Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
07. Kencan pertama


__ADS_3

Eva hanya tersenyum tipis dan menanggapi ucapan Hietlar dengan anggukan. Setelah itu ia memilih memalingkan wajahnya ke luar jendela dan bermonolog di relung dada.


Siapa orang yang akan dikenalkan Tuan Hietlar? Apakah dia istrinya? Bodoh sekali aku, melihat dari usianya mungkin saja dia sudah menikah bahkan sudah memiliki anak.


Eva dibuat galau dengan pikirannya sendiri.


Disisi lain Hietlar menyalakan mesin mobil dan melaju dengan cepat menuju ke Park English sesuai janji. Di perjalanan keduanya diam. Sama sama sibuk dengan pikiran masing masing.


"Siapa sebenarnya yang akan Tuan kenalkan padaku? apakah dia seorang perempuan?" Pada akhirnya Eva tak kuasa menahan semua pertanyaan ini.


"Iya dia seorang perempuan. Tunggu lah sebentar lagi kita sampai." Ucap Hietlar seraya tersenyum tipis.


Eva menelisik mimik wajah lelaki yang tengah sibuk mengendalikan setir mobil itu, nampak berseri dan terus menerus tersenyum. Raut wajah Hietlar ini semakin menambah yakin kecurigaan Eva.


Tak lama keduanya sampai di tepi sebuah danau kecil yang dikelilingi rumput hijau. Banyak keluarga kecil yang piknik untuk sekedar makan makan dan berjemur dibawah terik matahari.


"Ayo turun, Eva. kita sudah sampai."


Eva pun turun dari mobil. Perlakuan-perlakuan kecil seperti membukakan pintu mobil dan menggenggam tangan saat kemanapun adalah hal yang membuat Eva semakin jatuh cinta dengan Hietlar.


Dalam sekejap rasa galaunya berubah menjadi kembali ceria.


Gadis itu bahkan tak bisa memalingkan pandangannya dari lelaki jangkung yang tinggi Eva hanya sampai sedadanya itu. Eva menelisik pandangan Hietlar yang tengah mengamati sekitaran mencari sosok perempuan yang akan dia kenalkan pada Eva.


"Itu dia di sana, mari." Ucap Hietlar seraya berjalan menghampiri perempuan yang tengah melambaikan tangan di sebrang park.


Perempuan yang sepertinya seumuran dengan Ilse-kakak Eva, itu terlihat sangat cantik dan anggun dalam balutan blezzer biru dongker disertai dress pensil senada. Senyumnya sangat lembut dan berkarisma, hampir saja Eve dibuat terkesima dengan ciptaan tuhan yang satu ini.


Disisi lain melihat perempuan itu melambaikan tangan, Hietlar segera berlari dan memeluknya. sontak aksi Hietlar itu sempat menuai pikiran negatif di benak Eva.


Dengan perasaan yang hampir hancur gadis itu hendak berbalik dan meninggalkan park.


"Eva, sini! Sapa Adik ku!" Ucap Hietlar.


Eva kembali mengangkat kepalanya dengan semangat seraya mata berbinar. Bagaimana Eva bisa tidak kepikiran kalau Hietlar pasti memiliki saudari. Dengan gesit Eva menghampiri dua kakak beradik tersebut.


"Pagi Kak, Namaku Eva Braun. panggil saja Eva." Ucap Eva seraya mengulurkan tangannya.


"Pagi Eva. Namaku Paula Hietlar. Samakan saja panggilan mu dengan panggilan Hietlar, Powll." Sahut Powll diiringi gelak tawa dirinya dan Hietlar.

__ADS_1


"Hehe, baik kak Powll."


"Wah lihat lihat kakak,, gadis ini lebih cantik dan lebih muda dari yang Kamu bicarakan kemarin malam." Ucap Powll seraya mengitari Eva dan mulai menelisik ujung kaki hingga ujung rambut.


"Berapa usiamu, Eva?" Sambungnya.


"Tahun ini 17 tahun, kak."


"APAA! Wahhh....Hebat kak hebat, Kamu dapat gadis yang umurnya bahkan lebih muda dari powll." Sahut Powll seraya bertepuk tangan.


Eva dan Hietlar hanya bisa tersipu dan bertatapan satu sama lain dengan canggung.


"Huss kan belum resmi." Bisik Hietlar diiringi gelak tawa Powll.


Disisi lain Eva sedikit lega. Rupanya Hietlar memiliki saudari yang asik diajak bercanda dan mereka sepertinya berasal dari keluarga baik baik.


