Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
12. Tidak terduga


__ADS_3

Setelah kejadian buruk yang menimpa calon istrinya tersebut, Hietlar segera membopong tubuh Eva yang belumuran darah dipunggung nya ke kamar.


Hietlar berjalan dengan cepat namun hati hati, ia benar benar sangat prihatin sekaligus merasa bersalah dengan apa yang menimpa Eva.


"Pelayan! bawakan obat!"


Teriakan Hietlar mengguncang seisi rumah, para pelayan mulai kelabakan dan mencari apa yang dibutuhkan sang tuan.


"P-pelan pelan, Hietlar." Rintih Eva.


Hietlar dengan lembut memindahkan Eva keatas ranjang. Para pelayan juga mulai berdatangan membawa air hangat, dan obat obatan.


"Kalian keluarlah, aku akan mengobati sendiri isteri ku!"


mendengar ucapan Hietlar semua pelayan keluar dengan wajah gelisah, mereka seolah takut sesuatu akan terjadi pada mereka. Eva bahkan sempat melihat salah satu pelayan meneteskan air mata seraya berjalan tertunduk keluar kamar.


"Hema! HEMA!!" Hietlar terus berteriak memanggil seseorang yang bernama Hema tersebut.


"Iya Tuan?!"


Lelaki berperawakan gagah yang nampak seumuran dengan ilse itu datang dengan cepat. sangat terlihat jelas dari seragam yang dikenakan Hema memiliki banyak pangkat. Katakanlah ia seorang penjaga dengan status tinggi.


Sementara itu Hietlar menoleh dengan tatapan tajam ke arah Hema kemudian berkata "Lakukan seperti biasa."


Eva melihat sosok pria bernama Hema itu mengangguk dan bergegas keluar dengan cepat. Seolah mereka menjalin telepati, tanpa mengatakan apa yang harus dilakukan oleh nya, pria itu langsung paham dan bergegas melaksanakan perintah Hietlar.


Lain hal, Hietlar mengambil sebuah gunting dan memotong kain dress bagian punggung yang dikenakan Eva.


Sebuah rasa sakit yang teramat sangat mulai menjalar di tubuh Eva, ia sampai meremas bantal dengan kuat seraya keringat dingin mulai bercucuran saat merasakan kain yang dipotong Hietlar itu banyak yang menggores luka dalam nya yang menganga lebar.


Hietlar adalah seorang mantan tentara, melihat luka seperti itu ia sudah biasa. Termasuk membersihkan dan mengobati nya pun ia sudah sangat ahli.


Namun hari ini, Hietlar pertama kali merasakan gemetar dan takut saat hendak mengobati luka Eva.


"Maaf sayang, hari pertama kamu di rumah ini menjadi sangat buruk." Hietlar melembut.


"I-ini bukan salah kamu....M-memang, aku yang mencari masalah....Arghhh."


Gadis itu hanya bisa mengerang kesakitan dengan air mata yang mulai bercucuran. Dalam hidup Eva, ini adalah kali pertama ia mengalami luka seberat ini.

__ADS_1


Disisi lain Hietlar masih berusaha membersihkan luka Eva dan mengolesnya dengan obat.


"Aku tidak peduli apa yang telah kamu lakukan. Kamu adalah orang yang berharga bagi aku. Tidak sepantasnya orang orang seperti mereka membuat kamu seperti ini!" Tegas Hietlar.


"Maafkan aku meninggalkan kamu pagi pagi, karena biasanya setiap pagi aku akan akan berjalan jalan bersama blondi keliling rumah untuk sekedar berolahraga." Sambungnya.


"S-siapa blondi?"


"Aku belum mengenakan pada kamu ya? Dia anjing kesayangan aku. Nanti kalau kmu sudah sembuh, kita bertiga bisa jalan jalan bersama." Hietlar berusaha menghibur Eva.


Sementara gadis itu hanya bisa mengangguk pelan. Ia terus terusan meremas bantal dan menggigit bibir bawah. Rasa sakit itu benar-benar menyiksa.


"Ini minum dulu air nya."


Hietlar mengangkat tubuh Eva, dan membantunya meneguk segelas air.


Untuk sesaat Eva merasa sangat tidak menyangka, bagaimana bisa Perempuan bernama Angela itu sangat kejam. Padahal perilaku Hietlar dan Powll berbanding terbalik dengan nya.


Bahkan setelah kejadian hari ini, Eva sedikit takut untuk kembali bertemu dengan mereka.


