
Waktu berjalan dengan cepat, kini hari sudah berganti malam. Philip menggunakan pakaian sederhana dan berpenampilan seperti rakyat biasa menyambangi kediaman keluarga Braun. Namun setelah sampai, Philip malah termangu beberapa saat sebelum mengetuk pintu.
Cklek (Tiba-tiba pintu terbuka)
"E-eh? Philip??!" Seloroh Franziska yang hendak membuang sampah malah mendapati Philip berdiri diambang pintu.
"Bibi, lama tidak ber-"
"Yaampun!! lihat, kamu sudah sangat besar dan semakin tampan sekarang. Mari masuk nak." Franziska sontak menjatuhkan keresek sampah ditangannya dan memeluk Philip sekilas.
"I-iya, terimakasih bi."
Philip masuk kedalam rumah langsung disambut dengan senyum lebar dari Friedrich yang tengah duduk santai di sofa. Pria paruh baya itu berdiri dengan mata berbinar menelisik ujung kaki hingga ujung rambut orang yang datang bertamu ke rumahnya tersebut.
"Ini?....Philip?" Celetuk Friedrich.
"Iya paman, lama tidak bertemu bagaimana kabar paman dan bibi?" Sapa Philip sopan.
"Kami baik, kami baik! duduk nak, sudah lama tidak bertemu ntah bagaimana kehidupan kamu di Hannover?" Seloroh Freidrich.
"Baik paman, hanya kadang-kadang suka merindukan masakan bibi saja, hehe." Sahut Philip seraya duduk di sofa.
"Hmm kamu memang masih sama seperti dulu, bermulut manis. Tenang, karena kamu sudah berkunjung hari ini akan bibi buatkan masakan kesukaan kamu!"
Celotehan Franziska langsung mengundang gelak tawa dari Friedrich dan Philip. Mereka hampir 3 tahun tidak bertemu namun tetap bisa mengobrol santai seperti ini bahkan sudah seperti keluarga, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah atau keluarga jauh sama sekali. Bisa dibilang terjalin sebab hubungan tetangga yang sangat akrab saja.
"H-haha, Ini sudah larut bibi, aku juga mampir sebentar hanya untuk menyapa kalian saja."
"Hmm? kenapa sangat buru-buru nak?" Sahut Franziska.
"Sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua." Ucap Philip dengan serius.
"Hmm, baiklah sebentar. Eva, Ilse!! Cepat turun, lihat siapa yang datang!" Teriak Friedrich.
"Pah! Eva belum pulang, sepertinya masih sama Hietlar." Bisik Franziska.
"Ohhh....Philip, Eva belum pulang sepertinya masih ada urusan." Ucap Friedrich.
"Kalau Ilse?"
"D-dia......"
__ADS_1
Friedrich tak berani melanjutkan ucapannya, ia melirik Franziska yang menunjukkan raut wajah masam saat mendengar nama Ilse disebut. Masalah internal yang terjadi belum lama dalam keluarga mereka saat ini rupanya masih mengganjal dalam hati Franziska, ia benar-benar masih kecewa dengan perbuatan putri sulungnya tersebut.
"Huaaa.....Kenapa pah? larut malam gini teriak-teriak." Celetuk Ilse seraya menguap dan berjalan menuruni anak tangga.
Tatapan matanya langsung cling berkilau membulat sempurna saat melihat seorang pria yang tidak asing duduk di sofa sembari mengukir senyum lebar.
"Philip? Kamu apa kabar hey, aku kira kita tidak akan pernah bertemu lagi." Ucap Ilse seraya berjalan mendekat dan mendekap Philip sekilas.
"Ilse bagaimana kabarmu, aku baik-baik saja. Mustahil kalau aku tidak akan datang lagi ke Munchen, disini kan ada Eva dan kalian." Sahut Philip.
Ucapan Philip ditanggapi dengan senyuman lebar. Kini mereka berempat duduk di sofa dengan tenang sembari saling bertatapan bahagia satu sama lain, kecuali Franziska tentunya. Ia masih menaruh kecewa pada Ilse hingga mengabaikan tatapan ilse dan hanya tersenyum pada Philip.
"Kamu pindah kesini untuk waktu lama atau karena dinas kantor lagi, nak?" Seloroh Friedrich.
"Yah mungkin tidak terlalu lama. Kali ini aku juga tidak tinggal dirumah sebrang soalnya sudah nyewa villa kecil diujung distrik. Toh pulang kali ini hanya untuk liburan saja."
"Hmm pasti melelahkan ya jadi anak tunggal, apalagi kamu harus bekerja kesana kesini demi menghidupi ayah kamu yang sakit-sakitan. Kalau kamu butuh sesuatu, jangan ragu untuk meminta bantuan pada kami ya?!" Ucap Franziska dengan iba.
