Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
18. Koper misterius


__ADS_3

Menyimpang dari kejadian tadi pagi yang cukup membuat Eva tersipu, kini dirinya dan Hietlar sudah berdiri dengan pakaian rapi di lantai satu ditemani oleh Hema yang tengah mengabsen barang barang bawaan. Para pelayan nampak berlalu lalang memindahkan koper koper kedalam bagasi mobil yang ntah isinya apa saja untuk di bawa ke Munchen.


"Apa semua yang aku minta sudah kamu siapkan, Hema?" Seloroh Hietlar.


"Sudah tuan, semuanya sudah aman." Sahut Hema.


Kedua orang tersebut selalu berbicara dengan kontak mata yang aneh. Penekanan kata yang terdengar ribuan makna padahal yang mereka ucapkan hanyalah kata kata biasa semata. Namun Eva berusaha memahami sikap mereka yang merupakan pilar negara, pastinya memiliki isyarat dan cara berbicara nya masing masing dalam berbincang.


"Kenapa bawa banyak sekali barang, bukan nya kita di Munchen hanya tiga hari?" Eva mengeriyatkan dahi.


"Ini semua adalah mahar untuk keluarga kamu, Sayang." Celetuk Hietlar.


"Hah serius? Sebanyak ini?!"


Mata Eva membulat sempurna, ia terus menghitung jumlah koper yang tak habis-habisnya masuk kedalam bagasi mobil, bahkan Hietlar sampai menggunakan 6 mobil untuk menampung semua koper koper tersebut.


Untuk sesaat Eva mengingat seluruh pelayan pulang pergi mengantar kan sebuah paperbag besar setiap satu jam sekali kedalam ruang kerja Hietlar yang ada di ujung lorong itu, namun setiap kali Eva ingin bertanya pelayan pelayan itu seolah menghindar dengan cepat. meskipun Hietlar berniat memberi mahar dan hadiah sebagai kejutan harusnya ia bertanya pada Eva mengenai budaya keluarganya, namun ini tidak.


Ada yang gak beres sama koper koper ini!


"Tentu saja, aku harus menunjukkan pada keluarga kamu bahwa aku adalah lelaki yang mapan dan mampu menghidupi kamu dengan layak." Hietlar tersenyum tipis.


"Hmm iya aku paham maksud kamu, tapi ini terlalu banyak....rumah aku mungkin akan kekurangan tempat untuk menampung semua ini."


"Tenang saja sayang, ini tidak semuanya berisi barang-barang yang akan aku berikan pada keluarga Braun. Ada beberapa koper yang akan aku turunkan di sebuah panti asuhan."


"Memang isinya apa?"


"Isinya hanya pakaian bekas dan mainan mainan lama yang akan aku sumbangkan."


Eva mengangguk paham, untuk saat ini ia memilih pura pura mengerti dan memantau semuanya dari jauh. Eva tidak mau berprasangka buruk dulu terhadap Hietlar, bagaimanapun ia sudah memperlakukan Eva dengan sangat baik.

__ADS_1


"Oh iya dalam perjalanan kali ini Hema akan ikut bersama kita." Imbuhnya.


"Baguslah semakin ramai semakin bagus." Ucap Eva diiringi senyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri. Sementara Hietlar hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Eva.


Disamping itu para pelayan masih sibuk bergotong royong memasukkan koper-koper besar dan berat tersebut kedalam bagasi. Kecurigaan tetaplah kecurigaan, susah dihilangkan dan sulit dipertahankan. Hal ini menyebabkan Eva berjalan mendekat pada salah satu mobil dan hendak membuka salah satu koper tersebut.


"Sayang apa yang akan kamu lakukan?" Celetuk Hietlar.


"Aku hanya ingin melihat isi nya sebentar, ntah barang mewah seperti apa yang telah dipersiapkan calon suami aku ini." Eva berdalih.


Hietlar pun tak menggubris pernyataan Eva, ia membiarkan gadis tersebut beranjak dan membuka salah satu koper berwarna coklat tua dan terlihat sangat penuh tersebut. Eva perlahan membuka resleting koper sembari berdoa semoga semua prasangka buruknya hanyalah prasangka semata.


Ternyata benar isinya hanya pakaian, seprei, dan beberapa kain polos, aku terlalu berpikir berlebihan huh.....


Monolog Eva sembari menyingkap kain kain yang bertumpuk padat dalam koper tersebut dengan cepat


Eh....ini?? Apa ini?! Tenang Eva, anggap saja tidak pernah melihatnya dulu....huh huh.


