Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
36. Bersekutu dengan musuh


__ADS_3

"Hietlar, Hema. Kenapa larut malam begini baru pulang?" Celetuk Ilse.


"Biasa urusan pekerjaan. Oh iya, apa Eva sudah pulang?" Sahut Hietlar.


Ilse memutar bola matanya dengan gugup. "B-belum."


"Lalu jas yang menggantung itu punya siapa?"


"Itu jas milik tamu di dalam. Ayo masuk dulu, diluar dingin." Sahut Ilse seraya melipir.


Sebelum beranjak masuk, Hietlar dan Hema sempat tertegun beberapa detik dan saling tersenyum tipis seolah dugaan mereka baru saja terbukti nyata. Ketiganya berjalan menuju ruang tamu dimana Friedrich, Franziska dan Philip masih duduk dengan santai.


"Tuan Philip? ada keperluan apa tuan datang ke rumah mertuaku?" Celetuk Hietlar.


"Ohhh, jadi Tuan Hietlar yang dimaksud paman Friedrich sebagai calon suami Eva?" Sahut Philip.


"Iya, aku memang sudah bertunangan dengan Eva dan kami akan segera menikah." Hietlar berjalan mendekat. "Bagaimana tuan bisa kenal dengan calon istriku?"


"Aku dulu menyewa rumah di sebrang dan menetap selama beberapa tahun disini sebelum pindah ke Hannover. Hari ini setelah sekian lama meninggalkan Munchen aku datang untuk menyapa para tetangga."


"Ohh...Ke Hannover? bukannya tuan pulang dari jepang?" Hietlar menyipitkan mata.


"A-apa yang Tuan bicarakan, M-mungkin hanya salah dengar."


"Hmmm, berarti tuan sudah sadar apa yang terjadi pada Eva sekarang? aku belum sempat memberitahu keluarga." Hietlar menatap lekat netra Philip yang terlihat bergelagat aneh.


"Ohh iya! jadi yang kamu maksud itu Eva?!" Philip berpura-pura terkejut dan menghampiri Hietlar dengan panik.


"Kalian saling kenal?" Seloroh Ilse diikuti tatapan penasaran dari Friedrich dan Franziska.


"TIDAK!" Tukas Philip dan Hietlar kompak.


Situasi yang sangat tidak terduga, Philip tidak menyangka kalau hubungan Hietlar dan Eva sudah sangat dekat hingga Hietlar bisa dengan bebas keluar masuk kediaman Braun. Jelas saja saat Hietlar datang Philip terperanjat kaget, apalagi penampilan nya saat ini yang terbilang sangat sederhana bisa saja mengundang kecurigaan Hietlar.


Bahkan sedari tadi Philip dan Hietlar tertegun saling beradu tatap dengan tajam, sementara yang lainnya sedikit heran dan canggung dengan suasana yang diciptakan oleh keduanya.


"Bagaimana kondisinya sekarang? Apa Eva sudah ditemukan?" Seloroh Philip.


"Ditemukan? memang Eva kemana?" Imbuh Franziska.

__ADS_1


"Hari ini Eva bertemu dengan Henrich di kafetaria, pulangnya dia dikejar beberapa orang pria dan sampai sekarang belum ditemukan. Kalian tenang saja aku sudah mengerahkan semua anak buah untuk mencari Eva." Ujar Hietlar.


"Apa?!"


Mendengar pernyataan tersebut Franziska, Friedrich, Ilse dan Philip terperanjat kaget dan mulai gelisah memikirkan kondisi gadis tersebut. Meskipun sebenarnya mereka sudah tahu dengan apa yang terjadi namun demi keselamatan Eva mereka terpaksa mengelabui Hietlar.


"Tuan Hietlar, kamu dan Eva belum menikah. Aku rasa kurang pantas kalian tinggal serumah." Ketus Philip mengalihkan pembicaraan.


"Kami sudah bertunangan, sebelum menikah tentunya harus menyesuaikan diri dengan situasi keluarga serta belajar berbagi perasaan satu sama lain, termasuk berbagi ranjang."


"Jaga bicaramu Tuan! dimana letak sopan santun kata-katamu barusan!" Lantang Philip.


"Sopan santun? aku rasa Tuan perlu banyak belajar juga, seperti melihat waktu saat bertamu atau tidak meninggikan suara pada orang yang lebih tua." Sengit Hietlar.


"Aku datang kesini untuk menyapa paman dan bibi!"


"Memang Tuan Muda punya hubungan apa dengan keluarga Braun?" Hietlar menyipitkan mata.


"Hietlar!" Lantang Philip


"Aku ingin bicara denganmu di luar!"


"Apa Tuan yakin tidak tahu keberadaan Eva?" Celetuk Hietlar.


