
Eva mulai gelisah, sebab raut wajah orang tuanya berubah drastis. Sangat dapat dilihat dengan jelas bahwa Friedrich dan Franziska ragu dan bingung harus menjawab apa.
Akhir akhir ini memang keluarga Braun selalu di kejutkan dengan tindakan yang dilakukan oleh Eva, putri kedua mereka yang dikenal lembut dan patuh itu tiba tiba menjadi berubah. Apalagi pernyataan Hietlar barusan yang cukup mencengangkan.
Ntah apa yang membuat lelaki yang baru mengenal Eva satu hari itu langsung meminta restu untuk menikahi dan membawa Eva pergi ke tempat asalnya.
"Mah, pah. Aku siap jadi isteri Tuan Hietlar. Tolong berikan kami izin dan restu kalian." Seloroh Eva.
"APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN DENGANNYA?! APA KAMU HAMIL?!" Sentak Franziska dengan tatapan tajam.
"Tenang mah tenang masih ada Gerlt." Friedrich berusaha menenangkan Franziska.
"Nggak mah aku nggak hamil!"
"Aku kan baru bertemu dengan Tuan Hietlar kemarin." Ujar Eva.
"Kalau begitu kenapa pria yang baru kamu kenal sehari ini tiba tiba langsung datang melamar?!" Franziska masih emosi.
"Nyonya, saya jatuh cinta dengan Eva sejak pandangan pertama. Eva tidak melakukan kesalahan apapun." Tutur Hietlar.
Pria itu terdengar sudah sangat mantap ingin menjadikan Eva sebagai isterinya. Bahkan Hietlar sudah mempersiapkan banyak barang untuk di berikan kepada keluarga Braun sebagai mahar.
"Eva, maaf aku lupa. Harusnya aku memberikan barang barang ini saat aku melamar mu di Park English tadi siang. Sebagai gantinya aku akan melamar mu langsung dihadapan kedua orang tuamu sekarang." Hietlar beranjak menghampiri Eva.
"Tunggu sebentar! Ada yang ingin kami bicarakan dengan Eva, silahkan Kalian keluar dulu!" Ucap Friedrich seraya membentang satu tangan, mengisyaratkan kepada Hietlar dan Powll untuk menunggu terlebih dahulu di luar rumah.
Hietlar dan pawll tak bisa menolak, keduanya berjalan menuju ambang pintu dan lekas menggunakan sepatu. Tepat sebelum luput sepenuhnya dari pandangan Eva, Hietlar sempat melontarkan senyuman tipis.
Senyuman yang seolah berkata pada Eva untuk tetap tenang dan berpikir dengan bijak.
"Kakak, ajak Gerlt keatas. Ini bukan pembicaraan yang cocok di dengarkan oleh anak kecil." Celetuk Friedrich.
Ilse mengangguk paham, ia langsung menggiring Gerlt menuju kamarnya di lantai dua.
Disisi lain, Eva semakin gelisah. Tatapan kedua orangtuanya semakin menyipit dengan tajam. Keringat dingin bahkan mulai turun bercucuran membuat Eva semakin tidak merasa nyaman.
__ADS_1
"Kamu tahu usia dia berapa?" Seloroh Franziska.
"S-sekitar 40 tahun....mah."
Hanya dengan mendengar jawaban Eva saja barusan kedua orangtuanya langsung menunduk dengan kecewa yang bercampur marah.
"Apa dia sudah menikah? apa pekerjaannya?" Sambung Friedrich.
"Sepertinya belum. Sejauh ini ini yang aku tahu Tuan Hietlar adalah anggota dewan negara."
"SEPERTINYA? APA MAKSUD KAMU SEPERTINYA?" Franziska sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Bagaimana kamu bisa selugu ini hah? Kamu belum mengenal pria itu terlalu lama, tetapi dengan beraninya menerima lamaran begitu saja, bahkan tanpa bertanya dulu pada orang tua!" Sambungnya.
"Iya Eva, bagaimana jika pria itu sebenarnya sudah menikah dan ingin menjadikanmu sebagai simpanan?!" Seloroh Friedrich.
"Tidak, Tuan Hietlar buka lelaki seperti itu! Eva yakin."
"Terserah mama dan ayah mau memberikan restu atau tidak. yang jelas aku sudah memberitahukan niat aku sebelumnya, dan aku akan tetap pergi ke Berlin bersama Tuan Hietlar, Dengan atau Tanpa restu kalian."
Namun sudah tidak ada waktu lagi untuk mengajari Eva, saat ini dirinya sudah mantap untuk tetap pergi dengan Hietlar meskipun tanpa restu kedua orangtuanya.
