
Wolf menatap sekilas wajah Eva yang tengah meminta jawaban darinya.
"Sepertinya mereka pulang kerumah Henrich dulu. Aku dengar dia ingin memperkenalkan istrinya padaku. karena waktu mereka menikah aku tak sempat hadir."
Memang Henrich dan Wolf sudah lama berteman baik, karena kesibukan masing masing mereka jadi jarang bertemu. Bahkan saat pernikahan Henrich pun Wolf sampai tidak sempat datang. Makanya sebagai teman yang baik Henrich sepertinya sedang menjemput sang istri untuk memperkenalkan nya pada sahabat karibnya tersebut.
Disamping itu, setelah menyisihkan jas diatas sofa, lelaki jangkung yang nampak seumuran dengan Henrich itu merogoh sebatang rokok dari saku jas nya. Menyalakan korek dan menyesapnya perlahan seraya berdiri memandangi pemandangan kota dari balik jendela.
Tatapan Eva meliar, menelanjangi punggung Wolf yang lebar dan gagah. Ada daya tarik tersendiri dalam benaknya yang enggan membuat matanya beralih dari Wolf.
Tanpa sadar, Wolf juga memperhatikan Eva dari pantulan jendela. Ia menyesap rokok ditangannya dan menaruh puntung rokok yang baru beberapa kali dihisap tersebut di pinggir jendela.
Wolf berbalik badan, berjalan perlahan menghampiri Eva yang langsung mengalihkan pandangan saat melihat Wolf berbalik. Lelaki itu tersenyum tipis, menelisik ujung kaki hingga ujung rambut gadis yang tengah duduk di kursi tersebut.
"Kamu sudah memiliki kekasih, Eva?" Wolf bertanya seraya menumpu kedua tangannya pada sandaran kursi yang diduduki Eva.
Deg, Pertanyaan yang sedari tadi Eva tunggu akhirnya dilontarkan juga.
"B-belum tuan."
Wolf tersenyum tipis, ia kembali berjalan dan menyeret kursi disamping Eva seraya duduk diatasnya. Ia menatap netra gadis itu dengan lekat.
Lagi, Wolf merogoh sesuatu dari balik saku celananya. Ia mengeluarkan selembar kertas dan menyodorkannya pada Eva.
"Ini adalah nomor teleponku, hubungi aku kapanpun jika kamu membutuhkan ku." Ujarnya.
Eva menatap selembar kertas tersebut seraya menahan degup jantung yang lagi lagi meronta, debaran yang semakin kuat berusaha ia tahan. Namun tak bisa dipungkiri, wajahnya memerah seperti tomat matang.
Ini adalah sebuah keberuntungan bagi Eva yang selama ini terus melajang. Siapa sangka dalam pertemuan pertama lelaki itu langsung menyodorkan nomor telpon. Eva tentunya juga paham bahwa Wolf sepertinya juga tertarik padanya.
"B-baik tuan, terimakasih-"
Cklek
"Hallo bung! Maaf membuat kalian menunggu lama, aku menjemput istriku dulu." Ucap Henrich
Ia datang menggandeng seorang perempuan cantik bergaun persik yang terlihat lebih muda dari Henrich, usianya mungkin kisaran 20 tahun. Tak terlewat, Gerlt juga terlihat mengikuti keduanya dibelakang.
__ADS_1
Wolf segera berdiri dengan senyum lebar, mengangkat tangannya untuk berjabat dengan perempuan tersebut. "Namaku A.Hietlar, Nyonya"
Ucapan Hietlar memudarkan senyuman lebar yang terpatri di bibir ranum Eva. Untuk sesaat, Ia mempertanyakan lagi identitas laki laki yang berdiri dihadapannya tersebut.
Hietlar? Bukankah namanya Wolf? mengapa dia memperkenalkan diri padaku dengan nama lain, siapa sebenarnya dia?
Bukan hanya senyum Eva yang memudar, raut wajah Henrich juga berubah drastis bagaikan terkena sambaran petir dahsyat ditengah siang bolong.
"Senang berjumpa denganmu, Hietlar . Aku Erna Grabke, Panggil saja Erna. Istri Henrich." Ucap Erna.
Keduanya saling berjabat tangan dan tersenyum satu sama lain.
Berbeda dengan Henrich, ia sedari tadi menyipitkan mata dan menaik turunkan kedua alisnya seolah tengah bertelepati memberikan pertanyaan maksud dari Hietlar menyebutkan nama aslinya barusan.
"Silahkan duduk dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Henrich." Ucap Hietlar .
