
Huh dimana aku? Lampunya terang sekali.
Eva mengerjapkan mata saat terbangun di sebuah ruangan dengan cahaya yang sangat terang. Ia mengamati sekitaran dan menemukan fakta bahwa ia sudah berada di dalam kamarnya sendiri. Seorang pelayan tak jauh darinya sedang membereskan beberapa cangkir kopi yang terlihat baru saja digunakan.
"Dimana Hietlar?" Ucap Eva sembari berusaha bersandar pada kepala ranjang.
"Nyonya sudah bangun? sebentar biar saya panggilkan dulu."
Pelayan tersebut beranjak meninggalkan pekerjaannya dan bergegas mencari orang yang ditanyakan Eva. Sementara Eva masih berusaha mengingat apa yang yang baru saja terjadi. Disamping itu rasa sakit dipunggung Eva juga belum menghilang, apalagi posisinya yang tidur menghadap ke atas mungkin saja membuat luka dipunggung nya kembali terbuka.
Apa yang aku lihat sebelumnya adalah benar atau hanya mimpi, rasanya ada yang sedikit janggal.
Tak lama Eva mendengar sepatu bot tentara menghentak lantai, berlari dengan cepat di lorong hingga bunyi nyaringnya menggema ke setiap sudut ruangan.
"Sayang! Sayang, kamu gakpapa kan?" Rupanya suara itu ditimbulkan oleh langkah kaki Hietlar. Ia memasang raut panik dan dengan gelisah menghampiri Eva.
"A-aku gakpapa...."
"Lagipula apa yang kamu lakukan di dalam kebun anggur? Orang rumah mengabari aku bahwa kamu ditemukan pingsan di sana, tanpa pikir panjang aku langsung bergegas pulang."
Eva bisa merasakan kekhawatiran dari ucapan dan gelagat Hietlar. lelaki tersebut benar benar terlihat sangat mencintai Eva hingga takut sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Namun disamping itu, Eva masih ragu untuk mengungkapkan apa yang baru saja ia temui.
"Aku hanya sedang menghirup udara segar, ntah kenapa tiba-tiba kepala aku pusing. Dan saat aku bangun sudah berada di kamar." Eva berdalih.
"Kenapa kamu harus pergi ke sana sendirian? Kan bisa bawa beberapa pelayan dan penjaga."
"Maaf, aku lebih suka ketenangan seorang diri." Timpal Eva seraya mengelus sebelah pipi lelaki dihadapannya tersebut.
"Hmm ya sudah lain kali kemanapun kamu pergi harus membawa penjaga, aku takut seseorang berbuat buruk kepada kamu, sayang."
"Iya, tenang lah aku percaya pada kamu." Eva meyakinkan.
Eva menatap lekat netra hitam pekat yang sedari tadi memandangi nya dengan iba. Betapa tulus dan hangatnya tatapan tersebut, Eva bahkan merasa tersentuh hingga mata nya mulai berkaca-kaca. Dicintai seseorang dengan sepenuh hati adalah anugerah terbesar manusia.
Aku harap cinta kamu tulus dan tidak di buat-buat. Aku siap menerima kenyataan pahit apapun yang kamu sembunyikan, selama kamu mau berterus terang, Hietlar.
Rangkaian monolog yang mulai terpatri itu Eva rangkum sebab keraguan nya pada Hietlar yang kian bertambah. Seandainya saja Hietlar mau berkata jujur tentang apa yang dia sembunyikan maka Eva akan menerima semuanya. Namun hingga detik ini, tidak ada tanda-tanda dari Hietlar yang ingin membicarakan sesuatu dengan nya.
__ADS_1
"Hmm, karena sudah begini kita undur saja berkunjung ke Munchen nya. Menunggu kamu merasa lebih baik saja." Celetuk Hietlar.
"Nggak-nggak, aku nggak papa. Besok aku udah sehat lagi kok." Tukas Eva.
"Hmm aku tahu kamu sangat merindukan keluarga kamu, tapi lihatlah kondisi kamu sendiri yang masih belum memungkinkan."
"Yang paling tahu kondisi aku yang diri aku sendiri, pokoknya besok harus tetap jadi ke Munchen, yaa...hmmm" Eva memelas.
Seketika senyum lebar menyeringai di wajah Hietlar. Ia sangat gemas dengan tindakan Eva. Kalau sudah seperti ini Hietlar pun sudah tidak bisa menolak lagi.
