Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
31. Kehilangan jejak


__ADS_3

"Siapa yang bertemu dengannya?!"


"A-aku tidak tahu tuan, sebaiknya tuan langsung cek saja ke atas sepertinya belum pergi."


"Cih! Dasar!"


Hietlar hanya bisa berdesis kesal, ia dengan cepat berbalik hendak naik menuju lantai atas, namun langkahnya terhenti saat seseorang yang tak asing sedang berjalan menuruni anak tangga.


"Eh Hietlar? Kamu disini juga, kebetulan aku-"


"Henrich?! apa kamu yang bertemu dengan Eva pagi ini?" Hietlar berjalan mendekat.


"Iya. Tadi pagi aku memang ngobrol-ngobrol santai dengan Eva, tapi sekarang dia sudah pulang."


"Apa yang kalian bicarakan?" Hietlar menyipitkan mata.


"Apalagi selain pekerjaan. Kenapa kamu khawatir seperti itu, apa ada masalah?"


"Dia keluar dari kafe ini dikejar beberapa orang dan sampai sekarang belum ditemukan."


"Apa?! Apa mungkin perampok? atau musuh-musuh partaimu?" Henrich terperanjat kaget.


"Ntahlah, lebih baik kamu kerahkan anak buahmu dan bantu aku mencari Eva!"


"B-baik, aku akan menghubungi mereka."


Setelah mendengar ucapan Henrich, Hietlar segera beranjak keluar dan kembali berlari di sekitaran gang kafe sembari meneriakkan nama Eva. Ia benar-benar seperti orang gila yang tengah kelaparan mencari makanan kesukaannya.


Sementara itu disisi lain Henrich malah menyeringai licik sembari jalan berbalik hendak masuk kedalam ruangan yang sebelumnya ia pesan di kafe. Namun saat berada diambang pintu, Henrich berhenti sejenak dan merogoh sebuah walkie talky dari dalam saku jasnya.


"Segera temukan keberadaan Eva hidup ataupun mati. Kalian harus membawanya kehadapanku secepatnya! Dia sudah tahu terlalu banyak tentang Hietlar dan aku, akan menjadi bencana jika mulutnya tidak segera ditutup!" Cetus Henrich.


Henrich tidak sadar bahwa sedari tadi Hema masih kelayaban di lantai atas mencari keberadaan Eva. Hema bersembunyi dibalik pintu ruangan sebelah dan menguping pembicaraan Henrich di dalam walkie talky dengan serius. Ia cukup terkejut mendengar ucapan Henrich namun tetap berusaha tenang. Setelah Henrich masuk kedalam ruangan, Hema pun segera keluar dari kafe.


"Kalian semua, mari berkumpul di Liebe zu Hause 15 sekarang!" Cetus Hema dalam walkie talky.


Setelah menginterupsi kan hal tersebut, Hietlar tak lama datang menghampiri Hema yang sudah menunggunya sedari tadi di dalam mobil. Lelaki itu nampak ngos-ngosan dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya padahal cuaca tengah dingin dan bersalju.

__ADS_1


"Huh huh huh, Apa kamu mendapatkan kabar?" Celetuk Hietlar.


"Lebih baik kita diskusikan di dalam markas saja tuan, siapa tahu ada petunjuk lain yang ditemukan para penjaga." Sahut Hema.


"Baik, ayo segera kita ke panti sekarang!"


Hema segera menginjak gas dan menuju tempat perjanjian. Di sepanjang jalan tatapan Hietlar masih tak berhenti menyisir sekitaran berharap perempuan yang sedang ia cari masuk dalam jangkauan pandangannya. Namun hasilnya sama, Hietlar tidak menemukan jejak atau keberadaan Eva sedikitpun.


Tak lama berselang, Hema dan Hietlar sampai di depan sebuah panti asuhan yang ramai dengan anak-anak. Panti itu benar-benar masih terawat dan sangat aktif, bahkan berlantai tiga dan memiliki sarana tempat bermain khusus seperti taman kanak-kanak.


Hema dan Hietlar memarkirkan mobil di lapangan sepak bola yang bersebelahan dengan panti, terlihat beberapa mobil hitam milik para penjaganya telah sampai lebih dulu dan sepertinya sudah menunggu kedatangan Hietlar sejak tadi. Mereka pun bergegas masuk melalui pintu belakang dan berjalan melalui sebuah terowongan rahasia yang terhubung kedalam sebuah ruang bawah tanah.


"Tuan!" Semua penjaga berdiri memberi hormat saat melihat kedatangan Hietlar.


