
Disinilah keduanya kini disebuah Cafe sederhana yang letaknya tidak jauh dari toko kosmetik milik Jessy, tak lupa sebelumnya Jessy menutup tokonya terlebih dahulu, karena selain sudah sepi oleh pembeli, hari pun sudah beranjak sore.
Jessy tak lagi mampu untuk menghindar dan mencari-cari alasan lain, karena Alsha tampak keras kepala tak ingin pergi jika mereka belum berbicara empat mata.
"Kak, dimana ayah?" pertanyaan yang sejak lama selalu gadis itu tanyakan pada Rossa kini ia tanyakan juga pada Jessy.
"Sha, bisakah kamu menjalani kehidupan tenang kamu yang sekarang, dan jangan lagi menanyakan keberadaanya , berbahagialah dengan suamimu, jangan kamu rusak kehidupanmu sendiri hanya karena ayah Sha."
"Memangnya kehidupan tenang seperti apa yang kakak maksud? apakah yang kakak lihat aku memiliki kehidupan setenang itu?"
"Maksudnya_ kamu tidak bahagia dengan hidupmu yang sekarang,? dek, ayolah jangan keterlaluan kami jelas tahu siapa Davin, dia laki-laki yang mendekati sempurna dari sekian Banyaknya laki-laki didunia ini, dia dewasa, mapan, kaya, lalu apalagi?"
"Jadi menurut kakak aku terlihat bahagia?" ujar Alsha dengan raut wajah yang berubah sendu.
"Sha_"
"Jika aku boleh memilih, aku lebih memilih bekerja keras menghidupi diriku sendiri meski uang yang aku hasilkan hanya cukup untuk makan, lagi pula aku tidak_" Alsha buru-buru menutup rapat mulutnya, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya didepan Jessy jika selama ini Davin tak pernah memberikan sepeserpun uang padanya.
"Sha_ apakah Davin?"
"Kak, tidak semua hal yang terlihat sempurna dari luar itu terlihat nyata didalamnya."
"Davin_"
__ADS_1
"Aku kesini jauh-jauh mencari kak Jessy bukan ingin membahas masalah Davin kak, aku ingin tahu keberadaan ayah, Katakan dimana dia kak?"
"Kak?"
"Kakak juga tidak tahu dimana dia sekarang."
Alsha berdecak, ia merasa seolah tengah dipermainkan oleh semua orang yang ada disekitarnya.
"Apakah aku begitu buruk, sehingga semua orang tak mau memberitahukan aku dimana keberadaan ayah, apakah aku anak pembawa sial, sehingga hanya aku yang tidak pernah bertemu dengan ayah kandungku sendiri, bahkan melihat fotonya pun aku sama sekali tidak pernah, dan siapapun tak pernah ada yang mau menunjukannya." ucap Alsha sambil terisak, membuat Jessy merasa tak tega melihatnya.
"Sha,?"
"Sekali lagi aku tanya dimana ayah kak.?"
"Aku tidak mengerti kakak berbicara soal apa, yang aku ingin ketahui dimana keberadaan ayah sekarang?"
Jessy mengangguk pasrah, "Baiklah kalau itu pilihan kamu, kakak akan membantu kamu untuk bertemu dengannya sore ini juga, tapi kakak tanya sekali lagi apa kamu benar-benar sudah siap bertemu dengan dia, siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi nantinya."
"Aku siap!" balas Alsha tanpa keraguan, sementara Jessy hanya menggeleng pelan, dan berbicara dalam hati.
Apakah setelah bertemu dengannya, kamu masih akan terlihat seceria ini dek? batin Jessy menatap kasihan pada sang adik.
Akhirnya Jessy pun membawa Alsha kesebuah tempat lebih tepatnya sebuah rumah mewah yang jauh lebih besar dari rumah yang pernah ditempati Rossa saat itu.
__ADS_1
"I-ini rumah ayah kak,?" tanya Alsha begitu keduanya turun dari Taxi yang membawanya ketempat tersebut.
"Iya, benar ini rumah Ayah." ujar Jessy dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah datar, berbeda dengan Alsha yang tampak antusias menghampiri gerbang tinggi didepannya.
"Maaf, cari siapa?" sapa seorang laki-laki yang Alsha yakini adalah penjaga rumah itu.
"Euhmm_"
"Pak Jodi nya ada?" Jessy menyela.
"Mbak siapanya?"
"Saya_ saya klien pak Jodi."
''Kak?" bisik Alsha sembari menarik ujung baju yang dikenakan Jessy, "Kenapa kakak bilang kliennya ayah?" protesnya.
Jessy hanya tersenyum seraya mengusap punggung tangan Alsha.
"Tunggu sebentar, saya akan panggilkan tuan kedalam." ucap lelaki berseragam navy tersebut seraya beranjak dari tempatnya.
*
*
__ADS_1