"Dasar ya! kamu selalu tahu cara meluluhkan aku." Cibir nya seraya mengulum bibir.
"Aku belajar dari kamu, hehe."
Eva meluk tangan Hietlar sembari bersandar di dada bidang lelaki tersebut. Pelukan orang terkasih adalah obat gratis paling ampuh di dunia. Eva sangat ingin terus seperti ini, namun pertanyaan pertanyaan mengenai kejadian sebelumnya masih menghantui pikiran perempuan tersebut.
"Hietlar, apa tidak ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku?"
"Apa yang ingin kamu dengar, sayang?"
"Hmm tidak ada, hanya bertanya saja."
Mungkin masalah yang Hietlar sembunyikan sangat rumit dan tidak mau melibatkan aku, makanya dia tidak bisa berterus terang.
"Eh iya ada sesuatu..."
"Apa?!" Eva dengan cepat menoleh.
"Tentang pernikahan kita, aku berencana mengadakan pernikahan bulan depan, bagaimanapun menurut kamu?"
Tidak sesuai dugaan.
"Aku sih ngikut kepala rumah tangga saja." Celetuk Eva sembari tersenyum nakal.
"Oh kepala keluarga ya, aku butuh bukti untuk mau mengakuinya." Ucap Hietlar seraya mendorong tubuh Eva ke kepala ranjang dan mulai meluncur aksi nya melahap perempuan tersebut dengan lahap.
----------------
__ADS_1
Keesokan harinya, cahaya mentari yang menyelinap dari balik jendela menyapa wajah Eva. Merasa terganggu, ia berbalik dan merasakan tubuh Hietlar masih ada di atas ranjang. Tidak seperti biasanya Hietlar masih tertidur jam segini.
Eva meraba tubuh kekar lelaki yang tengah tertidur pulas tanpa sehelai benangpun itu. Ia mengamati wajah Hietlar yang memiliki bentuk rahang tegas, mata setajam elang, serta kumis tipis pendek yang khas. Untuk sesaat Eva benar benar terpukau dengan ketampanan Hietlar yang nyaris sempurna.
Hep
Hietlar rupanya sudah terbangun sejak tadi saat merasakan sesuatu menggerayangi tubuhnya, yang tak lain adalah tangan Eva. Jelas Eva terperanjat kaget dan bangun dengan cepat. "K-kamu sudah bangun sejak kapan?"
"Sejak tangan nakal kamu meliar diatas tubuh aku."Suara berat Hietlar sangat nyaring,
"M-maaf, aku jadi membangunkan kamu."
"Huh kenapa aku malah bangun, harusnya membiarkan kamu menyentuh aku lebih dalam." Tukas Hietlar sembari menyeringai nakal.
"Otak mesum!"
Eva beranjak dari tempat tidur sembari menahan raut wajah yang merah merekah. Pagi pagi seperti ini ia sudah dibuat tersipu oleh perkataan Hietlar, benar benar memalukan.
"Nanti tolong minta pelayan bawakan obat oles ya, sayang." Celetuk Hietlar.
"Kenapa? kamu ada yang luka? bagian mana?"
"Hmm lihatlah, seseorang mencakar punggunga ku kemarin. Bekas nya mungkin sampai 2 cm." Ucap Hietlar seraya berbalik menunjukkan punggung mulusnya yang dipenuhi goresan kuku memanjang.
"Ntah siapa yang tega melakukan semua ini padaku." imbuhnya seraya tersenyum nakal.
Mata Eva membulat sempurna, kini wajahnya benar benar merah merekah . Ia berlari menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa, meninggalkan Hietlar yang malah terkekeh dengan tingkah menggemaskan Eva.
"Sayang, jangan lama-lama atau aku menyusul masuk!"
"Diam! otak mesum!" Sahut Eva dari dalam kamar mandi.
Hietlar tertawa sangat puas dengan jawaban dari Eva.
Sementara disisi lain, Eva menatap diri di depan cermin sembari membasuh wajah berulang kali. Ia mengingat kejadian kemarin yang benar benar cukup gila, liar dan mendebarkan.
Luka di punggung Hietlar itu benar benar aku pelakunya? Kalau begitu berarti aku lebih lair darinya?
__ADS_1
......................