Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
29. Pengkhianat


__ADS_3

Disisi lain, Hietlar tengah berdiri di ujung lorong sembari menatap pemandangan seluruh kota yang bagaikan lautan awan sebab tertutup putihnya salju dari balik jendela hotel. Sembari menyesap sebatang rokok dan secangkir kopi hangat, Hietlar tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Tuan, semuanya sudah siap, mari berangkat." Ucap Hema.


"Darimana saja kamu? Kita hampir terlambat."


"Maaf tuan, tadi saya harus menyiapkan beberapa keperluan mahar untuk dibawa ke rumah Braun."


Hietlar tersenyum tipis, seraya berbalik dan mendekat pada Hema ia berkata "Selamat ya, setelah hampir setengah hidupmu kamu habiskan bersama aku sekarang kamu akan segera memiliki pendamping yang akan menghabiskan sisa hidupnya bersama kamu."


"Selagi dia bermanfaat untuk tuan, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk mempertahankan hidupnya."


"Tidak usah berjanji, hati manusia mudah berubah. Jika suatu saat kamu jatuh cinta padanya urusanku mungkin akan-"


"Tidak akan tuan. Saya berjanji tidak akan pernah mengkhianati tuan." Ucap Hema sembari tertunduk memberi hormat.


"Aku harap begitu. Meski kamu adalah orang kepercayaanku, jika kamu berani melakukannya aku tetap tidak akan segan." Tegas Hietlar.


Lelaki jangkung itu mencondongkan badan dan berucap tepat disamping telinga Hema, tentu saja hal ini membuat lelaki yang sudah rapi dengan kemeja putih dan celana panjang hitam itu bergidik ngeri hingga keringat dingin bercucuran. Hema hanya bisa mengangguk pelan seraya menelan saliva nya dengan kasar.


"Bagus! Mari, aku juga ingin menjemput calon istriku."


Cklek


"Tuan, ada kabar penting dari Liebe zu Hause 01." Seorang penjaga tiba-tiba datang dengan tergesa-gesa menghentikan langkah Hietlar.


"Apa yang terjadi?"


"Orang yang selama ini diam-diam menyelidiki lokasi pusat panti berhasil mengikuti salah satu penjaga dan mengetahui lokasi markas kita."


"APA?! B*jingan! Aku memberikan pelatihan siang malam pada kalian agar bisa belajar lebih waspada, kenapa kalian bisa ceroboh seperti ini?!" Hietlar menggenggam kerah baju si penjaga dan menatapnya dengan tajam, begitu juga Hema yang terperanjat kaget mendengar kabar mengejutkan tersebut.

__ADS_1


"T-tenang tuan, orang yang berhasil memata-matai kita masih dalam pengejaran. Akan kami pastikan dia tidak akan sampai dengan selamat pada tuan nya."


"Cih bodoh, biarkan saja dia bertemu dengan tuannya. Kalian cukup ikuti dengan baik lalu lihat siapa tuan mereka sebenarnya. Setelah tahu, baru kita putuskan harus membiarkan mereka hidup atau...bunuh semuanya." Hietlar berucap dengan mata terbelalak lebar, menatap sang penjaga dengan tajam dan sangar.


"B-baik Tuan, Saya pamit."


Penjaga itu berbalik meninggalkan Hema dan Hietlar yang masih berdiri tak bergeming diambang pintu.


"Tuan, apakah tuan yakin ingin membiarkan mereka tahu letak markas kita? ini sangat beresiko." Seloroh Hema.


"Biarkan saja, lagipula aku sangat kagum dengan usaha mereka yang selalu mengikuti kita kemanapun. Untuk menghargai itu aku membiarkan mereka mengetahui 25 titik panti, jika aku tidak ingin membiarkan mereka tahu mungkin sampai akhir hidup merekapun tidak akan pernah tahu letaknya." Hietlar menyeringai licik.


"Tuan memang bijak, tapi saya masih tetap khawatir-"


"Apa yang perlu di khawatirkan, mereka semua hanya kerikil yang bahkan tidak mampu mengikis kulit telapak kakiku." Tegas Hietlar.


"Sudahlah, ayo kita berangkat. ini sudah sangat terlambat." Imbuhnya.


Jika menyangkut masalah markas, ini memang sudah jadi kasus serius. Apalagi jika kabar letak markas diketahui orang yang salah bisa saja ini menimbulkan bencana bagi pasukan Hietlar. Sebab di dalam markas terdapat berbagai hal penting yang akan menarik para manusia serakah untuk memperebutkannya.


