
Sekian lama Hietlar melajukan mobilnya. Seolah nggan berpisah dari Eva, lelaki itu memilih jalan paling jauh disertai kecepatan mobil yang semakin melamban.
Namun apa daya, jalan yang di tuju pasti memiliki ujung. Begitu juga waktu yang terus berjalan, tak perduli seberapa banyak pun kita ingin menghentikan nya.
Kini Hietlar, Eva dan Gerlt telah sampai di depan sebuah bangunan hotel besar yang menjulang tinggi dengan gemerlap lampunya mampu menerangi jalanan di sekitar.
"Hotel Kriese yang ini?" Ucap Hietlar memecah keheningan.
Eva mengalihkan pandangan dan mengamati jalanan yang cukup ramai. "Iya, Tuan."
Gadis itu langsung berbalik dan menatap Gerlt yang masih tertidur pulas. "Gerlt bangun... Gerlt kita sudah sampai!"
Eva terus menggoyang goyangkan tubuh adiknya yang tengah lelap berselancar di alam mimpi. Namun gadis itu tak kunjung bangun. Memang kalau sudah tidur, Gerlt seperti kebo.
Dengan kesal Eva membuka setting belt nya dan turun dari mobil. Menghampiri Gerlt yang masih tertidur pulas dibelakang sana.
"Gerlt bngun hei." Lagi, Eva menepuk pipi Gerlt berulang kali.
"Aaaa diam kakak." Racau Gerlt seraya menepis tangan Eva.
Eva tak punya pilihan lain, ia menggendong Gerlt dalam pangkuannya. Hietlar yang menyadari itu bergegas keluar dari mobil, ia dengan sigap memindahkan Gerlt kedalam pangkuannya.
"Biar saya saja tuan, Gerlt berat." Tukas Eva.
"Justru karena berat jadi biar aku saja yang menggendongnya." Sahut Hietlar.
"Kau jalan lebih dulu, tunjukkan jalan ke rumahmu." Sambungnya.
"Benar tidak usah tuan, biar aku saja yang menggendong Gerlt-"
"Sudah jangan banyak bicara, gadis ini berat ayo segera tunjukkan jalan."
Melihat Hietlar yang bersikeras, Eva tak punya pilihan lain. Ia terpaksa berjalan sembari sesekali menengok kebelakang. memastikan Hietlar dan Gerlt ada di belakangnya.
Jauh di dalam lubuk hati Eva, ia merasa senang ada orang yang perduli terhadapnya. Untuk sejenak Eva melupakan kekesalannya pada Hietlar yang telah menyembunyikan identitas aslinya.
Mereka bertiga berbelok masuk kedalam gang kecil disamping hotel, rumah rumah yang berjejer di kanan kiri mereka tak terlalu besar namun cukup bagus.
"Oh jadi ini sisi lain Distrik Helle." Seloroh Hietlar seraya mengamankan sekitaran.
Distrik Helle adalah salah satu bagian di kota Munchen yang terkenal akan rumah rumahnya yang tersusun rapi disertai kehidupan damainya tak tersentuh imigran dari luar. Orang orang di distrik ini kebanyakan orang asli Jerman.
__ADS_1
Mungkin hal inilah yang membuat Eva dan adiknya memiliki kecantikan wanita Bavarian asli. Rambut pirang keriting, netra biru laut, hidung mancung sempurna dan kulit putih yang khas. Tak ayal mampu membuat Hietlar langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Bahkan sedari tadi, Hietlar terus meratapi wajah cantik gadis yang berjalan didepan nya tersebut tatkala sinar rembulan menyapa tubuhnya di kegelapan malam.
"M-maaf tuan, adikku sudah menyusahkan mu." Ucap Eva memecah keheningan.
"Tidak masalah, Lagipula kedepannya kita akan saling bergantung satu sama lain." celetuk Hietlar.
Apa maksud Tuan Hietlar? kenapa dia berkata demikian. Argh kendalikan dirimu, Eva.
"I-itu rumah saya, Tuan." Eva segera mengalihkan pembicaraan.
Ia menunjuk sebuah rumah dua lantai yang tak terlalu besar dengan cat perpaduan cream dan coklat. Pasti keluarga Braun adalah keluarga yang menyukai gaya desain klasikal, begitu kira kira yang terlintas dipikiran Hietlar saat melihat bangunan tersebut.
Ning
nong
Eva menekan bel berulang kali, menunggu orang di dalam rumah membukakan pintu.
"Iya sebentar." Sahut seseorang dari dalam.
Cklek
"Mari tuan masuk dulu." Eva mempersilahkan Hietlar masuk, pun perempuan yang berdiri diambang pintu juga ikut melipir.
