
Eva tertegun menatap beberapa lembar kertas dalam sebuah amplop coklat yang di sodorkan oleh Henrich. Ia meraih lembaran tersebut dan melihatnya dengan lebih detail.
"Ini daftar daftar......" Mata Eva membulat sempurna.
"Itu adalah daftar lokasi 25 cabang markas pasukan Hietlar. Dengan kekuatan dan kekuasaan nya sekarang, Hietlar memiliki 80 markas besar dan 120 cabang markas kecil, dan diantara 200 markas tersebut aku hanya bisa menemukan 25 bahkan tidak bisa menemukan titik markas pusatnya." Ujar Henrich seraya mengaduk kopi ditangannya dengan tatapan tajam.
"Tapi disini tertulis panti asuhan, bagaimana bisa disebut markas?"
"Bunglon berkamuflase untuk mengelabui musuh, aku yakin kamu tidak sebodoh itu!"
Yang dikatakan Henrich memang masuk akal. Pada kenyataannya aku pernah berkunjung ke salah satu panti yang di ceritakan oleh Henrich, Tapi.....aku tidak melihat nama panti itu di dalam daftar ini, apa jangan-jangan itu adalah markas pusat?
Keringat dingin mulai bercucuran, Eva meneguk keras saliva nya seraya menggenggam erat kertas yang tengah ia tatap. Begitu banyak kebohongan yang telah Hietlar sembunyikan darinya membuat Eva merasa sangat terpukul, ditambah Hietlar secara tidak langsung menaruh Eva dalam posisi yang sulit sebab membiarkan Eva tahu banyak hal tentang rahasia-rahasia besarnya yang tertutup rapat dari dunia.
"Melihat gelagatmu, sepertinya aku tidak sia-sia mengundangmu datang ke sini." Henrich tersenyum licik.
"A-aku tidak tahu apapun tentang panti atau markas yang kamu ceritakan ini. Aku hanya perempuan bodoh minim pendidikan yang terjerat kedalam lubang hitam kalian." Eva berdalih.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa saja yang sudah kalian lakukan selama di Berlin? Aku rasa sangat mustahil jika Hietlar tidak pernah membawamu ketempat istimewa yang dijaga ketat oleh banyak penjaga?!"
Lelaki itu kembali meraih pistol yang sempat ia letakkan dan menodongkan nya pada leher jenjang Eva yang sudah basah oleh keringat.
"A-apa yang s-sebenarnya Tuan inginkan dariku?"
"Jelaskan tempat-tempat yang pernah kamu kunjungi bersama Hietlar saat di Berlin!" Henrich semakin menekan leher Eva dengan pistol hingga gadis itu mulai bernafas dengan tak teratur.
"A-aku sempat berpikir, apa selama ini tuan sengaja mendekatkan Hietlar denganku supaya aku bisa menjadi orang yang berguna untuk tuan?"
"Cih, tebakan yang tepat. CEPAT CERITAKAN PERJALANANMU DI BERLIN!" Tegas Henrich.
Eva berusaha memutar otak dengan cepat untuk menjawab pertanyaan Henrich. Ia benar-benar dibuat dilema untuk memilih berpihak pada siapa. Disisi lain Henrich mengancam nyawanya untuk berbuat kebaikan namun disisi lain kebaikan Hietlar selama ini masih membuat Eva merasa iba untuk berkhianat darinya.
Aku tidak bisa mengkhianati Hietlar, setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas perlakuan baiknya selama ini.
Bruk
__ADS_1
Eva meraih segelas kopi hangat diatas meja dan menyemburkan nya ke wajah Henrich. Lantas lelaki itu menutupi matanya yang pedih terkena air kopi.
"ARGHH...PEREMPUAN SIALAN!" Pekik Henrich.
Sementara Henrich mengerang kesakitan, Eva memanfaatkan waktu untuk melarikan diri dari kafe. Beruntungnya pintu ruangan mereka tidak terkunci dan dua penjaga yang menunggu pintu tengah asik merokok di ujung lorong hingga Eva bisa menyelinap turun dan keluar dengan cepat meninggalkan Kafetaria Frishcut.
"PENJAGA!! PENJAGA!!" Henrich berteriak emosi dengan mata terpejam.
"Iya tuan?...Hah apa yang terjadi tuan?!" Sahut dua penjaga yang langsung masuk.
"Cepat tangkap perempuan itu hidup-hidup! Jika kalian menemukan nya sudah bertemu dengan Hietlar langsung bunuh saja di tempat! CEPAT!!"
