Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Bukan pasangan


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja?" ujar Chandra yang menyadari jika saat ini Alsha terlihat tak bersemangat menemaninya, sedangkan posisi mereka kini sudah berada didepan gedung tempat diselenggarakannya acara.


"Ehmm.. saya baik-baik saja pak, maaf saya sedikit melamun." ucap Alsha tak enak hati.


"Kamu sedang ada masalah?"


"Tidak ada pak."


"Kamu sedang tidak berbohong kan Alsha?"


"T-tidak kok pak! oh iya, pak Chandra bawa kado?"


"Iya, tadi saya sempat mampir sebentar ditoko pernak-pernik."


"Yah saya malah nggak bawa, nggak kepikiran tadi."


Chandra tersenyum seraya mengulurkan kado yang ia bawa ketangan Alsha, "Kadonya nanti kamu yang kasihin."


"Eh, tapi pak_"


Masih dengan senyumnya yang mengembang Chandra mengusap kepala Alsha, "Tidak apa-apa, ayok kita lanjut kedalam."


Alsha menganggangukan kepala, kemudian mengikuti langkah Chandra yang memasuki gedung terlebih dahulu.


Ada sesal yang tiba-tiba mendera saat tahu para tamu undangan itu keseluruhannya berasal dari kalangan atas terlihat dari cara berpakaian mereka yang tampak modis dan glamor.


Seandainya ia mengetahuinya sejak awal mungkin ia akan menolak tawaran Chandra, dan memilih berisitirahat saja didalam rumah.


Namun seperti kata pepatah nasi sudah menjadi bubur, ia tak bisa mengelak sekarang, dan terpaksa harus bertahan hingga Chandra sendiri yang memintanya untuk pulang.


Alsha semakin menundukkan wajahnya saat beberapa tamu yang kebanyakan perempuan seusianya terus menatapnya sambil berbisik-bisik.


Apa yang salah? pikirnya, padahal dia sudah memakai pakaian dan sepatu terbaik yang ia miliki.


Alsha menghela napas lirih, ia lupa siapa dan darimana dirinya berasal, sebagus apapun pakaian yang ia kenakan saat ini sama sekali tak menutupi cap nya sebagai gadis miskin, terlebih pakaian yang ia kenakan bukanlah pakaian branded yang biasa dibeli di mall-mall besar atau butik ternama.


"Alsha, ayok!" panggil Chandra, sembari menggenggam sebelah tangannya menghampiri seorang pria paruh baya yang melambaikan tangan disamping satu-satunya meja paling besar diantara yang lainnya.


"Itu pak Dimar, ayahnya Rima yang saat ini berulang tahun." bisik Chandra.


Sementara Alsha mengangguk saja ketika kemudian Chandra menariknya semakin dekat kearah Dimar.


"Chandra, akhirnya datang juga." Dimar menyambutnya dengan uluran tangan.


"Saya kan sudah berjanji akan datang, jadi ya saya datang om." balas Chandra.

__ADS_1


Dimar terkekeh, seraya melirik kearah samping Chandra dimana Alsha tengah berdiri dengan canggung.


"Ini_ pacar kamu Chan?" tanyanya, karena tidak biasanya Chandra datang kesebuah acara dengan membawa pasangan seperti saat ini.


Bagaimanapun Dimar sudah sangat mengenal Chandra, karena orang tua dari pria tersebut adalah sahabat baiknya sejak lama.


"Dia_"


"Saya Alsha pak, sekretarisnya pak Chandra." sela Alsha sembari tersenyum canggung.


"Oh sekertarisnya, saya pikir pacarnya lho tadi?"


"Bukan pak."


"Yasudah karena kalian sudah datang, sekarang nikmatilah jamuan yang ada, om pamit kebelakang dulu, Chandra Alsha makan apapun yang kalian sukai."


"Oke om."


"Iya pak, terimakasih!"


"Kita duduk disana Sha." ajak Chandra.


Tepat saat keduanya hendak duduk seorang gadis dengan dress merah tanpa lengan menghampiri Chandra dan bergelayut ditangannya.


