Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
21. Bimbang


__ADS_3

Hema tak bergeming menjawab pertanyaan Eva, lelaki tersebut hanya perlahan berjalan mundur bersama Eva di belakangnya. Sementara mobil-mobil hitam tersebut berhenti tepat di hadapan Hema. Deruan nafas Eva mulai kasar, dengan tangan gemetar dan keringat mulai bercucuran berusaha memegang tangan Hema yang menjulur memegang erat sebuah pistol, Eva benar-benar takut terjadi sesuatu yang buruk.


Bruk


Sekumpulan pria berkaos hitam dan celana panjang turun dari mobil, langkahnya tegas dan tegap oleh tubuh yang liat dengan otot. Mereka semua berkulit putih dan berwajah sangar, perlahan berjalan mengerumun menghampiri Hema.


"Kode!" Lantang Hema.


"Wah nona Eva cantik sekali" Ucap mereka serempak.


Seketika mata Eva membulat sempurna, jantungnya hampir berhenti berdetak barusan kenapa tiba-tiba mereka menyebut Eva cantik. Lagipula Eva tidak mengenal mereka.


"Hm, bagus. Tunggu tuan sedang ada urusan di toilet." Sahut Hema seraya memasukkan pistol kembali kedalam saku.


"Hema, apa ini? siapa mereka?" Bisik Eva.


"Nyonya, mereka adalah anggota partai bagian Utara. Hari ini tuan memang memanggil mereka untuk menjaga keselamatan tuan dan nyonya sampai acara kampanye besok selesai." Ujar Hema.


"O-oh, k-kalian tunggu saja disini. Aku ingin bertemu Hietlar sebentar-"


Hema menarik tangan Eva yang hendak berlari menuju toilet. "Nyonya Tuan sedang ada urusan di toilet, tolong nyonya tunggu saja disini."


"T-tapi aku hanya-"


"Maaf sayang kamu sudah menunggu lama." Hietlar akhirnya keluar dan berjalan menghampiri Eva.


Sementara para anggota partai itu serempak menunduk seperti orang ruku untuk memberi hormat pada Hietlar. "Selamat datang di Munchen, tuan."


"Bagus-bagus, kalian selalu bisa diandalkan. Hari ini aku akan pulang ke rumah mertua dulu, sebagian ikut denganku, sebagian lagi bersihkan villa." Hietlar menepuk bahu salah satu dari mereka.


"Siap Tuan!"


Hietlar berbalik dengan senyum lebar, ia beranjak menghampiri Eva dan memegang tangannya yang sedari tadi menampilkan raut wajah gelisah seolah dirundung ratusan pertanyaan. "Sayang, ayo pulang ke rumah."


Eva hanya mengangguk, ia tidak mau banyak bertanya dan langsung mengikuti interupsi Hietlar masuk kedalam mobil. Begitu juga para anggota tadi, Hietlar dan Hema yang masuk dan mulai menghidupkan mesin.


"Hietlar, aku mau kamu jujur sebelum menyerahkan mahar mahar ini ke keluarga aku." Celetuk Eva.

__ADS_1


"Hmm? Jujur tentang apa, sayang?"


"Apa kamu anggota partai Jermanisme?" Eva berkaca-kaca, menatap Hietlar penuh harap. Harapan semoga dugaannya adalah salah.


"Apa yang kamu katakan sayang? Aku bukan anggota partai Jermanisme. Kenapa kamu jadi sensitif seperti ini, hmm?" Hietlar melembut.


"Lalu kenapa para anggota partai itu sangat sangar dan seperti bukan bekerja di kantor dewan, melainkan di dunia yang kasar dan keras?"


"Ck. mungkin hanya perasaan kamu saja, lagipula mereka semua anggota partai bagian keamanan, sebab itu badan mereka atletis karena berlatih siang malam seperti pasukan tentara."


"Lebih baik kamu istirahat dulu sini, aku rasa kamu terlalu lelah karena perjalanan jauh." imbuhnya.


Hietlar menarik bahu Eva dan menyandarkannya dalam dekapan dada. Eva sendiri tengah bingung harus berkata apa atau melakukan apa. Di satu sisi Eva ingin mendesak Hietlar namun disisi lain ia takut. Takut terjadi banyak hal setelah ini.


"Jika aku memang terlibat dalam jaringan itu, apa yang akan kamu lakukan sayang?" Seloroh Hietlar.


