Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
24. Siasat


__ADS_3

Mendengar pernyataan Hietlar membuat Ilse langsung menghela nafas lega. Setidaknya ia yakin bahwa Hietlar akan bisa membujuk orang tua nya untuk memaafkan dan menerima Hema sebagai calon suaminya.


"Baik tuan, aku berjanji tidak akan memberitahu yang lain tentang identitas tuan."


"Apa kamu yakin ingin mengkhianati Eva dan berbohong pada keluarga hanya demi bersama dengan Hema?" Hietlar menyipitkan mata.


"A-aku....."


"Aku yakin jika suatu saat terbongkar pun mereka akan memahami posisiku." Imbuhnya.


Hietlar tersenyum miring sembari berdiri dari tempat duduknya, ia beranjak menghampiri Ilse yang masih terkapar di lantai dengan wajah murung. Hietlar jongkok di hadapan Ilse kemudian meraih dagu gadis tersebut dan mengangkat wajahnya agar dengan jelas beradu tatap.


"Akan aku pegang janji kamu. Jika melanggar, kamu bukan hanya akan kehilangan Hema tetapi juga seluruh keluarga Braun!"


Lelaki jangkung yang tengah mengenakan piyama panjang itu berucap pelan namun penuh penekanan, Ilse sampai bergidik ngeri dengan keringat dingin yang mulai bercucuran hanya dengan mendengar suaranya saja.


"Haha santai kakak, jangan terlalu gugup. Kita adalah keluarga." Imbuhnya.


Ilse langsung mengangguki ucapan Hietlar dengan cepat diiringi senyum terpaksa.


Setelah melakukan kesepakatan, Hietlar berlalu meninggalkan kamar Ilse diikuti Hema yang sedari tadi memanfaatkan waktu Ilse dan Hietlar berbincang untuk menggunakan pakaian. Hietlar berjalan turun keluar dari rumah untuk menghirup udara segar, begitu juga Hema.


Hietlar duduk dengan santai di kursi depan rumah memandangi gang yang sepi dan rumah-rumah gelap dimana mungkin penghuninya sudah terjun ke alam mimpi. Ia merogoh sepuntung rokok dan menyesapnya, sementara Hema masih berdiri di samping Hietlar tak berani duduk.


"Duduk Hema, kerja bagus." Celetuk Hietlar.


"Saya sudah bilang tidak menyukai gadis itu, kalau bukan demi tuan saya tidak akan mau menyentuhnya sehelai pun." Cetus Hema.


"Aku tahu kamu memang setia."


"Tapi bagaimana tuan bisa tahu kalau perempuan itu suka kepada saya?" Hema serius.


"Cih dasar, kamu memang harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk bermain perempuan. Setidaknya istrimu nanti tidak menyesal menikah dengan laki-laki polos seperti kamu." Cibir Hietlar.


"Hmm.. Aku tidak akan menikah, seumur hidup ini hanya akan aku habiskan untuk tuan dan negara saja."

__ADS_1


"Ck, es balok!"


"Apa kamu tidak sadar bahwa saat kampanye tahun kemarin di Munchen ada seorang wartawan yang menatap kamu dengan mata berbinar? padahal aku yang berpidato tapi matanya hanya menata lekat ke arah kamu." Imbuhnya.


"Hm saya mana akan menyadari hal kecil seperti itu."


"Bodoh! Sesuai hasil penyelidikan Ilse adalah pekerja kantor berita, dia pasti pernah bertemu atau melihat kampanye kita di suatu tempat. Beruntungnya tuhan sedang berpihak pada kita hingga perempuan yang menatap kamu dengan berbinar serta perempuan yang ingin kita bungkam itu adalah orang yang sama. Setidaknya dengan ini kita bisa menemukan cara untuk menutup mulutnya beberapa saat. Kamu nikmati saja perempuan itu, anggap bersenang-senang menambah pengalaman." Ujar Hietlar.


"Hmm baik tuan. Lagipula memang sebenarnya setelah kampanye itu Ilse memang menghampiri saya tuan, dia mengajak saya untuk membahas siaran kampanye di sebuah bar."


"Huh kenapa aku tidak tahu? lalu bagaimana kelanjutannya?" Hietlar menyipitkan mata sembari menyesap rokok yang tinggi setengah dihimpit jarinya.


"Saya datang hanya untuk membahas pekerjaan tetapi dia malah memaksa saya untuk minum. Sampai karena terlalu mabuk saya tidak mengingat apapun saat bangun, yang saya tahu saat itu hanya saya terbangun di dalam sebuah kamar motel." Hema berusaha menerawang.


