Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
23. Segelas anggur


__ADS_3

"Hahh?!"


Eva menganga dari balik celah pintu, ia langsung menutup mulutnya rapat-rapat, matanya membulat sempurna disertai kedua kaki yang perlahan berjalan mundur. ia masih menatap lekat Hema yang tengah memangku seorang wanita diatas pahanya, mereka tengah beradu lidah dengan ganas hingga satu persatu pakaian mulai di tanggalkan ke sembarang arah.


Brukk


"KAKAK!" Lantangnya.


Eva reflek menendang pintu yang kemudian terbuka lebar menunjukkan keduanya tengah berada diatas ranjang langsung terperanjat bangun menutupi tubuh dengan selimut.


"Eva?! K-kami hanya-"


"Hanya apa? Aku tidak menyangka kalian akan melakukan hal seperti ini!" Eva memotong ucapan Ilse.


Tendangan Eva dan suara lantangnya menggema di keheningan rumah, membuat semua orang bangun. Termasuk orang tuanya yang tidur di lantai bawah terdengar keluar dan tengah bergegas menaiki anak tangga.


"Sayang apa yang terjadi?" Hietlar panik menghampirinya.


"Ada apa sih ribut-ribut!" Friedrich dan Franziska datang berbarengan.


"Cih! lihat perbuatan mereka!" Eva menunjuk kedalam kamar Ilse.


Hietlar, Friedrich dan Franziska yang berdiri di lorong serempak menoleh pada titik yang ditunjuk Eva. Dalam sekejap mereka menampilkan ekspresi yang sama dengan mata yang membulat sempurna nyaris keluar dari tempatnya.


Bagaimana mereka tidak terkejut, melihat Ilse tanpa sehelai benangpun duduk bersimbah selimut bersama Hema yang sama-sama tak berpakaian sama sekali. Apalagi mereka melakukan hal tersebut di dalam rumah, bagaimana jika Gerlt terbangun dan dia melihat adegan erotis mereka? benar-benar memalukan.


"KAKAK! APA-APAAN INI?! Sentak Friedrich.


Lelaki paruh baya itu nampak sangat murka, gigi nya menggertak dengan rahang yang menegas. ia mengusap rambutnya sembari menatap Hema dan Ilse dengan tajam.


"Bangun kamu bangun! pakai pakaian kamu!" Franziska lekas menghampiri Ilse dan mendorong nya masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian.


"Hema, apa-apaan ini berani sekali kamu menyentuh kakak ipar aku!" Tegas Hietlar.


"M-maaf tuan, s-saya khilaf. Nona Ilse yang menggoda saya lebih dulu-"


"DIAM! TIDAK TAHU MALU, SUDAH MENYENTUH PUTRIKU MALAH MENYALAHKAN DIRINYA!" lantang Friedrich.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" Cetus Eva.


"Sebelumnya aku merasa haus dan berniat mengambil air di dapur......" Hema mulai menceritakan kejadian beberapa saat lalu.


...----------------...


2 jam sebelumnya.


Beberapa saat sebelum tertidur, Hema melihat seisi kamar Ilse yang tertata rapi dengan foto-foto manisnya yang menggantung di setiap sudut ruangan. Ilse sendiri tidur di kamar Gerlt yang bersebrangan dengan kamarnya yang kini ditempati Hema.


Pandangan Hema yang masih memutar menyusuri ruangan berhenti saat melihat jam di nakas yang menunjukkan waktu sudah hampir larut, ia beranjak keatas ranjang dan merebahkan tubuh untuk beristirahat.


Namun tak lama ia terbangun saat merasakan tenggorokan nya kering, ia kembali mengenakan sendal dan beranjak turun menuju ke dapur. Di dalam dapur, tatapan Hema tertuju pada Ilse yang tengah duduk bersandar pada lemari sembari meneguk beberapa gelas anggur. Tatapannya nampak kosong dan suram, lantas Hema menghampiri gadis tersebut.


"Nona, tidak baik minum anggur terlalu banyak."


"Huh basi, aku ini setiap pulang kerja selalu minum anggur untuk meredakan stress pekerjaan. Lagi pula kamu sudah tahu betul kemampuan minumku seperti apa."


Meskipun mabuk, Ilse nampak masih bisa mengendalikan diri dan ucapan nya dengan baik. Mungkin persis karena seperti yang ia katakan, terlalu sering minum anggur jadi lebih kebal dan tidak mudah mabuk.


"Cih!" Ilse tersenyum nakal sembari menyodorkan gelas anggur.