"Apa semuanya sudah berkumpul?"


"Belum tuan, sekitar 20 orang menyisir ujung kota jadi akan membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai ke panti." Sahut salah satu penjaga.


"Segera hubungi mereka dan informasikan untuk tidak menghadap jika belum menemukan petunjuk keberadaan istriku!"


"B-baik Tuan."


"Katakan! Informasi apa yang sudah kalian dapatkan?!" Ucap Hietlar memecah keheningan.


Semua penjaga hanya tertunduk dengan keringat dingin yang mulai bercucuran. Dapat dipastikan dari gelagat mereka tidak ada yang berhasil menemukan keberadaan Eva. Namun tak lama, seorang penjaga berdiri dengan gemetar.


"T-tuan, saat saya mengikuti Nyonya berlari tiba-tiba kerumunan orang yang menyebrang lampu merah menghalang pandangan saya dan akhirnya kehilangan jejak Nyonya. T-tapi, setelah saya melanjutkan lari mengikuti arah yang kemungkinan diambil Nyonya, saya malah melihat sebuah kecelakaan dimana orang yang tertabrak langsung dibawa ke dalam mobil." Ujar si penjaga.


Brak (Hietlar menggebrak meja)


"Apa?! Sialan! Kamu melihat yang tertabrak itu adalah istriku atau bukan?!"


"S-sya tidak yakin tuan karena terhalang kerumunan. Tapi setelah mobil itu pergi plat nomor nya masih saya ingat dengan jelas."


"Apa nomor plat mobilnya?"


"01 RSVL Tuan."

__ADS_1


"RSVL? Itu mobil milik keluarga Rosevelt, Tuan. Mereka adalah kalangan konglomerat bangsawan kelas atas tuan, kita tidak bisa menganggu mereka sembarangan." Sahut Hema.


"Tidak peduli! selama ada kemungkinan mereka membawa istriku maka jika pihak US sekalipun akan tetap aku datangi!" Sahut Hietlar dengan tatapan beringas.


"T-tapi tuan-"


"Kalian teruslah berpencar di Munchen, Biar urusan keluarga Rosevelt aku dan Hema saja yang tangani."


"Baik tuan." Kompak seluruh penjaga.


...----------------...


Ditempat lain, seorang pria bersetelan kemeja dan jas khas bos kantoran, berambut pirang, bermata biru dengan wajah yang tampan dan proporsi badan atletis berdiri dengan tatapan iba menatap perempuan yang tak sengaja ia tabrak dijalan masih tak sadarkan diri.


"Dok, bagaimana kondisinya?" Tanya pria tersebut.


"Kondisi kepalanya baik-baik saja tuan, hanya benturan kecil dan pendarahan nya sudah dihentikan. Tapi kaki nya yang sedikit retak membutuhkan waktu cukup lama agar bisa sembuh total." Sahut dokter.


"Berapa hari kira-kira dia bisa sembuh sepenuhnya?"


"Sekitar satu bulan tuan."


"Hmm baiklah, aku akan merawatnya di disini."


"Tapi tuan bagaimana kalau nyonya besar tahu tuan merawat seorang perempuan di dalam rumah?" Bisik dokter.


"Mama pasti akan mengerti. Selama nona ini belum sadar lebih baik kamu tutupi keberadaannya." Tegasnya.


"Baik Tuan, saya pamit."


Seperginya dokter pribadi tersebut, pria itu duduk disamping gadis yang ia selamatkan. Dengan tatapan berkaca-kaca ia meraih tangan gadis tersebut dan menggenggamnya erat.


"Eva, maaf aku tidak sengaja. Aku pulang dari jepang setelah 3 tahun hanya untuk menemui kamu, tapi aku tidak menyangka kita akan kembali bertemu dengan cara seperti ini." Lirihnya.


"Tadi aku melihat kamu sedang dikejar beberapa pria jadi aku terpaksa membawamu pulang ke rumah. Sepertinya mereka orang berbahaya dan bisa mengejar ke rumah sakit. Tenang ya, disini kamu aman. Segeralah bangun dan peluk aku, aku sangat merindukanmu hks hks hks..."


Isak tangis pria tersebut tak tertahankan lagi. Ia duduk meratapi wajah Eva sembari bersandar pada kepala ranjang dan menaruh kepala Eva di dalam pangkuan paha nya. Setelah itu dengan tatapan berbinar pria tersebut mengelus kepala Eva yang terbalut dengan perban dengan lembut.

__ADS_1


......................


__ADS_2