Terjerat Perang Cinta 1930

Terjerat Perang Cinta 1930
28. Canggung


__ADS_3

Eva tak bergeming menjawab pertanyaan Hietlar. Begitupun Hietlar yang menyadari bahwa suasana hati Eva sedang buruk ia memutuskan keluar dari kamar dan menginap saja di hotel.


Cklek


Setelah mendengar pintu tertutup, Eva langsung bernafas lega. Ia berguling memindahkan bobot tubuh menghadap ke langit-langit dan meletakkan lengan diatas wajah untuk menghadang cahaya lampu yang bersinar terang diatas kepala. Untuk sekian menit, Eva tak merubah posisi dan hanyut dalam perasaanya yang gundah.


Jika tuan Henrich benar-benar Intel negara lalu bagaimana bisa mereka bertemu sejak dulu? Apa sebenarnya tuan Henrich dari awal memang niat berteman untuk tujuan penyelidikan atau benar-benar tulus ingin berteman? Aku tidak menyangka mereka benar-benar terlihat sangat akrab dan menikmati hidup seperti itu memiliki kisah kelam yang tertutup rapat. Jika Hietlar tahu pak Henrich berkhianat ntah apa yang akan dia lakukan...


Ribuan pertanyaan tak berujung sebab jawabannya harus dicari ntah kemana. Semakin lama melamun semakin banyak kalimat negatif yang bermunculan, Eva memilih menghela nafas panjang dan menetralkan pikiran hingga perlahan lahan jatuh kedalam tidur nyenyak.


Semoga hari ini hanyalah mimpi buruk


...----------------...


Malam berganti pagi, pagi berganti siang. Waktu adalah fitrah dunia yang terus berjalan tanpa mampu dihentikan. Sekalipun ratusan juta permohonan untuk menghentikan waktu sedetik saja di ajukan para manusia, semuanya hanya sia-sia tanpa kehendak tuhan yang esa.


Pagi itu Eva dan keluarga nya tengah duduk santai diatas meja makan menyantap hidangan yang dimasak Franziska. Mereka semua fokus makan tanpa da yang memulai pembicaraan.


"Kak Ilse, Gerlt mau omelette buatan kakak." Celetuk Gerlt.


"S-sebentar Gerlt, kakak buat-"


"Biar mama yang buatkan. Kamu jangan terlalu manja sama kakak kamu, dia sudah sangat ingin pergi dari rumah ini jadi kamu harus belajar untuk tidak bergantung padanya lagi." Ketus Franziska seraya beranjak ke dapur.


Mendengar ucapan Franziska yang menusuk hati, Ilse hanya bisa tertunduk dengan mata berkaca-kaca. Suasana terasa semakin hening dan canggung untuk melanjutkan makan, Eva sendiri malah beradu tatap pasrah dengan sang ayah.


"Kak Ilse emang mau kemana?"


"Gerlt, kakak kamu sudah dewasa. Dia sudah berada di usia yang pas untuk menikah." Sahut Friedrich.


"Menikah dengan siapa? Gerlt kira Kakak masih belum punya pacar dan sibuk bekerja."


Dari arah dapur terdengar suara pongprang barang yg diambil dengan kasar oleh Franziska, ia semakin tidak senang bila membahas alasan Ilse harus cepat menikah.


"Gerlt sudahlah jangan banyak bertanya, anak kecil cukup tahu saja." Timpal Eva.


"Hmm..." Gerlt mengulum bibir dengan kesal.


"Sudah-sudah, lanjut makan nanti dingin." Seloroh Friedrich.


Sebenarnya sejak awal Eva merasa ada yang tidak beres dengan hubungan antara Ilse dan Hema. Tentunya sebab Eva sudah mengenal Ilse sejak lama bahkan hidup bersama dari kecil hingga sekarang.

__ADS_1


Kakak adalah perempuan yang pemilih, dia pernah berkata hanya akan menikah dengan laki-laki yang memberinya banyak keuntungan menjalani sisa hidup. Tidak mungkin kakak mau melakukan hal seperti itu di pertemuan pertama. Apa jangan-jangan....


"Mmm kak, kerjaan kakak di kantor gimana?" Seloroh Eva.


"Lancar seperti biasanya, hanya baru-baru ini ada kampanye besar jadi kami sibuk lembur untuk meliput dan membuat laporan."


Tuhkan dugaan aku benar.


"Kakak ini sekarang kerja di divisi apa?" Eva kembang-kempis hanya bertanya seperti itu saja, rasanya ia benar-benar takut Kakaknya akan mengetahui identitas asli Hietlar.