Ilse menuang anggur sampai gelas mereka terisi penuh. keduanya bersulang dan meminum segelas anggur tersebut dalam sekali teguk. Mereka berulang kali melakukan hal sama hingga 3 botol anggur habis.


"N-nona, aku sudah cukup. A-aku ingin tidur dulu." Hema beranjak lekas pergi sebab tidak sanggup lagi minum.


Namun langkah nya terhenti saat Ilse meraih kaki Hema dan perlahan menjamahnya dengan nakal hingga ke inti Hema.


"Huh nona, tolong hentikan. I-ini tidak baik." Hema berusaha menepis tangan dan tubuh Ilse, namun gadis itu sangat bersikukuh hingga kini wajah mereka saling berhadapan dan hanya tersisa jarak beberapa senti saja.


"A-ayolah, aku rasa kamu penasaran dengan kenikmatan yang bisa aku berikan, aku juga penasaran dengan cara kamu membalasnya." Tatapan Ilse meliar nakal kearah bibir Hema.


Dalam sekejap gadis itu ******* bibir Hema dengan ganas dan liar, mendorong nya sampai ke ujung tembok. Hema berusaha melepaskan diri namun dirinya yang tengah mabuk juga malah ikut terbawa suasana. Ilse dan Hema pun terus beradu lidah sembari menaiki anak tangga, Silih ganti memimpin jalan menuju kamar namun dengan tubuh yang masih menyatu.


Hingga saat mereka sudah berada di puncak nafsu, tiba-tiba Eva datang dan mendobrak pintu dengan keras.


...----------------...

__ADS_1


"....Kira kira begitu ceritanya tuan, nyonya." Ujar Hema.


"Iya, yang dikatakan Hema memang benar! aku yang menggodanya lebih dulu!" Timpal Ilse seraya keluar dari kamar mandi.


Plakk


Sebuah tamparan keras melayang dari Franziska tepat mengenai pipi mulus Ilse hingga ia tersungkur ke lantai.


"Tidak tahu malu! apakah seperti ini cara kami mendidik kamu hah?!"


"Mah sabar mah." Eva berusaha melerai.


Disisi lain Hietlar menatap Hema dengan tajam, Hema sendiri hanya berani menatap sekilas kemudian kembali tertunduk dengan raut wajah penyesalan. Begitu juga Friedrich, ia sudah kehabisan kata-kata hingga hanya perlahan berjalan mundur bersandar pada tembok dengan tatapan kosong.


"Aku sudah dewasa mah, aku bisa memutuskan keinginan aku sendiri." Sahut Ilse berkaca-kaca.


"Oh sudah merasa paling dewasa?! Orang dewasa tidak akan mudah ceroboh seperti kamu!" Sentak Franziska.


"Terserah kalian saja, mama sudah tidak habis pikir dengan kalian!"


Dengan amarah dan rasa kecewa yang kentara, Franziska berlalu menuruni anak tangga dan meninggalkan kamar Ilse. Begitu juga Friedrich, sebelum mengikuti sang istri ke kamarnya ia sempat berkata "Hema, Keluar dari rumah ini sekarang! Aku tidak ingin melihat wajahmu dirumah ini lagi!"


Hema, Ilse, Eva dan Hietlar memandangi punggung Friedrich yang beranjak menjauh. Mereka semua nampak gelisah dan khawatir dengan tindakan yang dilakukan oleh Friedrich dan Franziska.


"Hietlar, aku serahkan saja pada kamu. Aku lelah..." Eva juga beranjak dari kamar Ilse.


"Iya sayang, sana tidur duluan."


Seperginya Eva dari kamar Ilse kini suasana terasa sangat dingin dan mencekam, Hietlar duduk di kursi samping ranjang sembari bersilang kaki Sementara Hema dan Ilse mulai bercucuran keringat dingin menatap tingkah Hietlar yang diam-diam menghanyutkan.


"Kak, aku tahu sejak awal kamu sudah tahu siapa aku. Dan aku sangat berterimakasih sampai hari ini kamu mau menyembunyikan identitas aku yang sebenarnya." Celetuk Hietlar.


"I-iya tuan, aku mohon izinkan kami bersama. Kami sudah lama saling mencintai, bahkan jauh sebelum kampanye tahun itu." Lirih Ilse.


"Baiklah, aku bisa membujuk mama dan papa mertua agar merestui hubungan kalian. Namun syaratnya kamu harus menutupi identitas asli ku sampai waktu yang tepat tiba. Bagaimana?" Hietlar tersenyum licik.


......................

__ADS_1


__ADS_2