Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Menyambut Davin pulang


__ADS_3

Hari ini Alsha sebisa mungkin mengerjakan seluruh pekerjaannya dengan cepat, karena ia berharap bisa pulang lebih awal agar tak lagi mendapatkan hukuman dari suaminya.


Alsha bersyukur karena pekerjaannya benar-benar selesai di waktu yang tepat.


"Sudah mau pulang Sha, mau saya antar?" tawar Chandra yang sudah siap hendak mengemudikan mobilnya menuju arah jalan pulang.


"Oh, i-iya pak!"


"Ayok saya antar."


Cepat Alsha mengibaskan tangannya dengan sedikit gelagapan, tidak mungkin ia pulang diantar seorang pria, mengingat bagaimana Davin begitu memandang rendah dirinya, terlebih saat menyadari jika kini statusnya adalah wanita bersuami.


Pernikahan Alsha dan Davin memang diselenggarakan cukup meriah, namun sepertinya tak ada yang menyadari jika selama ini Alsha adalah istri dari Davin Anggara Samudera, mengingat penampilan Alsha yang ia perlihatkan dengan begitu sederhana, terlebih ada sebuah kacamata tebal yang membingkai kedua matanya.


Davin memang tak menginginkan pernikahan ini terjadi, begitu pun dengan dirinya, akan tetapi mereka berdua sudah memiliki kesepakatan untuk saling menjaga nama baik mereka masing-masing didepan orang tua.


Lebih tepatnya hanya Alsha yang harus menjaga sikap, karena Davin jelas masih berhubungan dengan wanita lain.


"Tidak usah pak, lagipula tempat tinggal kita tidak searah kan, jadi bapak tidak perlu repot-repot mengantar saya."


"Saya tidak keberatan Alsha, saya antar kamu sampai rumah ya.?"


"Tidak usah pak, euhmm saya_ saya ada urusan juga sebentar, mau menemui ibu saya."


"Urusan? menemui ibu kamu? memangnya kamu tidak serumah dengan ibu kamu?"


Deg!

__ADS_1


Alsha merutuki dirinya sendiri yang sudah salah bicara.


"Maksud saya_ hari ini ibu saya sudah menunggu, kami berencana mau berbelanja bersama sore ini."


Chandra manggut-manggut, "yasudah kalau begitu saya duluan, kamu hati-hati ya dijalan."


"I-iya pak."


Alsha menghela napas lega, karena setidaknya Chandra mempercayai ucapannya.


*


Setibanya di rumah, Alsha langsung bergegas mandi dan menunggu Davin diruang depan, Alsha berharap kali ini Davin tak lagi memberikan hukuman apapun untuk dirinya.


Dua puluh menit berlalu, samar-samar terdengar suara kendaraan milik Davin yang menepi di gerbang rumah, Alsha segera beranjak menghampiri untuk menyambut suaminya pulang.


"Apa-apaan ini? sudah kukatakan jangan sentuh barang-barang milikku tanpa seizinku, kau tuli?" sentak Davin yang seketika membuat Alsha terlonjak, hingga mundur satu langkah kebelakang.


Gadis itu gelagapan dengan kedua mata memerah, "M-maaf kak."


"Menjauh dari hadapanku."


Alsha mengangguk, dengan wajah menunduk menahan laju air matanya yang hampir tumpah.


Sementara Davin bergegas memasuki kamarnya, melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya, lalu duduk bersandar dikursi kerja yang berada didalam kamarnya, menengadah dengan kedua mata terpejam.


Pekerjaan yang menumpuk, proyek mengalami masalah, Sera yang bersikukuh tak mau menikah, lalu kehadiran Alsha membuat kepalanya terasa mau pecah.

__ADS_1


"Arghhh.. sialan!"


Hari semakin sore bahkan warna langitpun sudah berubah kemerahan, Alsha masih enggan beranjak dari kursi yang ia duduki dari sejak satu jam yang lalu, tepatnya sejak Keenan lagi-lagi membentaknya.


Alsha memejamkan kedua matanya seiring dengan semilir angin yang berhembus kencang membuat rambut panjangnya bergelombang tertiup angin.


Tanpa ia sadari dibalkon atas sana seseorang terus menatapnya dengan raut tak terbaca.


"Kau kemari?" panggil Keenan saat Alsha kembali dari taman dan melewatinya diruang tamu.


"Iya kak."


"Ikuti aku." titahnya seraya beranjak menuju kamarnya.


"K-kemana kak?"


"Kau lupa hukumanmu belum selesai."


"H-hukuman kak?"


Davin menyeringai, "Ya, kenapa? apa kau pikir hukumanmu yang semalam sudah selesai?"


"Sa_"


"Cepat ikuti aku." sentaknya yang tak ingin dibantah lagi.


*

__ADS_1


*


__ADS_2