Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
09. Keraguan


__ADS_3

Eva termangu mendengar penuturan Gerlt. Percaya tidak percaya namun Eva sangat mengenal sifat adiknya tersebut yang jujur dan terus terang. Apalagi usianya yang terbilang masih sangat muda dan mustahil mengerti cara memanipulasi cerita.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu dengar, Gerlt?" Eva masih ragu.


"Iya kakak, memang itu yang Gerlt dengar."


Untuk sesaat tatapan Eva menjadi kosong. Bukan tanpa sebab tetapi memang keraguan terhadap Hietlar tengah menjalar di benaknya.


Apakah Tuan Hietlar memang sudah memiliki isteri? Lebih baik aku tanyakan langsung saja sebelum memutuskan untuk berangkat ke Berlin.


Tak mau terlalu lama larut dalam monolog nya sendiri, Eva beranjak dari kamar Gerlt dan bergegas turun ke lantai 1 menyambangi ruang tamu yang hening karena tak ada yang memulai pembicaraan.


"Tuan aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, bisakah kita bicara sebentar?" Ucapan Eva memecah keheningan.


Hietlar langsung menoleh pada sumber suara. Ia mengangguk dan beranjak menghampiri Eva. Pun Eva langsung menaruh tas ranselnya di meja dan menuntun Hietlar menuju ke dapur.


Tentu saja Friedrich, Ilse dan Powll hanya bisa diam memandangi punggung mereka yang menjauh sebelum ruangan kembali hening.


Disisi lain Eva malah menatap lekat netra hitam pekat lelaki jangkung dengan kumis pendek dihadapannya tersebut, sebab untuk sesaat Eva sempat ragu bertanya.


"Kenapa, Eva?" Hietlar melembutkan suara.


"T-tuan, sebelum aku memutuskan pergi bersama kamu atau tidak. Aku ingin menanyakan sesuatu."


"Tanyakan saja, tidak masalah."


Eva sempat melirik kearah ruang tamu tempat kakak dan ayahnya berada, ia hanya ingin memastikan mereka tidak bisa mendengar percakapannya dengan Hietlar.


Setelah dirasa cukup aman, Eva kembali fokus menatap Hietlar yang nampak kebingungan dengan gelagatnya.


"Apakah tuan sudah memiliki isteri?" Eva sedikit ragu.


Hietlar mengangkat satu alisnya. "Dari mana kamu mendengar hal seperti itu?"


"Gerlt tidak sengaja mendengar percakapan antara Pak Henrich dan istrinya kemarin. Karena aku juga penasaran jadi aku memutuskan untuk langsung bertanya saja." Ujar Eva.


Hietlar terdiam, ia tak menggubris penjelasan Eva sama sekali. Seolah tengah memikirkan sesuatu hingga lelaki itu cukup lama berfikir.

__ADS_1


"Tuan? apakah benar apa yang dikatakan oleh Gerlt? A-aku tidak bisa ikut dengan kamu jika kamu sudah memiliki isteri, bagaimanapun aku tidak sudi menjadi perusak rumah tangga orang lain." Lirih Eva.


"Apa yang kamu bicarakan Eva, bisa saja Gerlt salah dengar. Apakah kamu tidak percaya dengan aku?" Cetus Hietlar.


"Sekarang kamu bayangkan jika aku sudah memiliki isteri apa aku akan tetap melamar mu? dan lihat lah powll, adikku itu pasti tidak akan setuju." Sambungnya.


Eva terdiam, ia sebenarnya ragu ragu yakin dengan penjelasan Hietlar.


Mungkin karena pengaruh dari kisah Ilse yang bercerai dengan suaminya karena hadirnya orang ketiga di hubungan harmonis mereka, sebab dari sinilah Eva merasa takut akan menjadi seperti itu.


Sementara itu, Hietlar memegang kedua pundak Eva yang tengah larut dalam pikirannya sendiri. "Kenapa masih diam? kamu tidak percaya dengan aku?"


"Baiklah akan aku buktikan jika kamu masih ragu. Jika kenyataanya aku masih sendiri, maka kamu harus ikut dengan aku ke Berlin." Sambungnya seraya tersenyum miring.


Eva mengangguk kecil.


Lelaki itu langsung meraih tangan Eva dan membawanya kembali ke ruang tamu. Tentunya tatapan semua orang kembali tertuju pada dua pasangan yang tengah bergandengan tangan tersebut.


"Powll, apakah kamu membawa kartu keluarga aku?"


"Ada kak di bagasi kak, kenapa?"


Powll mengangguk paham, perempuan berusia 27 tahun itu berjalan dengan cepat menuju mobil untuk mengambil benda yang diperlukan tersebut. Tak lama ia kembali dengan selembar kertas berwarna kuning kecoklatan dan langsung menyerahkannya pada Hietlar.