Eva terkejut mendengar pertanyaan Hietlar, dengan mata berkaca-kaca ia mendongak dan menatap lekat lelaki tersebut. "Aku harap jangan."


Hietlar hanya terkekeh, ia mengalihkan pandangan kedepan dan mulai menenangkan Eva dengan tepukan kecil di bahu nya.


Apa yang harus aku lakukan jika Hietlar memang terlibat? Aku tidak mau kehilangan Hietlar, tapi aku juga tidak mau hidup bersama seorang pemberontak.


Tak lama, waktu terasa cepat sebab dipenuhi oleh riuh pikiran yang menyita waktu. Kini, mereka telah sampai di Gang Hotel Kriese, Distrik Helle. Eva, Hietlar dan Hema pun turun dari mobil. Begitu juga para anggota partai yang Hietlar bawa.


"Antarkan dulu koper-koper didalam mobil ke rumah mertua ku lalu kalian menginap saja di hotel ini. Beritahu kan saja namaku pada resepsionis, mereka akan paham." Ucap Hietlar.


Para anggota partai itu mengangguk paham, mereka beranjak mengambil koper-koper dari dalam mobil dengan rapi dan hati-hati.


"Sayang, Hema adalah pengawal pribadi yang ikut bersama aku kemana saja, jadi bolehkah dia ikut bersama kita ke rumah kamu?"


"Tentu, nanti Hema bisa tidur di kamar kakak."


"Terimakasih, sayang."


Eva dan Hietlar bergandengan tangan bergegas menuju rumah keluarga Braun, kali ini Hema juga ikut bersama mereka. Karena setelah seminggu tidak bertemu keluarganya, Eva merasa sangat senang dan sedikit melupakan ganjalan hati yang selama ini melanglang buana didalam benaknya.


Disamping itu, jalanan rumah Eva tidaklah sepi seperti sebelumnya. Karena waktu sore sepertinya banyak orang yang sudah pulang kerja dan bersantai menikmati secangkir kopi serta membaca koran di depan rumah. Hampir setiap mata tetangga menyorot Eva yang yang digandeng pria dengan pakaian mewah dan para penjaga di belakang mereka yang cukup banyak. Tentu saja mereka mulai bergunjing.

__ADS_1


Ning


Nong


Hietlar menekan bel rumah.


"Iya tunggu sebentar."


Cklek


"Siapa-"


Mata Ilse membulat sempurna, saat melihat adiknya berada tepat diambang pintu bersama Hietlar. Begitu juga Eva, dengan mata berkaca-kaca ia beranjak memeluk Ilse dengan erat.


"Kakak, aku merindukan kamu." Bisik Eva.


"Eva, bagaimana kabar kamu? Aku juga merindukan kamu."


"Aku baik- Arghh."


Eva langsung melepaskan pelukan dan mengerang kesakitan sebab Ilse menekan memegang luka dipunggung Eva. Meskipun sudah sedikit membaik tapi rasanya masih cukup nyeri, apalagi bila ditekan seperti tadi.


Menyadari hal tersebut Hietlar langsung menarik tangan Eva mendekat ke arahnya. "Maaf kak, tubuh Eva sedang kurang sehat, dia terlalu semangat melayani aku setiap malam, iya kan sayang?"


Wajah Eva merona seketika, ia terkejut dengan penuturan Hietlar barusan yang tanpa malu berkata seperti itu tepat dihadapan Ilse, Hema dan para anggota partai nya.


"Hietlar!" Ketus Eva seraya mencubit pinggang lelaki tersebut.


Semua orang tertawa melihat tingkah mereka, termasuk Ilse. Meskipun ia masih singel, tapi dia sudah dewasa dan pastinya paham apa yang dimaksud oleh Hietlar.


"Haha, mari masuk. Ngobrol di dalam saja."


Eva, Hietlar dan Hema pun masuk kedalam rumah sementara para anggota itu duduk di luar menjaga koper-koper sebelum diijinkan masuk.


Seperti biasa, suasana di dalam rumah selalu terasa hangat. Apalagi saat melihat Friedrich yang tengah membaca koran di sofa, Franziska memasak di dapur, dan Gerlt yang tengah asik nonton TV. Sebuah pemandangan yang sudah lama Eva rindukan.


"Pah, Mah, Gerlt!" Lirih Eva mengalihkan pandangan semua orang.

__ADS_1


......................


__ADS_2