Saa ini ketiganya duduk diatas sebuah gelaran karpet, menyaksikan teriknya matahari dan bocah kecil yang brlarian kesana kemari. Ini adalah sebuah pemandangan yang jarang ditemui setelah berakhirnya perang dunia I.


"Malam ini aku akan pulang ke Berlin, apakah Kamu bersedia ikut?" Celetuk Hietlar.


"M-malam ini?! dadakan sekali, bagaimana aku bisa mendapatkan izin dari orang tua."


"Aku akan bicara langsung pada orang tua mu pulang dari sini. Jika Kamu bersedia ikut, aku akan menikahi mu di Berlin." Ujar Hietlar.


Lagi, Eva hanya bisa menganga. Siapa sangka Hietlar tidak mengajaknya berpacaran terlebih dahulu, melainkan langsung mengajak nikah.


Apa yang harus aku katakan, Tuan Hietlar Sepertinya serius padaku. Tapi bagaimana dengan keluarga ku, aku belum siap berpisah jauh dari mereka.


"Tenang Eva, kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu. Namun jika besok kamu tidak ikut bersama kami, mungkin kamu harus menunggu kami beberapa tahun lagi untuk bertemu kembali." Timpal Powll.


"Kenapa kalian tidak akan datang lagi kesini dalam jangka waktu yang cukup lama?" Ucap Eva.


"Kak Hietlar adalah seorang anggota dewan, kami sekeluarga tinggal di Berlin. Alasan kami datang ke Munchen pun hanya ingin mencari fotografer pribadi untuk kakak." Ujar Powll.


Eva mengangguk paham sekarang ia tahu bahwa pekerjaan Hietlar adalah sebagai seorang anggota dewan yang tentunya salah satu orang penting bagi negara. Eva pastinya tidak bisa memaksa Hietlar untuk tetap tinggal di Munchen.


Untuk sekejap, Eva terdiam dan memikirkan langkah terbaik yang bisa ia ambil.


"Aku.......akan ikut bersama kalian ke Berlin."

__ADS_1


"Benarkah?" Wajah Hietlar nampak berseri dengan senyum lebar yang terpatri di wajahnya.


"Akan ku pastikan keluarga mu menerima hubungan kita." imbuhnya seraya mengangkat tubuh Eva dan berputar ria tanpa arah.


Keduanya larut dalam kebahagiaan masing masing. kebahagiaan yang tak disangka datangnya hanya dalam sehari semalam. Pun Powll, hanya bisa ikut berbahagia melihat raut wajah kakak nya yang sumringah.


----------------


Ning


Ning


"Iya sebentar." Sahut orang dari dalam rumah Braun.


"Siapa-" Franziska termangu sejenak, wajah wajah tak asing itu tersenyum menyapanya diambang pintu.


"Oh kalian, ayo masuk." Ucap Franziska seraya melipir.


Eva, Hietlar dan Powll masuk kedalam rumah di giring oleh Franziska. Ditengah rumah, seperti biasa terlihat Friedrich yang tengah membaca koran, Gerlt menonton TV dan Ilse yang tengah memasak di dapur. Suasana keluarga yang sangat hangat.


"Silahkan duduk tuan." Ucap Franziska seraya mempersilahkan Hietlar duduk.


Friedrich yang kaget tiba tiba kedatangan tamu segera menaruh koran dan merapikan pakaiannya. "Kakak, bawakan dua cangkir teh untuk tamu!"


"Terimakasih tuan." Ucap Hietlar.


"Waduh Tuan Hietlar ini ada perlu apa yah, tiba tiba sudah ada di dalam rumah saya lagi, hehe." Gurau Friedrich.


"Haha, mampir sebentar tuan. Oiya, ini adik saya, Paula Hietlar tuan." Sahut Hietlar.


Ucapan Hietlar tersebut ditanggapi dengan anggukan dan senyum lebar dari Friedrich, Franziska, Gerlt dan Eva yang kini duduk di sofa menyambut tamu nya datang.


"Silahkan di minum tuan." Ucap Ilse seraya menaruh teh di depan Hietlar dan Powll.


"Sebenarnya kedatangan saya kesini ingin melamar Eva, tuan, Sekaligus membawanya ke rumah saya di Berlin, Malam ini." Celetuk Hietlar.


"APA?!" Seluruh anggota keluarga Braun terperanjat kaget mendengar pernyataan Hietlar yang tanpa beban.


................

__ADS_1


__ADS_2