"Mau bagaimana lagi Paman, Bibi. Pekerja sipil seperti kami hanya bisa bertahan hidup dengan mengikuti aturan pemerintah. Pindah-pindah kota demi menjalankan tugas sudah biasa, yang penting bisa menghasilkan uang dan melanjutkan hidup, hehe." Philip tersenyum canggung.
Maaf paman, bibi, Ilse. aku belum bisa memberitahukan identitas aku yang sebenarnya.
Ucapan Franziska bagaikan garam yang ditabur diatas luka basah yang masih menganga, pedih dan menyakinkan bagi Ilse. Gadis itu sedari tadi hanya bisa tertunduk lesu nggan menggubris perbincangan mereka.
"Bibi kan ada Eva, Ilse dan Gerlt. Mereka semua sangat baik, aku yakin masa tua bibi akan bahagia."
Franziska, Friedrich dan Ilse hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Philip. Pada kenyataannya sendiri memang berbanding terbalik dengan apa yang Philip ucapan.
"Oh iya Philip, sebelumnya kamu bilang ada yang ingin disampaikan pada kami?" Friedrich mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya ini menyangkut Eva..."
"Kenapa dengan Eva?" Seloroh Franziska.
"Ohh iya, kami lupa memberitahu kamu bahwa Eva dan Ilse akan segera menikah." Celetuk Friedrich.
"Apa? dengan siapa mereka akan menikah?"
"Eva akan menikah dengan Hietlar, seorang pemimpin dewan negara. Orangnya sangat baik, ramah, tampan, perhatian dan sangat sempurna. Dia mengirimkan banyak mahar bahkan memberikan kami €150.000 untuk membangun rumah baru-"
"Mah cukup." Bisik Friedrich memotong cerita Franziska.
__ADS_1
Bisa-bisanya pria bajingan itu mengaku sebagai pimpinan dewan negara! jelas-jelas dia pimpinan partai yang kejam! ntah dia punya niat apa terhadap keluarga Braun, aku harus segera menyelesaikan semua ini! (Batin Philip)
"Ohh, lalu Ilse dengan siapa?"
"Hmm, Ilse akan menikah dengan asisten pribadi nya Hietlar." Sahut Friedrich.
"Hah? kenapa jadi dengan asisten pribadinya?"
"C-ceritanya cukup panjang jadi....." Friedrich tidak melanjutkan ucapannya.
Philip langsung paham ada yang tidak beres dengan keluarga mereka saat melihat raut wajah Friedrich, Franziska dan Ilse yang langsung berubah drastis ketika mengungkit masalah pernikahan Ilse.
"Mmm ya sudahlah, kita bahas pernikahan nanti saja. Hari ini aku datang untuk mengabarkan bahwa Eva menitipkan surat ini kepadaku sebelum dia berangkat ke Hannover sore tadi." Ucap Philip seraya menyodorkan selembar kertas dari dalam saku jasnya.
"Apa? pergi ke Hannover?! kenapa tiba-tiba sekali?! Apa Hietlar tahu kepergiannya?" Franziska mulai gelisah.
"Justru itu Bibi. Eva terpaksa pergi ke Hannover untuk menghindari Hietlar selama beberapa waktu. Sepertinya mereka sedang bertengkar hebat dan nggan pulang karena takut kalian berpikiran buruk. Jadi Eva menitipkan surat ini sekaligus dia berkata untuk tidak memberitahukan keberadaannya dulu pada Hietlar. " Ujar Philip serius.
"Apa sebenarnya masalah mereka? padahal masih bisa dibicarakan baik-baik kenapa harus tiba-tiba pergi jauh!" Ketus Friedrich.
"Aku juga tidak tahu, hanya saja kondisi Eva cukup memperihatinkan. Takutnya Hietlar berprilaku kasar padanya jadi....."
"Huh apalagi yang terjadi ini?!" Franziska hanya bisa menggerutu dan mendengus kasar.
"Tuan Hietlar terlihat memperlakukan Eva dengan sangat baik, mana mungkin dia berani main tangan. Pasti ada kesalahpahaman." Tukas Ilse.
"Aku juga tidak tahu, hanya saja Eva benar-benar memohon padaku untuk meminta kalian merahasiakan keberadaannya saat ini dari Hietlar." Ucap Philip dengan pelan namun penuh penekanan.
Ning
Nong
(Bel rumah berbunyi)
Perbincangan serius berhenti sejenak. Mereka berempat sontak mengalihkan pandangan kearah pintu rumah yang sepertinya kedatangan tamu. Ilse beranjak dari sofa dan berjalan menyambangi pintu.
Cklek
"Hietlar, Hema. Kenapa larut malam begini baru pulang?" Celetuk Ilse.
......................
__ADS_1