"B-baik Tuan." Dua penjaga itu lantas dengan tergesa-gesa urun mencari keberadaan Eva yang lari ntah kemana.
"SIALAN! Gadis bodoh! Arghhh...Brak!" Pekik Henrich seraya menendang dan meluluhlantahkan ruangan.
Disisi lain, Eva tengah berlari sekuat tenaga dari kejaran para penjaga Henrich yang dengan cepat melihat keberadaan Eva ditengah keramaian jalan dan mulai mengejarnya.
"Hey berhenti!" Pekik salah satu penjaga.
"Kita berpencar saja, sepertinya gadis itu menuju ke kantor polisi!"
"Baik!"
Sementara itu Kedua penjaga tersebut mulai berpencar dan meniup sebuah peluit untuk mengisyaratkan keadaan darurat pada anak buah Henrich lainnya yang tengah berjaga di daerah tersebut.
Eva yang tengah dirundung rasa takut dan gelisah berlari dengan cepat sampai melepas pantofel yang ia kenakan dan berlari tanpa alas agar lebih leluasa. Disamping itu, Eva benar-benar tidak memperhatikan lingkungan sekitar yang sangat ramai dengan pejalan kaki dan para pengendara mobil.
Bruk...Arghh
Dengan keras Eva tertabrak seorang pengendara mobil yang tengah ngebut dan terpental hingga kepalanya berbenturan keras dengan aspal jalan. Eva pun jatuh tak sadarkan diri dengan darah yang mulai mengalir dari kepalanya.
...----------------...
Ditempat lain, Hietlar tengah merapihkan jas dan bersiap masuk kedalam rumah Braun bersama dengan Hema dan para penjaganya yang telah siap dengan ratusan mahar yang mereka bawa. Dengan senyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang berseri Hietlar melangkahkan kaki hendak memencet bel.
__ADS_1
"Tuan! ada kabar mendesak!" Seorang penjaga datang dengan tergesa-gesa.
"Ada masalah apa, bukannya aku menugaskan kamu untuk mengawasi Eva!" Seloroh Hietlar.
"Kami mengikuti Nyonya Eva hari ini ke sebuah kafe, tiba-tiba nyonya keluar sembari berlari dikejar oleh beberapa pria dewasa."
"APA?! lalu dimana dia sekarang? apa dia baik-baik saja?!"
"S-salah satu dari kami mengejar nyonya untuk memastikan keselamatan nya sedangkan saya pulang untuk mengabari situasi ini pada tuan."
"BODOH! HARUSNYA KAMU SELAMATKAN DULU EVA BARU MELAPOR PADA KU! ARGGH SIAL!" Pekik Hietlar seraya berjalan menuju mobil.
"Kerahkan semua bawahan untuk mencari Eva! pastikan istriku ditemukan dalam keadaan hidup!" Imbuhnya.
"Baik tuan."
Semua penjaga Hietlar mulai berhamburan menyisir setiap sudut kota Munchen, mereka saling menghubungi satu sama lain melalui walkie talky untuk berkabar informasi. Sementara Hietlar dengan panik mengendarai mobil sendiri ditemani Hema di sampingnya. Ia benar-benar kalang kabut ugal-ugalan memutar pandangan ke setiap jalan yang yang mereka lalui.
"Tuan hati-hati, ini terlalu berbahaya biar saya saja yang menyetir." Seloroh Hema.
"Diam! Apa ada kabar dari penjaga?!" Tukas Hietlar.
"Sebelumnya nyonya keluar dari Kafetaria Frishcut, mungkin kita bisa menemukan nya tak jauh dari sana."
Hietlar langsung banting setir dan menuju kafe tersebut dengan cepat. Ditengah ketegangan ini Hema dapat melihat sisi lain dari sikap tuannya. Lelaki yang biasanya kejam, tidak pandang bulu dalam membunuh dan sangat haus ambisi kini bisa tunduk dan takut kehilangan seorang perempuan.
Tak lama berselang, mereka sampai di depan kafe. Hietlar beranjak menghampiri kasir sementara Hema menyisir seluruh ruangan untuk mencari orang yang mencurigakan.
"T-tuan Hietlar? Lama tidak berjumpa, mari saya siapkan tempat yang nyaman untuk anda." Sapa kasir.
"Tidak perlu. Apa kamu melihat perempuan yang pernah aku bawa kesini sebelumnya?" Hietlar berterus terang.
"Y-ya, Tuan. T-tadi pagi nyonya datang kesini, tapi sudah pergi." Ucap kasir seraya memutar bola matanya dengan gugup.
"Siapa yang bertemu dengannya?!"
__ADS_1
......................