"Rusuh sekali Eva, apa kamu sangat ingin meninggalkan aku dan Gerlt?" Celetuk Ilse seraya menuruni anak tangga.
"A-aku akan sering berkunjung ke Munchen, Kak."
Friedrich dan Franziska sudah kehabisan kata kata untuk menasehati Eva. Keduanya hanya bisa merenung kecewa, ntah kelalaian apa yang mereka perbuat hingga mendidik Eva menjadi gadis yang lugu dan tidak berpikir menyeluruh.
Namun bagaimanapun Kedua orang tua Eva tetap menyayangi Eva. Mereka lebih rela ditinggalkan putrinya dengan baik baik daripada ditinggalkan dalam keadaan marah.
"Terserah padamu saja, jika benar benar sudah mantap." Lirih Friedrich.
"Yah!" Ketus Franziska seraya memukul lengan Friedrich.
Perempuan itu seolah masih tidak merestui hubungan antara Eva dan Hietlar. Ia pun beranjak dari sofa dan meninggalkan mereka dengan kesal.
__ADS_1
Sementara itu Eva keluar dan meminta Hietlar serta Powll untuk kembali masuk kedalam rumah.
Untuk sesaat ruangan tamu yang biasanya hangat dengan keharmonisan keluarga Braun tiba tiba menjadi sunyi dan dingin. Bahkan deruan nafas masing-masing pun bisa terdengar dengan jelas.
"Tuan, aku tahu ini terlalu Tiba tiba. Namun aku janji akan sering berkunjung ke Munchen." Celetuk Hietlar
"Hmm. Saya disini tidak bisa berbuat banyak, Eva sendiri sudah bersikukuh ingin ikut bersama kalian. Sebagai ayahnya, saya hanya ingin menitipkan Eva. Tolong perlakuan dia dengan baik!" Ujar Friedrich bijak.
Ungkapan tersebut menuai senyum lebar yang mulai terpatri di wajah tegang Eva, Hietlar dan Powll. Mereka akhirnya bisa bernafas lega setelah mendapatkan restu dari ayah Eva.
Sementara itu Powll menyerahkan beberapa paperbag kepada Friedrich. "Tuan Braun, karena pertunangan ini terlalu tiba tiba dan kami tidak punya waktu banyak. Hanya ini yang bisa kami persiapkan, sisanya akan menyusul."
"Tidak usah repot repot nona, tidak banyak yang kami minta selain kebahagiaan untuk Eva." Sahut Friedrich.
Eva senang ayahnya bisa menerima keputusan nya, namun disisi lain ia juga merasa sedih karena mama nya enggan turun bahkan untuk sekedar berpamitan. Gadis itu izin berlalu dari ruang tamu dan mengambil beberapa barang penting di kamar.
Benar benar tidak terduga, Eva mengamati kamar yang mungkin akan sangat ia rindukan nantinya, ia meraih tas ransel dan memasukkan beberapa pakaian serta beberapa bingkai foto kemudian dengan berat hati menutup pintu kamar.
Untuk sesaat Eva berhenti tepat diambang pintu kamar orang tuanya yang terkunci rapat.
"Ma, Eva berangkat dulu ya. Semoga mama sehat terus. Eva janji akan sering datang berkunjung." Ujar Eva.
Namun setelah beberapa lama, Franziska tak kunjung membukakan pintu. Dengan perasaan sedih seraya menahan air mata di relung dada, Eva berjalan menghampiri kamar adiknya, Gerlt.
"Gerlt, kakak pamit ya." Ucap Eva sembari langsung memeluk Adiknya tersebut, ia tak kuasa lagi menahan deraian air mata.
"Kakak mau pergi kemana?"
"Kakak mau menikah dengan Tuan Hietlar dan pindah ke Berlin. Tenang aja kakak bakal sering berkunjung ke Munchen." Sahut Eva seraya mengusap lembut rambut Gerlt.
"Kakak mau jadi istri kedua Tuan Hietlar?" Ucap Gerlt dengan polosnya.
"Apa maksudmu istri kedua Gerlt, darimana kamu mendengar hal hal aneh seperti itu?!" Eva mengusap kasar pipinya yang basah.
"Kemarin saat menjemput perempuan bibir doer bersama Pak Henrich, Gerlt sempat mendengar mereka bertengkar. Pak Henrich sepertinya tidak ingin memperkenalkan Pria beristri seperti Tuan Hietlar kepada gadis remaja seperti kakak, namun istrinya itu bersikeras mempersatukan kalian." Ujar Gerlt.
__ADS_1
................