"Lihatlah, ini kartu keluarga ku masih kosong. Baik isteri ataupun anak aku tidak memiliki keduanya." Ujar Hietlar.


Eva meraih kertas tersebut dan mengamati nya dengan seksama dan memang benar Hietlar masih melajang sampai sekarang.


Hal ini langsung mengukir senyum lebar yang terpatri di wajah cantiknya.


Begitu juga Ilse dan Friedrich yang ikut bernafas lega dengan kebenaran tersebut. Setidaknya makin kesini mereka semakin mengetahui bahwa Hietlar adalah lelaki berprilaku sopan dan berasal dari keluarga baik-baik.


"Ayo Eva, kamu harus menepati janjimu."


Eva pun tersenyum lebar diiringi anggukan kecil pertanda bahwa ia bersedia ikut bersama Hietlar ke Berlin.


Dengan senyum lebar terpancar menunjukkan deretan gigi nya yang putih berseri Lelaki itu bergegas mengambil tas ransel yang Eva tinggalkan diatas meja dan pergi untuk menaruhnya di mobil.

__ADS_1


"Ayah, kakak. Eva pamit dulu ya. Eva janji akan sering berkunjung ke Munchen." Ucap Eva seraya berpelukan dengan ayah dan kakaknya tersebut.


"Sering sering pulang ya, kakak dan Gerlt akan sangat merindukanmu." Ilse berkaca kaca dalam dekapan Eva.


"Iya tuh, jaga diri di sana. Jika terjadi sesuatu langsung kabari saja kami." Lirih Friedrich.


Dengan mata berkaca kaca Eva hanya mengangguk menanggapi pesan dari Friedrich dan Ilse. Ia benar benar tidak menyangka akan meninggalkan rumah ini dan orang orang di dalamnya dengan tiba tiba.


"Tuan ini adalah nomor saya di Berlin. Jika ingin menghubungi Eva bisa menelepon lewat nomor ini." Hietlar menyerahkan selembar kertas kepada Friedrich.


"Hm iya. Tolong jaga putri ku, sejak kecil aku memanjakan nya jadi bila dia melakukan kesalahan tolong di tegur dengan baik. Aku juga tidak akan diam saja bila putriku diperlakukan dengan buruk." Tegas Friedrich.


Hietlar, Eva dan Powll hanya terkekeh menanggapi ucapan Friedrich. "Tentu saja tuan, percayakan saja semuanya kepadaku."


Kini, Eva, Hietlar dan Powll telah berada di dalam mobil dan bersiap untuk berangkat. Mereka sempat melambaikan tangan kearah Friedrich dan Ilse yang mengantar kepergian mereka dengan lambaian tangan dan senyum lebar.


Setelah ayah dan kakaknya tak terlihat oleh jangkauan mata lagi, Eva duduk bersandar seraya menatap lingkungan sekitar yang mungkin akan sangat ia rindukan nantinya. Namun Eva juga menatap Hietlar yang fokus mengendalikan stir mobil, lelaki itu beberapa kali membalas tatapan Eva dengan senyuman.


Semenjak detik ini, Eva memutuskan untuk menjadi pasangan yang baik dan selalu ada disamping Hietlar dalam menjalani pahit manisnya hidup.


"Terimakasih Eva, sudah bersedia ikut dengan aku. Aku berjanji akan membahagiakan kamu." Ucapan Hietlar semakin menambah kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Eva.


"Aku percaya padamu, Hietlar."


Ini adalah kali pertama Eva memanggil Hietlar dengan nama aslinya, Jelas saja Hietlar dan Powll dibuat terkekeh dan tak bisa menahan gelak tawa.


"Hahah kamu tidak cocok memanggil nama aku secara langsung seperti itu, bagaimana jika kamu memanggil aku darling saja." Celetuk Hietlar.


"Malas, panggilan darling terlalu muda untuk kamu."


Jawaban Eva ditanggapi dengan gelak tawa seisi mobil, kecuali Hietlar tentunya yang malah memutar bola mata kesal seraya mengulum bibir.


"Haha lucu sekali!" Ketus Powll, ia menunjukkan eksistensi nua yang merasa bagaikan obat nyamuk didalam mobil.


"Oh iya Eva, di Berlin aku akan mengajarkan kebiasaan kakak saat di muka publik. Ia adalah tokoh penting yang cukup berbahaya bila berkeliaran di tempat umum seorang diri." Sambungnya.


"Diam Powll! kita bicarakan itu nanti saja!" Sentak Hietlar.

__ADS_1


Ntah mengapa tetapi raut wajah Hietlar berubah drastis, bahkan suaranya juga meninggi.


................


__ADS_2