Sementara itu ditempat lain, Henrich dan Eva duduk sembari menikmati segelas Teh hangat. Eva sedari tadi hanya menelisik tingkah Henrich yang tengah asik menyesap sebatang rokok dihimpitan jarinya.


"Jadi bagaimana? Aku sudah lama menunggu ceritamu." Celetuk Eva memecah keheningan.


"Aku tidak bisa bercerita tanpa jaminan. Bagaimana jika kamu memberitahukan identitas asliku pada Hietlar dan membuat nyawa ku terancam?"


"Selama Tuan mau berkata jujur, aku bisa mempertimbangkannya-"


"Gadis tengik! Berani kamu mengancamku hah?"


Henrich dengan cekatan menodongkan sebuah belati ke leher Eva dari belakang dan tangan satunya memegang sebuah pistol yang sudah diarahkan tepat diatas telinga Eva.

__ADS_1


"T-tuan, apa yang akan Tuan lakukan. J-jika Tuan membunuh aku....H-Hietlar akan sangat marah." Eva terbata-bata.


"Cih! kamu kira Hietlar benar-benar mencintaimu? Dia itu hanya bermain-main dengan gadis muda saja." Cibir Henrich.


"Apa sebenarnya yang tuan inginkan?"


Henrich menjalarkan belati di leher Eva dengan perlahan membelai helaian rambut Eva yang menghalangi wajahnya. "Sekarang kamu hanya punya dua pilihan, Bantu aku mendapatkan informasi mengenai Hietlar atau kamu kehilangan nyawa disini. Lagipula nyawamu tidak jauh lebih penting daripada nyawa ratusan orang diluar sana yang telah mati dibantai oleh Hietlar."


Eva menggenggam erat roknya, ia berusaha memutar otak dengan cepat untuk mencari cara menjawab pertanyaan Henrich dengan tepat tanpa kecurigaan apapun.


"A-aku tidak bisa memihak padamu begitu saja. Sebab itu aku meminta kamu menceritakan terlebih dahulu tentang asal-usul Hietlar."


"Hmm, baiklah...."


Henrich melepaskan todongan pistol dan belati ditangannya kemudian perlahan beranjak duduk kembali di kursi seraya menatap Eva dengan tajam. Kali ini Eva bisa bernafas lega, setidaknya ia bisa memikirkan cara untuk lepas dari Henrich sembari mendengarnya bercerita.


"Cerita ini dimulai saat aku dan Hietlar masih berjuang bersama di Medan tempur saat perang dunia ke-1. Hietlar selalu memperlakukan aku dengan baik dan kami menjalin persahabatan. satu hal yang tidak Hietlar tahu bahwa aku bekerja sebagai fotografer tentara karena ditugaskan oleh Badan Intelejen Negara (BIN) untuk mengawasi Hietlar."


"Kenapa harus mengawasi Hietlar? bukannya saat itu dia masih menjadi tentara biasa?" Eva mengeriyatkan dahi.


"Ayah Hietlar adalah seorang jendral yang meninggal karena dibunuh prajurit US di rumahnya sendiri. Tentu saja Hietlar akan memiliki dendam tersirat, ditambah dia bisa masuk ke jejaring tentara juga karena berhasil membunuh sekitar 100 orang imigran asal US yang tinggal tak jauh di sekitar rumahnya demi mendapatkan penghargaan agar masuk kedalam militer."


"Jadi maksud Tuan Hietlar sejak muda sudah memiliki ambisi yang kuat untuk membalaskan dendam ayahnya?"


"Tepat sekali. Selama menjadi tentara Hietlar tidak pernah melakukan kesalahan apapun dan berusaha dengan giat belajar banyak hal tentang dunia Militer, bahkan ia sempat meraih gelar prajurit terbaik kala itu dan aku pun sempat tertipu hingga menjalin persahabatan yang erat bersamanya. Namun kecurigaan BIN tidak berakhir setelah perang dunia Ke-1, Apalagi Hietlar yang terang-terangan mengumpulkan pasukan dan sering melakukan penyerangan tiba-tiba kepada para imigran. Reputasinya perlahan melesat berkat kampanye rutinnya dan sekarang memiliki ribuan pengikut yang tersebar di seluruh sudut jerman, jika terus seperti ini Hietlar bisa menjadi Kanselir Jerman yang baru. Maka dari itu BIN memerintahkan aku untuk mengawasi Hietlar dari dekat." Ujar Henrich panjang lebar.


"Bagaimana aku bisa percaya dengan apa yang Tuan ceritakan?"


Henrich tersenyum kecut, ia merogoh sesuatu dari dalam saku jas dan melemparkannya tepat kehadapan Eva.


......................

__ADS_1


__ADS_2