"Dulu saat masih magang kakak pernah bekerja turun langsung ke lapangan, tapi sekarang sudah naik jabatan jadi kakak memilih untuk bekerja di pengolahan data saja."


"Ohh begitu, iya bagusss...."


Huh syukurlah setidaknya kakak tidak akan melihat Hietlar secara langsung di tempat kampanye


"Kenapa tiba-tiba membahas kerjaan kakak? tumben."


"A-aku hanya penasaran saja kak, sudah lama punya kakak yang kerja di kantor berita dan pasti punya banyak informasi kejadian-kejadian penting di negara ini tapi aku tidak memanfaatkanya dengan baik. hehe..."


"Banyak, kalau ada yang mau kamu tahu tinggal tanya saja."


"Ini omelette kamu, habiskan." Franziska menaruh sepiring omelette dihadapan Gerlt.


"Oh iya kemarin mama liat Hietlar keluar malam-malam, apa kalian sedang bertengkar?"


Uhuk uhuk (Eva tersedak air)


"N-nggak mah, Eva cuma nyuruh dia untuk menemani para bawahannya di hotel." Eva berdalih.


"Hmm iya syukurlah. Kamu harus baik-baik dengan Hietlar, dia adalah laki-laki yang bertanggungjawab, mau memperjuangkan kamu secara terang-terangan, berbudi, dari keluarga baik-baik dan memiliki sopan santun. Tidak seperti beberapa laki-laki yang malah berani menyentuh perempuan yang baru bertemu dengannya beberapa jam." Ketus Franziska.


Ucapan Franziska bagaikan tombak yang menembus dada Ilse dan Eva secara bersamaan.


Maaf ma, Eva belum bisa mengungkapkan identitas asli Hietlar sebelum Eva mendengar alasannya melakukan semua ini. Semoga saat Eva jelaskan nanti mama akan mengerti...


"Eva sudah selesai makan, ada janji sama pak Henrich jadi Eva keluar dulu." Ucap Eva seraya beranjak pergi.


Ditempat lain, Henrich tengah membaca koran dengan santai di ruangan VIP Kafetaria Frishcut langganan nya sembari menikmati secangkir kopi hangat.


"Tuan, 25 titik panti asuhan keluarga Hietlar sudah ditemukan. Apa yang harus Kita lakukan selanjutnya?" Ucap seorang lelaki berbadan tegap tertutup tudung hitam yang berbulu.

__ADS_1


"Baru 25? Hietlar punya 80 panti asuhan dan 120 anak cabang. Apa saja kerjaan kamu selama ini baru bisa menemukan segitu hah?"


Brakk


Henrich melempar segelas kopi panas tersebut ke baju si laki-laki bertudung hitam. Sontak lelaki itu langsung duduk bersimpuh.


"Maaf tuan, tapi semua panti asuhan ini sangat susah untuk ditemukan karena dijaga dengan ketat. Bisa menemukan 25 titik panti asuhan saja kita harus kehilangan banyak nyawa penjaga."


"Huh....Lalu bagaimana dengan pusat Panti? Apa kamu sudah menemukan titiknya?"


".... M-maaf tuan, bel-"


"Huh...Pergi dan cari informasi lagi, utamakan untuk mencari pusatnya dulu. Kalau sudah ada kabar baru kamu datang lagi menemuiku."


"Baik tuan..."


Tok


Tok


"Tuan ada tamu anda datang." Ucap pelayan dari luar.


Mendengar nya si laki-laki bertudung hitam itu bergegas keluar melalui pintu darurat, sementara Henrich berusaha menarik nafas dan menetralkan pikiran.


"Suruh masuk!"


Cklek (pintu terbuka)


"Eva? Aku tidak menyangka kamu akan benar-benar datang." Henrich terperanjat kaget.


"Sepertinya aku datang tidak di waktu yang tepat." Seloroh Eva sembari menyisir ruangan yang berantakan.


"Ah ini...Aku hanya sedang emosi sesaat jadi kadang suka susah untuk mengendalikan diri." Henrich tersenyum canggung.


"Hmm tidak usah berbasa-basi. Kamu pasti sudah tahu bahwa kedatangan aku kesini hanya ingin mendengar kebenaran tentang Hietlar."


"Apa kamu akan membantu aku jika aku menceritakan segalanya tentang Hietlar?"


"Tergantung pada kisah yang kamu ceritakan." Eva tersenyum licik.


................

__ADS_1


__ADS_2