"Harus berapa kali aku jelaskan, aku tidak tahu dimana dia berada. Jika kamu butuh bantuan untuk mencarinya, datang saja kerumah ku."


"Tidak perlu, aku bisa mencarinya dengan kemampuan aku sendiri."


Philip hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Hietlar.


"Aku akan menemukannya dimanapun dia berada. Setelah aku tahu siapa yang berani menyembunyikan Eva, seluruh keturunannya akan aku ratakan." Hietlar berucap dengan tatapan beringas dan penuh amarah.


"Huh....Di hari pertama datang ke Munchen setelah 3 tahun pergi ini aku tidak menyangka akan mendapatkan banyak kejutan tidak terduga. Eva akan segera menikah tapi malah menghilang, ditambah ada seorang pemimpin aliran partai yang mengaku sebagai anggota dewan negara demi mendapatkan restu mertua. Wahh sangat menarik." Cibir Philip.


"Yaaa, aku juga sedikit terkejut Tuan Muda dengan status terhormat berkunjung kerumah kecil ini dengan pakaian sederhana tanpa pengawalan siapapun. Sangat menarik." Hietlar menyeringai licik.


"Memang salah kalau aku berjalan-jalan santai dengan pakaian sederhana?"


"Huh, Lebih baik tidak usah ditutupi lagi tuan, dengan kemampuanku ini hanya butuh waktu beberapa menit untuk mengetahui semua rencana yang tuan tutupi rapat-rapat." Hietlar tersenyum miris.

__ADS_1


Lagi-lagi keduanya saling bertatapan tajam. Philip dan Hietlar punya rahasia masing-masing yang ditutupi dari keluarga Braun. Hal ini menjadi kelemahan mereka untuk bertindak.


"Baiklah, karena kita punya rahasia masing-masing bagaimana kalau berjalan sesuai arah tanpa ikut campur kehidupan pribadi satu sama lain?" Celetuk Philip.


"Oh? Tuan muda sedang bernegosiasi dengan aku?" Hietlar tersenyum miring.


"Sebenarnya identitasku tidak terlalu penting jika keluarga Braun tahu, lagipula hubungan kami hanya tetangga yang akrab saja. Beda lagi dengan rahasiamu....." Kini, Philip yang menyeringai licik.


Hietlar mendengus kasar seraya mengalihkan pandangan. Ia merogoh sebatang rokok dari dalam saku dan menyulut korek api. Setelah beberapa hisapan Hietlar baru bergeming menanggapi ucapan Philip.


"Baik, kali ini aku setuju jika hanya itu mau tuan."


"Tentu saja bukan hanya itu."


"Selagi bisa, aku akan mempertimbangkannya." Sahut Hietlar.


Hietlar menyodorkan sebatang rokok kepada Philip. Dengan senang hati Philip menerimanya dan ikut menyesap asap rokok dibawah dinginnya udara yang menghembus kulit.


"Seperti yang Tuan Hietlar tahu, krisis ekonomi saat ini sangat parah karena hiperinflasi. Tentunya berpengaruh juga pada perusahaan ku yang mengalami banyak kerugian. Kali ini aku pulang ke Munchen dengan misi untuk menyelamatkan seluruh anak cabang perusahaan yang terkena dampak. Tentunya dalam hal ini aku membutuhkan orang-orang dan kuasa Tuan dalam memperlancar urusan."


"Cih! Aku tidak menyangka keluarga Rosevelt akan membutuhkan bantuanku untuk mengatasi masalah bisnis."


"Tentu hal ini bukan hal yang kecil, jika misi ini berhasil dan ayahku tahu kamu berkontribusi besar pasti dia akan mendukung partai tuan untuk melakukan apapun." Philip berucap pelan namun penuh penekanan.


"Huh, ternyata rumor yang beredar memang benar, Tuan Muda Rosevelt sangat cerdas dalam menggunakan lidah." Cibir Hietlar.


"Bagaimana? Dengan menjadi rekanku, Tuan akan mendapatkan banyak keuntungan."


"Memangnya tuan sudah ada rencana?"


"Tentu, besok pagi datanglah kerumah ku dan bawa daftar lengkap sarana prasarana yang Tuan miliki." Bisik Philip.


"Maaf tuan, selama calon istriku belum ditemukan aku tidak bisa tenang. Aku tidak bisa membantumu." Tukas Hietlar.


"Datang saja dulu, aku akan mencari informasi keberadaan Eva. Dengan jaringan bisnisku ini, orang mana yang tidak bisa kutemukan?" Philip menyeringai dengan tajam.


kamu sudah berani menyentuh Eva, jangan harap aku bisa berbelas kasih. semua ini hanya jebakan untuk membunuhmu secara perlahan, Hietlar!


......................

__ADS_1


__ADS_2