Hietlar menarik lengan Henrich dan berjalan keluar dari Ruangan. Langkahnya yang besar dan buru buru membuat mereka dengan cepat luput dari pandangan Eva, Gerlt dan Erna yang tengah duduk berkumpul di meja makan.
Hietlar terus menuntun Henrich menuju ke ujung lorong. Mereka berdua berdiri tepat di samping jendela yang mengembun karena cipratan air hujan. Kedua lelaki itu malah diam tak ada yang memulai pembicaraan.
"kamu suka pada Eva?" Celetuk Henrich.
"Iya-"
"Ck. Tapi tidak seharusnya kamu mengungkapkan nama aslimu padanya." Henrich berdecak kesal.
"Hanya sebuah nama, aku tidak ingin memulai hubungan dengan sebuah kebohongan."
Henrich terkekeh mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Hietlar, seolah segala sesuatu yang dilakukan oleh Hietlar pada dasarnya tidak ada yang memiliki kejujuran sama sekali.
"Kenapa tertawa, aku serius." Hietlar menyipitkan mata.
Ia merasa Henrich tidak percaya dengan perkataan nya barusan.
Memang Henrich dan Hietlar sudah saling mengenal cukup lama, bahkan pernah berjuang bersama antara hidup dan mati. Tentunya Henrich tahu segala hal termasuk identitas asli Hietlar .
Sedari awal Henrich dan Hietlar telah sepakat jika bertemu orang asing di kota Munchen mereka akan memperkenalkan Hietlar dengan nama samaran. Termasuk seperti yang dilakukan Henrich pagi ini, memperkenalkan Hietlar dengan nama Tuan Wolf pada Eva dan Gerlt.
__ADS_1
Tentu saja mereka memiliki alasan tersendiri mengapa menyembunyikan identitas Hietlar .
"Jangan main main dengan Eva, Dolf. Dia perempuan yang baik. Tersentuh oleh tangan kotor kita hanya akan mempersulit hidupnya." Tegas Henrich.
Dolf adalah panggilan akrab yang diberikan Henrich pada Hietlar .
"Aku juga sedang berpikir demikian." Ucap Hietlar seraya melirik langit gelap dan deraian air hujan dari balik jendela.
Ditempat lain, seperginya Henrich dan Hietlar kini di ruang makan hanya tersisa Eva, Erna dan Gerlt. Ketiganya baru bertemu, jadi wajar bila tidak ada yang berbincang dan sama sama canggung.
Eva duduk diantara Erna dan Gerlt. Mereka sesekali saling bertatapan dan tersenyum tipis. Menyadari bahwa dua lelaki itu tak kunjung datang, Erna berusaha mencairkan suasana.
"Hallo nona, namaku Erna." Erna mengulurkan tangannya.
Manik mata Erna yang hijau berkilau sepintas membuat Eva berdecak kagum memuji kecantikan sang istri majikan tersebut.
"Hallo nyonya, nama saya Eva Braun. Panggil saja Eva. Saya karyawan Pak Henrich. Dan ini adik saya, Gerlt." Eva berdiri dengan gugup seraya meraih tangan Erna.
Keduanya saling berjabat tangan dan melempar senyuman. setidaknya suasana tidak terlalu canggung lagi bila keduanya sudah saling mengenal.
"Ohh iya, saya sering mendengar cerita tentang kalian dari Henrich." Timpal Erna.
Perempuan berkulit putih itu menatap wajah cantik Eva dengan berbinar, Sebelumnya ia sempat berpikir bahwa Eva adalah istri Hietlar . Sementara Eva hanya tersenyum kecil, menanggapi ucapan Erna.
"Nyonya, Lelaki yang barusan pergi bersama pak Henrich itu siapa? Kata Pak Henrich nanti saya akan menjadi fotografer pribadi nya, tapi saya tidak tahu apapun tentang beliau." Ujar Eva.
Dengan harapan Erna mau memberikan sedikit background kehidupan mengenai lelaki bernama Hietlar tersebut, Eva memberanikan diri untuk bertanya.
"Oh lelaki tadi. Saya tidak terlalu tahu banyak, Hanya tahu sekedar nama dan tahu bahwa dia adalah teman Henrich saat masih menjadi tentara." Tutur Erna.
Lagi, Eva menghela nafas panjang dan mendengus kasar. Laki laki yang baru ia temui itu rupanya menyimpan banyak misteri.
Disamping itu, Gerlt lagi lagi menarik rok Eva berulang kali. Eva yang geram langsung menoleh pada Gerlt dengan tatapan tajam.
"Kakak, perempuan itu berbohong." Bisik Gerlt.
......................
__ADS_1