"Yoo, Sepertinya hari ini bukan yang pertama lagi bagi kalian haha." Cibir Hietlar.


"Saya tidak ingat tuan!" Hema mengulum bibir seraya memutar bola matanya dengan canggung.


"Lagian lugu sekali kamu ini, kenapa mau diajak membicarakan masalah pekerjaan di dalam bar?! sudah jelas dia hanya berusaha menggoda kamu, hahaha." Hietlar puas mengejek Hema.


"Ya sudah, berarti ini memang keinginan Ilse sendiri yang masuk kedalam rencana kita jadi biarkan dia menanggung resikonya nanti." Imbuhnya.


Hema mengangguk paham menanggapi ucapan Hietlar.


Setelah itu Hietlar menaruh puntung rokok yang telah hangus tak bersisa diatas meja,ia beranjak menuju kamar untuk beristirahat menemani sang istri tercinta yang sudah terjun lebih dulu kedalam dunia mimpi. Sementara Hema sesuai interupsi Friedrich, ia keluar dari rumah dan menginap di hotel bersama para penjaga lainnya.


...----------------...


Malam berganti pagi, waktu bagaikan deruan nafas yang tidak terasa tapi selalu berjalan dengan sendirinya.


Eva terbangun dan mengerjapkan mata saat merasakan tangan kekar calon suami tengah memeluk tubuhnya erat dari belakang. "Hietlar bangun, sudah pagi nanti terlambat datang kampanye."


"Mmmh, lima menit lagi sayang...." Suara beratnya nyari menyapu telinga Eva.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Eva! Hietlar! Bangun! Di bawah sudah ada anak buah kalian menunggu." Lantang Franziska.


"Huh sial, kenapa mereka sangat disiplin." Ketus Hietlar seraya beranjak ke kamar mandi.


Eva hanya terkekeh mendengar gerutuan lelaki tersebut. Ia memilih bangun dan bersandar pada kepala ranjang sembari terus membayangkan kejadian seperti ini yang mungkin akan terus berulang sampai mereka memiliki anak dan cucu.


Damai sekali sekali rasanya bisa mengawali, menjalani dan mengakhiri hari bersama orang yang paling aku cintai. Aku harap kita bisa seperti ini selamanya.


Sekitar 30 menit berselang, Eva dan Hietlar sudah siap dan rapi. Mereka berdua turun ke lantai bawah dan mendapati para penjaga nya telah berbaris rapi di pekarangan sempit keluarga Braun menunggu kedatangan sang tuan. Kali ini tidak seperti biasanya mereka semua menggunakan seragam lengkap dan rapi untuk mengawal Eva dan Hietlar.


Setelah mengambil bekal untuk sarapan di jalan mereka langsung berpamitan dengan kedua orangtuanya kemudian bergegas berangkat ke acara yang diadakan di Marientplatz, tepatnya didepan studio foto tempat Eva bekerja sebelumnya.


"Hari ini kampanye nya tepat depan studio foto Pak Henrich, Apa dia akan datang juga?" Celetuk Eva.


"Tentu saja sayang. Dia selalu hadir dalam setiap acara yang aku adakan di Munchen."


Eva mengangguk paham. Mereka segera masuk kedalam mobil dan melaju dengan cepat menuju tempat kampanye yang tidak jauh tersebut, hanya sekitar 10 menit dengan memacu kecepatan sedang.


Sesampainya di sana, mata Eva membulat sempurna. Ia baru saja turun dari mobil namun sebuah karpet merah digelar panjang dan para penjaga berbaris memberi hormat saat Eva dan Hietlar berjalan di hadapan mereka sampai menuju keatas panggung.


Bendera yang terkibar itu milik partai mana? rasanya tidak asing tetapi juga cukup aneh.


Eva hanya bisa bermonolog seraya melepaskan tangan Hietlar dimana lelaki itu harus naik keatas panggung untuk memberikan sambutan sementara Eva duduk di kursi busa mewah yang terpasang di barisan paling depan.


lagi lagi mata Eva tertuju pada pembicaraan wartawan dibelakang nya yang tengah asik bergunjing.


^^^"Apa dia kekasih tuan Hietlar?"^^^


^^^"Terlihat masih muda, mungkin hanya mengejar hartanya saja!"^^^


^^^"Iya! mana ada perempuan yang berani menikah dengan orang kejam seperti pimpinan partai Jermanisme itu!"^^^

__ADS_1


......................


__ADS_2