"Sayang kamu bisa sedikit bangun? Aku akan memasangkan perban."


Setelah selesai, Hietlar memilihkan sebuah long dress oversize dan mengenakan nya pada tubuh Eva yang hanya berbalut perban.


"Sayang, kamu istirahat dulu ya. Aku akan turun untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan."


"Bisa kamu disini saja? Aku tidak mau tidur sendirian." Eva memelas seraya memegang tangan kekar calon suaminya tersebut.


Hietlar tersenyum tipis, ia kemudian duduk bersandar di kepala ranjang dan menaruh kepala Eva dipangkuan paha nya. Sembari mengelus lembut rambut Eva, Hietlar terdiam seolah tengah merenungi sesuatu.


"Siapa lelaki yang bernama Hema itu? Sepertinya dia adalah orang kepercayaan kamu?"


"Oh dia. Namanya Herman Feglein, Tapi aku lebih suka memanggil nya Hema. Dia adalah tangan kanan aku yang membantu semua masalah di partai. Dia juga sudah mengabdi pada aku cukup lama, hampir 20 tahun. Ya setengah hidupku dijalani bersama nya jadi aku sudah sangat mengenal sikapnya. Lagipula kenapa kamu tiba tiba bertanya tentang dia, apa karena dia tampan?" Hietlar menyipitkan mata.


Lelaki itu tak merasakan adanya pergerakan sama sekali dari Eva. Ia mendongak ke bawah dan benar saja, gadis itu malah terlelap tidur.


"Cihh, dasar manis!" Hietlar terkekeh dengan tingkah menggemaskan Eva.


----------------

__ADS_1


Eva terbangun saat tangannya berusaha meraba keberadaan sosok Hietlar namun tak ada.


Hmm jam berapa ini, kemana Hietlar? bukannya tadi dia menemani aku tidur?


Eva berusaha membuka matanya yang remang remang dan sedikit pusing, dan langsung saja mata Eva membulat sempurna sebab jam di nakas menunjukkan pukul 17.23 . Sudah sore.


Bisa bisanya ia tidur lelap seperti ini.


Perutnya juga mulai keroncongan karena sedari pagi belum makan dan hanya meneguk segelas air yang diberikan Hietlar sebelum ia tertidur pulas.


Eva bangun dengan susah payah menahan rasa sakit dipunggung nya yang masih terasa sangat membekas. Berulang kali ia memanggil para pelayan namun tak ada satupun yang menjawab.


Rumah benar benar terasa sangat sepi dan kosong, ntah kemana semua orang pergi.


Saat ini Eva hanya bisa berjalan menuruni anak tangga dengan pelan. Ia melihat setiap sudut rumah dari atas namun ia tidak mendapati keberadaan siapapun.


Brakk


Eva mendengar sesuatu terjatuh dari ujung lorong lantai satu yang gelap gulita. Ia berniat menghampiri ruangan tersebut dan melihat apa yang jatuh, namun ucapan Powll yang melarangnya masuk kedalam ruangan itu terlintas di benak Eva dan membuatnya mengurungkan niat.


Tak mau terlalu lama berdiri memandangi ujung lorong, Eva duduk di meja makan dan mulai menyantap semua hidangan yang masih tersedia hangat diatas meja. Seolah pelayan tahu ia akan turun jam segini sehingga makanan sudah dihangatkan.


Eva tak menghiraukannya dan lanjut memuaskan perutnya yang menggonggong kelaparan.


Brakk


Dugg


Lagi lagi Eva mendengar benda jatuh dan hantaman benda keras menggema dari dalam ruangan. Eva sangat penasaran namun ia berusaha menahan perasaan tersebut dan tetap melanjutkan aktifitasnya.


Gbrak


Sebuah vas bunga yang terpajang rapi disamping ruangan tersebut jatuh dengan keras. Hal ini sontak mengalihkan pandangan Eva.


Rasa penasaran didalam benaknya sudah tidak bisa ditahan lagi. Lagi pula jika benar hanya benda jatuh di dalam ruangan, kenapa benda yang di luar ruangan juga ikut terjatuh.


Malah Eva mengira bahwa ada maling yang tengah mengobrak abrik ruangan diujung lorong tersebut karena sangat berisik.


Eva perlahan berjalan mengendap, menghampiri ruangan ujung lorong yang cukup dingin dengan hawa yang mencekam sebab tak ada lampu yang dipasang disana.

__ADS_1


................


__ADS_2