"Permisi, nona.." Hietlar berusaha membuka sepatu dan masuk kedalam rumah.
"Siapa dia Eva!" Bisik Ilse-Kakak Eva.
"Sudahlah kak nanti di dalam saja." Seloroh Eva
Disisi lain, Friedrich-Ayah Eva tengah berselonjor kaki diatas sofa seraya mengobrol bersama istrinya Franziska-Ibu Eva. lelaki berusia 52 tahun itu kaget saat seorang lelaki asing tiba tiba berada di dalam rumah bersama Gerlt dalam pangkuannya.
"Permisi Tuan, Nyonya Braun. Saya mengantarkan Eva dan Gerlt pulang." Celetuk Hietlar.
"Siapa kamu? berani menggendong seorang gadis dalam pangkuan seperti ini!" Tegas Friedrich seraya mengambil Gerlt dari Hietlar.
Eva dan Ilse segera berlari kedalam rumah saat mendengar suara tinggi dari ayahnya.
"Saya adalah klien Eva. Karena tidak tega membiarkannya pulang menggendong Gerlt seorang diri jadi saya membantu mengantarnya pulang." Ujar Hietlar.
__ADS_1
"I-iya ayah, beliau adalah Tuan Hietlar. klien Eva yang baru." Sambung Eva.
Gadis itu meremas kuat rok nya, jelas terlihat kegelisahan di wajah Eva yang takut ayahnya tidak percaya.
"Oh klien Eva, mari duduk dulu tuan. Biar saya ambilkan teh." Seloroh Franziska berusaha mencairkan suasana.
"Tidak usah nyonya, saya langsung pulang saja ini sudah larut." Tukas Hietlar.
Friedrich dan Franziska saling bertatapan dengan canggung. "B-baik tuan kami tidak memaksa, mari saya antar kedepan." Ucap perempuan berusia 51 tahun tersebut.
"Terimakasih sudah mengantar putriku pulang, maaf sebelumnya sudah berkata kasar." imbuh Friedrich.
"Tidak masalah Tuan, saya paham."
Hietlar pun berbalik, tepat sebelum tubuhnya menghilang sepenuhnya dari pandangan Eva, Hietlar sempat tersenyum tipis dan menatap Eva sekilas. Tatapan yang seolah tak ingin meninggalkan Eva.
Lelaki itu pun keluar digiring oleh Franziska ke depan pintu. Setelah kembali, Franziska menyipitkan mata pada anaknya tersebut dengan tajam.
"Habis darimana kamu? baru pulang jam segini dan diantar seorang lelaki pula."
"Hari ini Pak Henrich mengajak makan bersama tadi sore bersama istrinya. Sekaligus Eva berkenalan dengan Tuan Hietlar karena nntinya Eva akan menjadi fotografer pribadinya. Karena terlalu asyik mengobrol Eva tidak sadar waktu sudah larut malam." Ujar Eva.
"Boleh boleh saja kamu pulang jam segini diantar olehnya, tapi setidaknya jangan biarkan adikmu di gendong seperti itu oleh pria asing!" Sentak Friedrich.
"M-maaf, lain kali Eva tidak akan mengulanginya lagi." Sahut Eva.
Gadis itu masih meremas kuat Roknya, ini adalah kali pertama Eva melanggar peraturan rumah dan pertama kali juga dirinya dimarahi oleh kedua orangtuanya.
Selama ini, citra Eva memang terkesan sangat baik di mata keluarga nya. Gadis yang cantik, penurut dan lembut. Selalu mudah menolong serta berbagi, ditambah rasa empatinya yang tinggi.
Hal ini juga yang membuat orang tua nya semakin cemas. Di jaman penuh kesesatan pikiran manusia ini, kebaikan dan keluguan seseorang hanya mampu membawa dirinya pada ketidakberdayaan.
"Sudahlah, yang penting Eva sekarang sudah sampai di rumah, Lagipula bagus ada Tuan tadi bisa menemani mereka pulang malam malam seperti ini." Seloroh Ilse.
"Bagaimana jika pria tadi bukan pria baik baik, ile!" Sentak Franziska.
"Apa kau tidak lihat pria tadi sudah berumur? Bagaimana jika dia memiliki niat lain pada dua gadis lugu yang tengah ia antar pulang." Sambungnya.
"Tidak! Tuan Hietlar bukan lelaki seperti itu." Tukas Eva.
Gadis itu berlari dengan kesal menuju kamarnya dilantai atas dan membanting pintu dengan keras. Bahkan suaranya nyaring terdengar sampai kelantai bawah.
__ADS_1
Friedrich, Franziska dan Ilse saling bertatapan satu sama lain. Ini adalah kali pertama mereka melihat Eva berani membantah.
................