Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
25. Kenyataan pahit


__ADS_3

Eva yang tengah mengangkat kamera ditangannya untuk memotret sang pujaan hati menjadi tertegun. Gunjingan orang-orang dibelakangnya itu membuat jiwanya seakan meninggalkan raga untuk sesaat. Dengan perasaan yang tak karuan nafas Eva menjadi kasar dengan mata yang berkaca-kaca saat mengalihkan pandangan menuju sosok lelaki yang selama ini tidur bersamanya tengah tersenyum lebar diatas panggung kampanye.


Gak! Gak mungkin! Hietlar terlalu lembut untuk jadi pemimpin para orang kejam itu!!


Tak percaya rasanya mendengar kenyataan yang selama ini Eva duga-duga sebatas prasangka buruk semata rupanya memang benar. Sosok yang ceria, ramah, perhatian dan penyayang seperti Hietlar adalah seorang pemimpin partai terkejam sepanjang sejarah jerman hingga saat ini? Mungkin bukan hanya Eva yang tidak akan percaya, tetapi keluarganya juga.


Tapi semua kejadian janggal dirumahnya selama ini apa?! Apa yang dikatakan para wartawan itu memang benar?!


Tidak! Hietlar pasti bukan orang seperti itu, aku harus harus yakin!


Eva sebenarnya sadar akan kenyataan, namun rasa cintanya telah membutakan akal sehat. Ia memilih menolak sadar dan terus mempercayai angan-angan saja.


Disisi lain, para wartawan mulai berkerumun mendekatkan mikropon diatas meja tempat Hietlar berdiri. Lelaki jangkung bersetelan jas hijau tosca dan topi bundar nya yang khas itu tersenyum lebar menyapa masyarakat yang hampir memenuhi seluruh jalanan di depan bangunan Marientplatz.


"Selamat pagi rekan-rekan seperjuangan yang saya hormati, masyarakat pribumi negara kita yang tercinta serta seluruh leluhur yang menyaksikan saya berdiri di sini untuk menjunjung tinggi nilai-nilai murni negara yang hampir musnah ditelan budaya asing. Kepemimpinan brutal saat ini mengijinkan para imigran berkuasa di tanah sendiri. Menyebarkan ajaran sesat, berbisnis, mengambil alih lapangan pekerjaan dan perlahan menghancurkan negara kita dari dalam! Sebagai perwakilan partai, saya selaku ketua menyampaikan atensi dan kepedulian terhadap negara kita untuk mengajak rekan-rekan semua bergabung bersama saya mengusir para pendatang yang telah-"


Perkataan manis nya benar-benar dirangkai dengan indah. Hietlar, aku sangat mempercayai kamu namun kenapa kamu malah mengkhianati aku seperti ini!


Pidato yang disampaikan Hietlar hanya semakin menambah goyah perasaan Eva saja. Ia sedari tadi berusaha menahan deraian air mata saat melihat dan mendengar para wartawan bergunjing bahkan menatap Eva dengan jijik.


Meskipun tujuan Hietlar mamang baik, namun ia telah salah menggunakan kekuasaan dengan terus membantai para imigran selama satu dekade terakhir. Perbuatan keji nya pasti sudah sering terdengar di jejaring sosial dan tentunya para wartawan yang mengetahui kisah asli lelaki tersebut.


Eva benar-benar tidak tahan mendengar kata-kata yang terus diucapkan oleh Hietlar, ia beranjak dengan air mata bercucuran meninggalkan kampanye. Hietlar yang melihat hal ini masih terus melanjutkan kata-katanya namun dengan kedikkan mata ia mengisyaratkan pada Hema dan anak buahnya untuk mengikuti Eva.


"Eva?! lama tidak bertemu."

__ADS_1


"P-pak Henrich, senang bisa bertemu lagi." Eva mengusap kasar pipi nya yang basah.


Sementara Henrich yang melihat Hema dan anak buahnya berjalan hendak menghampiri Eva ia langsung mengepakkan tangan memberi isyarat pada mereka agar berhenti. Sesuai interupsi, mereka berhenti dan kembali menjaga keamanan Hietlar.


"Pak, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Bisa kita bicara sebentar?"


"Tentu saja, sekarang kamu adalah calon istri sahabatku jadi tidak usah sungkan lagi."


"Masalah itu belum pasti....mari Pak."


Henrich dan Eva berjalan menuju tempat yang tidak terlalu ramai, bisa dibilang tempat mereka duduk kali ini adalah kursi panjang pinggir jalan yang dulu diduduki oleh Gerlt sekaligus tempat pertama kali Eva bertemu dengan Hietlar.


