga sangat mencintainya dengan tulus.
"Dimana ayah, ibu dan keluarga kamu yang lainnya? aku ingin menyapa mereka."
"Sepertinya aku lupa memberitahu kamu. Aku ini anak yatim piatu. Yang tinggal di rumah ini hanya adik tiri, keponakan tiri dan Powll saja." Ujar Hietlar.
"M-maaf, aku tidak tahu orang tua kamu sudah meninggal." Eva memeluk Hietlar dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan masalah, kan memang aku yang lupa cerita, hehe."
__ADS_1
"Mari biar aku kenalkan pada adik tiri dan keponakan tiri aku saja." Hietlar kembali meraih tangan Eva dan menuntunnya turun ke lantai 1.
"Pelayan, panggilkan Angela dan Geli!" cetus Hietlar.
"Maaf tuan, Nyonya Angela dan nona Geli sedang pergi berbelanja sejak tadi siang." Sahut salah satu pelayan.
"Ini sudah malam kenapa mereka masih belum pulang juga!" Hietlar menaikkan nada suaranya.
"Sudahlah tidak masalah kenalannya masih bisa besok pagi. Lebih baik kita makan dulu. Aku sudah sangat lapar."
"Kamu lapar sayang? kenapa tidak bilang, mari mari kita makan." Hietlar langsung melembut.
Lelaki itu meminta pelayan membuatkan banyak masakan untuk Eva. Tak lama setelah itu Powll juga datang bergabung. Mereka menikmati hidangan dengan lahap hingga tak ada yang memulai pembicaraan.
"Kakak ipar, besok datang ke kamar aku di lantai 3 ya. Aku akan mengajarkan beberapa hal tentang aturan rumah kepada kakak." Celetuk Powll.
"Uhuk...Uhukk..."
Eva tersedak minuman. Hietlar segera memberinya air minum. '"Pelan pelan sayang."
"Powll, tidak usah memanggil aku kakak. Kamu lebih tua dari aku."
"Itu dari segi usia, tapi dari segi silsilah kakak kan calon kakak ipar aku. Jadi aku harus memanggil kakak sesuai status, begitu aturan rumah ini kak." Ujar Powll.
"Hmm, baiklah jika memang begitu aturannya. Terimakasih informasinya, adik ipar. Hehhe"
Ujaran Eva ditanggapi gelak tawa oleh Powll sebab ia tidak terbiasa mendengar panggilan seperti itu di dalam rumah ini tentunya sedikit lucu.
"Pelayan, cari tahu keberadaan Angela dan geli sekarang. Kenapa mereka masih belum juga pulang." Hietlar sedikit khawatir.
"Tenang kakak, mereka mungkin sibuk memborong sebuah toko." Cibir Powll.
"Eh dengar kakak ipar, tempramen Kak Angela sedikit buruk. Jadi kalau dia memarahi kamu atau melakukan hal kasar bilang saja pada Kakak." Sambungnya.
Eva sedikit tercengang mendengar penuturan Powll, Akhirnya ia mendengar sebuah celah yang bisa membuat ia tidak bisa tinggal di rumah dengan nyaman.
"Aku tidak akan membiarkan dia berbuat sesuatu pada kamu, sayang." Tegas Hietlar.
................
__ADS_1