
Hening, keduanya terhanyut dalam diam, Jodi sendiri memikirkan kata yang tepat untuk memulai pembicaraannya dengan Alsha.
Ia menyadari dengan sangat ketidak tahu diriannya yang tiba-tiba muncul didepan Alsha setelah apa yang ia lakukan terhadap gadis tersebut beberapa waktu lalu.
"Jika tidak ada yang akan dibicarakan sebaiknya anda pulang saja." pungkas Alsha dengan wajah datar, membuat Jodi terhenyak seketika.
"A-alsha sebentar_ ada yang ingin ayah sampaikan."
Alsha tertawa getir, "Ayah? sejak kapan saya memiliki ayah, tolong jelaskan! karena saya pikir pendengaran saya sepertinya bermasalah."
Jodi tampak menghela, dengan kedua telapak tangan yang bertumpu diatas paha, ia kembali membuka suara.
"Maafkan ayah nak, ayahlah yang bersalah, ayah pikir selama ini ibumu telah mengkhianati ayah, ayah pikir kamu bukanlah putri_"
"Kandung anda begitu?'' sela Alsha dengan senyum getir yang kembali menghiasi wajahnya.
Jodi menunduk sedih dengan gerakan kecil ia pun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Lalu bagaimana dengan kak Jessy dan kak Anya, apakah anda membencinya karena mereka juga bukan putri kandung anda?"
Jodi kembali menghela ia menegakkan tubuhnya dan menghadap Alsha.
"Mereka memang bukan putri kandung ayah, Alsha! ayah sudah memeriksanya dalam waktu beberapa tahun ini."
"Anda pikir saya akan percaya begitu saja."
"Kamu boleh menganggap begitu, tapi jika suatu saat kamu merasa perlu mengetahui segalanya, datanglah kembali kerumah ayah, akan Ayah jelaskan semuanya, ayah akan menjawab semua pertanyaan kamu, tapi ayah minta ketika kamu datang jangan pernah membawa siapapun kecuali suami kamu."
"Anda tahu dari mana jika saya sudah menikah, lantas mengapa anda lebih percaya jika saya pergi menemui anda bersama dengan suami." ucap ketus Alsha, ia tentu masih ingat dengan jelas saat ia berharap jika dihari pernikahannya sang ayah hadir disana.
Jodi mengulas senyum kecil, "Tidak ada yang tidak ayah ketahui tentang kamu, kecuali identitas kamu yang terlambat ayah ketahui, selain itu ketiga kakakmu juga sudah memberitahu ayah."
"Tapi anda memilih untuk tidak datang."
"Maaf, Ayah saat itu tidak datang, karena ayah benar-benar belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya."
__ADS_1
"Tapi satu hal yang ingin ayah sampaikan ayah benar-benar minta maaf atas semua kesalahan ayah selama ini, ayah tahu kamu tidak akan mudah untuk memaafkannya, tapi ayah akan terus meminta maaf."
"Ayah akan pulang, ayah berharap kamu akan benar-benar kembali menemui ayah." lanjut Jodi sembari beranjak dengan langkah berat meninggalkan rumah yang saat ini ditempati oleh Alsha.
"Tuan?" Andress selaku sopir pribadi sekaligus pengawal pribadi Jodi, menunduk sembari membukakan pintu untuk sang majikannya.
"Mengenai Rossa, apakah kamu benar-benar kehilangan jejaknya?"
"Maafkan saya tuan, saya akan berusaha untuk terus mencari hingga menemukannya."
"Baiklah Andress, aku percaya kau bisa diandalkan."
"Tapi mengenai nona Alsha, apakah anda sudah mengatakannya."
"Sudah, tapi aku rasa Alsha sudah menaruh kekecewaan yang begitu besar kepadaku An, jika dia benar-benar tak bisa memaafkanku lagi aku benar-benar akan kehilangan putri kandungku satu-satunya."
"Aku memang memiliki Damon, Miko, dan juga Bima, tetapi Alsha jauh lebih berarti An, kau tahu sendiri ibunya adalah satu-satunya wanita yang aku cintai didunia ini."
Andress melirik sekilas kearah spion, dimana pantulan wajah sedih tuannya yang tampak jelas terlihat.
"An, aku ingin secepatnya mendapatkan kabar keberadaan Rossa, kerahkan beberapa orang lagi untuk membantumu mencarinya, aku ingin agar dia segera ditemukan dan membayar semuanya." ucap Jodi dengan kedua tangan terkepal disisi tubuhnya.
"Baik tuan."
*
"Sayang, apa yang terjadi? kenapa jadi kelihatan sedih begini, hm?" ucap Davin sembari mencium kening Alsha dengan lembut.
"Kak, menurut kakak apakah aku harus percaya atau tidak?"
"Apa yang kamu maksud sayang?"
"Kak Davin tidak tahu kan jika dari kecil aku tidak pernah bertemu dengan ayah, sekalipun saat pernikahan kita berlangsung dia memilih tidak datang, padahal ketiga kakak laki-lakiku sudah berusaha untuk membujuknya."
"Sayang, jika kamu tahu dia masih hidup Kenapa kamu tidak meminta kakakmu untuk mempertemukan kamu dengan dia."
__ADS_1
"Mereka tidak pernah mau mengantar atau memberitahukan aku dimana keberadaan ayah, dan aku tidak tahu alasan apa yang membuat mereka seperti itu."
"Tapi setelah kita menikah, aku berusaha mencari keberadaan kak Jessy, karena menurut kabar yang aku dengar ayah membenci semua anak perempuannya."
"Kenapa bisa begitu, lalu apakah kamu berhasil menemuinya waktu itu.?" tanya Davin lembut.
Alsha menganggukan kepalanya, "Iya, tapi saat itu juga dia mengusirku dari rumah, dia sangat marah saat aku memanggilnya dengan sebutan ayah, dari situ aku sadar dengan alasan kakak-kakakku yang menolak aku untuk mempertemukanku dengan mereka.
"Sayang_"
"Kak Davin tidak harus pasang wajah yang begitu, aku tidak mau dikasihani, aku baik-baik saja." ucap Alsha sembari memalingkan wajahnya dengan bibir mengerucut, membuat Davin yang semula memasang wajah sedih kini menjadi tertawa.
"Baiklah sayang, aku tahu kamu gadis yang kuat! maaf, seharusnya saat itu aku ikut membantu bukan malah ikut-ikutan menyakitimu."
"Kak sudahlah, semuanya sudah berlalu kan, aku tidak mau mengungkitnya lagi."
"Maaf! dan terimakasih sayang, kedepannya aku akan berusaha untuk menjadi suami yang lebih baik lagi, menjadi ayah yang baik juga buat anak kita."
Alsha tersenyum, "Aku percaya kak Davin sebenarnya memang orang yang sangat baik, aku tahu saat itu kakak hanya salah paham terhadapku."
"Ah, bagaimana mungkin didunia ini ada seorang wanita sepertimu sayang, betapa beruntungnya aku memilikimu."
"Jadi bagaimana, menurut kak Davin tentang ayah Jodi, apakah dia terlihat tulus saat mengakui kalau dia benar-benar ayahku."
"Sayang dengar! bukankah kamu sering mendengar peribahasa bahwa darah lebih kental dari pada air?"
Alsha tampak mematung beberapa saat, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan suaminya.
"Tulus atau tidaknya, kamu sendiri yang lebih mengetahuinya sayang."
Untuk beberapa saat Alsha terdiam, namun detik berikutnya ia mengangguk mengerti.
"Aku mengerti kak."
*
__ADS_1
*