"Apa yang ingin kamu tanyakan, Eva?" Henrich bertanya seraya menawarkan segelas kopi hangat yang dibawakan asistennya.


"Kenapa kamu tidak memberitahu aku identitas Hietlar yang sebenarnya sejak awal?"


"Aku baru tahu semua ini disaat aku sudah sangat mencintai nya! Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Tega sekali kalian." Eva berkaca-kaca.


Ucapannya memang terdengar sayu dan bergetar, seolah penekanan setiap kata nya benar-benar menyedihkan. Henrich sendiri masih tak bergeming, ia hanya menghela nafas panjang sembari sesekali meneguk kopi ditangannya.


"Apa sejak awal kebaikan kamu juga hanya pura-pura? kamu sengaja ingin memberikan gadis lugu seperti aku pada Hietlar hah?"


"Hietlar tidak seperti yang kamu bayangkan, dia mencintai kamu dengan tulus. Alasannya menyembunyikan semua ini juga karena takut kamu akan seperti sekarang, tidak terima dengan identitasnya." Tegas Henrich.


"Aku tidak bisa terus bersama nya, lebih baik kami berakhir disini daripada aku harus hidup bersama seorang pemimpin yang bengis!"

__ADS_1


Eva beranjak meninggalkan Henrich dengan air mata yang terus berderai, namun baru beberapa langkah tangannya sudah ditahan oleh Henrich.


"Eva aku mohon bantu aku, jika tidak mau dipihak Hietlar berpindahlah ke pihak negara kita." Bisik nya dengan tatapan serius.


"Harus berapa kali aku bilang? Aku tidak bisa hidup lagi bersama Hietlar, sebaik apapun dia memperlakukan aku tapi aku tidak mau berjalan bersamanya diatas tumpukan mayat yang tak bersalah!"


"Cih! Maksudku bekerjalah untuk kami, awasi setiap gerak gerik Hietlar. kumpulkan setiap bukti kejahatannya jika kamu memang mencintai negara ini."


Henrich berucap pelan namun penuh penekanan, tangannya juga semakin erat menggenggam pergelangan tangan perempuan yang tengah menatapnya dengan heran tersebut.


"Apa maksudmu? Siapa kamu sebenarnya?!" Eva menepis tangan Henrich.


Henrich dengan cepat mengeluarkan sebuah kartu tanda pengenal dari dalam saku jas nya, ia menunjukkan nya pada Eva dengan cepat. "Aku anggota badan intel negara, jika kamu tidak memberikan jawaban apapun maka aku akan menganggap kamu ikut memberontak bersama Hietlar!"


A-apa ini? Kenapa aku bisa banyak tidak tahu tentang identitas asli mereka? apa yang ahrus aku lakukan sekarang. Aku memang membenci Hietlar tapi aku juga masih mencintainya. Apa yang harus aku katakan pada pak Henrich?


Eva termangu beberapa saat sembari menatap kartu identitas Henrich. Hari ini ia mendapatkan banyak sekali kenyataan yang selama ini berusaha ditutupi dari dirinya. Pahit dan menyakitkan, sebab kini dirinya terhimpit antara kepentingan negara dan rasa cintanya yang sudah mengakar.


Dibalik situasi nya saat ini, negara memang tengah dalam masa tenggang setelah berakhirnya perang dunia ke-1 dimana banyak para imigran yang berdatangan untuk berbisnis dan bermukim di Jerman sebab isi dari perjanjian yang dikemukakan Organisasi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang mewajibkan Jerman setelah kalah dari perang untuk mengijinkan warga asing bermukim dengan bebas sebagai bentuk ganti rugi atas kekacauan yang disebabkan oleh Jerman.


Hietlar yang semenjak awal bersama ayahnya menganut paham Jermanisme (Fanatik suku pribumi) tidak terima dengan isi perjanjian tersebut dan perlahan lahan membangun kekuatan untuk menyuarakan keinginannya dimana Jerman harus bersih dari para imigran.


"Jadi bagaimana keputusan kamu, Eva?" Henrich berusaha menyadarkan Eva yang masih termangu.


"Sayang?! Kenapa kamu tiba tiba meninggalkan tempat kampanye, aku sampai tidak fokus dan buru-buru mengakhiri pidato." Hietlar tiba-tiba datang bersama segerombolan penjaga, menghampiri Eva dan Henrich yang tengah berbincang serius.

__ADS_1


"Jangan beritahukan identitasku yang sebenarnya, aku menunggu kamu besok pagi di Kafetaria Frishcut." Bisik Henrich dengan cepat sebelum Hietlar sampai dihadapan mereka.


......................


__ADS_2