Mata Eva membulat sempurna saat melihat hal yang tak terduga didalam koper tersebut. Ia berusaha mengatur nafas dan menetralkan pikiran kemudian menutup koper dengan cepat. Setelah itu Eva berusaha mengalihkan pembicaraan


"Kamu sangat tidak sabaran, sayang." Ucap Hietlar seraya mengelus lembut rambut perempuan tersebut.


"Powll! Angela!! Geli!! Kami akan berangkat sekarang!" Lantang Hietlar.


Tak lama ketiga orang tersebut keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga untuk sekedar berpamitan dengan Hietlar dan Eva. Dapat dilihat dengan jelas bahwa kondisi Geli terlihat jauh lebih baik dan suasana hati Angela juga tidak sedang buruk.


"Hati-hati di jalan ya kakak, kakak ipar. Kabari kami kalau kalian sudah sampai dengan selamat." Ucap Powll seraya memeluk Hietlar dan Eva bergantian.


Begitu juga Angela dan Geli. Ibu dan anak ini hanya silih berganti memeluk Hietlar dan eva tanpa mengatakan sepatah kata pun. Baru saat Hietlar melemparkan tatapan tajam nya kedua orang itu mau bergeming.


"K-kakak ipar, kakak semoga kalian sampai dengan selamat." Ucap Angela dengan raut wajah kusut.

__ADS_1


"Iya paman, bibi." Timpal Geli.


"Tuan, semuanya sudah siap. Mari berangkat." Tukas Hema.


"Baiklah sampai jumpa lagi, Powll awasi Angela dan geli jangan biarkan mereka melakukan hal hal aneh selam aku tidak ada." Tegas Hietlar.


"Baik, kakak."


Hietlar, Eva dan Hema pun bergegas masuk kedalam mobil. Kali ini Hema menyetir sementara Hietlar dan Eva duduk di kursi belakang dengan santai. Saat mesin dinyalakan, Eva dan Hietlar melambai dari dalam kaca mobil, disambut senyum hangat dan lambaian tangan dari Powll, Angela dan Geli.


Namun disamping itu semua, tatapan Eva beredar ke mobil mobil di belakangnya yang ditumpangi banyak penjaga rumah. Rasa penasaran eva kembali bermunculan melanglang buana di dalam benaknya.


"Hietlar, bukanya hanya dinas partai biasa? Kenapa sampai membawa banyak penjaga seperti ini?" Celetuk Eva.


"Besok aku akan melakukan pertemuan dengan masyarakat umum, bisa dibilang semacam kampanye gitu." Sahut Hietlar.


"Jadi aku ingin kamu besok menjalankan tugas kamu sebagai fotografer pribadi aku." Sambungnya seraya tersenyum tipis.


"Tentu saja dengan senang hati."


Ucap eva sembari memeluk tubuh kekar lelaki disamping nya tersebut. Hietlar juga membalas pelukan Eva. Namun dalam tubuh yang tenggelam dalam cinta Hietlar, Eva malah teringat tentang benda benda yang baru saja ia lihat dalam koper.


Kenapa koper itu berisi banyak senapan? Apa sengaja diselundupkan didalam kain kain tersebut agar tidak ketahuan? Kalau iya kenapa Hietlar menyelundup senjata berbahaya ini? apa yang sebenarnya ingin Hietlar lakukan?


Monolog monolog yang terlintas dibenak Eva hanya membuat dirinya semakin tenggelam dalam rasa penasaran yang menyiksa. Semakin lama ia berpikir semakin besar juga keraguan terhadap Hietlar yang ditimbulkan olehnya.


Hingga tanpa sadar setelah sekitar 15 menitan mengendarai mobil kepinggiran kota Berlin, mereka berhenti didepan sebuah panti asuhan tua dan reyot bernama 'Liebe zu Hause 07'


"Sayang kita sudah sampai di panti asuhan, kamu tunggu saja di dalam dan jangan pernah keluar, ya?!" Bisik Hietlar dengan tegas.


Eva hanya mengangguk paham seraya memandangi punggung Hema, Hietlar dan puluhan penjaganya yang turun dari dalam mobil untuk memindahkan koper koper kedalam panti. Sementara itu tatapan Eva meliar dari balik kaca mobil, mengamati setiap sudut rumah reyot dipinggir jalan yang tampak sudah lekang termakan usia tersebut.

__ADS_1


Ini beneran panti asuhan? Kenapa sangat sepi dan sepertinya sudah lama terbengkalai...


......................


__ADS_2