"Kenapa nungguin aku."


"CK, pasti lupa deh! aku kan mau tiup lilin, biasanya kan setiap ulang tahun ditemenin kamu terus."


"Itu kan waktu kamu kecil Ri."


"Apa bedanya sama sekarang?''


"Ya bedalah."


"Oh iya itu siapa?" tanyanya sembari menatap Alsha tak suka.


"Saya sekertaris pak Chandra, kak!"


"Oh, aku pikir siapa? soalnya aneh aja tiba-tiba kak Chandra bawa cewek."


"Begitu rupanya, oh iya ini hadiah untuk kakak." mengulurkan kado yang diberikan Chandra tadi ketangan Rima, "Perkenalkan nama saya Alsha kak."


"Terimakasih." ucapnya ketus, sembari meletakkan hadiah pemberian Alsha diatas meja, tanpa berniat menyambut uluran tangan gadis tersebut.


Alsha hanya meringis bingung, entah apa yang harus dia katakan selanjutnya terlebih jika wanita dewasa dihadapannya terlihat tak begitu menyukainya.

__ADS_1


Acara tiup lilin dimulai, dan dengan terpaksa Chandra menemani Rima untuk tiup lilin, sedangkan Alsha berdiri dibelakangnya, hingga pada akhirnya ia merasa bosan dan memilih untuk menghindari keramaian dengan pergi ke sebuah toilet.


Cukup lama Alsha berada didalam toilet, tak ada yang ia lakukan memang! ia hanya mencuci tangannya beberapa kali, bukan juga karena tangannya kotor, melainkan karena ia sengaja melakukannya untuk mengusir rasa bosan.


Dan setelah beberapa menit didalam sana Alsha keluar gadis itu hampir memekik saat telapak tangan besar membekap mulutnya dan mendorong kembali tubuhnya kedalam toilet, lalu mengunci pintunya dari dalam.


"Apa yang anda lakukan? anda sudah gila?" sentak Alsha yang mulutnya kembali dibekap oleh tangan besar milik pria tersebut, pria yang tak lain adalah Davin.


"Jika kau berani berteriak lagi, aku pastikan diantara kita akan ada ijab qabul kedua."


"Apa maksudmu?"


"Kau sengaja berteriak karena ingin membuat para tamu didalam sana mendengar teriakanmu kan?"


"Apa yang anda bicarakan?"


Davin mendengus, seraya mendorong tubuh Alsha hingga mepet mengenai tembok. "Kenapa? apa karena sekarang kau merasa lebih hebat karena sedang dekat dengan Chandrawinata."


"Saya sama sekali tidak perlu menjawabnya bukan?"


Davin tertawa sinis, tawa yang terdengar begitu mengerikan ditelinga Alsha. "Rupanya kau tidak mudah menyerah, setelah gagal mendapatkan semua hartaku kau sekarang menggaet pria yang jumlah kekayaannya hampir sama seperti diriku, Alsha-Alsha kau benar-benar hebat." ucap Davin, yang tanpa ia sadari ada sepasang tangan yang mengepal dibawah sana.


"Sudah selesai bicaranya? jika sudah, bolehkah anda minggir dari hadapan saya dan tolong buka pintunya."


"Asal kau tahu jika bukan karena mama, aku bahkan tak Sudi menemui."


"Lalu kenapa anda menemui saya, bukankah diantara kita berdua sudah tidak ada urusan lagi?"


"Mama yang minta kau tuli?" ucap Davin yang tanpa sadar meninggikan suaranya, membuat Alsha melengos menatap kesembarang arah, saat-saat seperti inilah yang membuat Alsha merasa tak ingin dekat-dekat dengan mantan suaminya itu.


"Kembalilah, jika kau bersedia aku akan memberikan apapun yang selama ini kau inginkan."


Alsha menghela napas pelan, berbicara dengan Davin memang harus dipenuhi extra sabar, pikirnya.


"Memangnya anda tahu apa yang saya inginkan?"


"Ya, jelas aku tahu apa keinginanmu! kau menginginkan uang bukan?"


Alsha tersenyum getir, dengan bibir gemetar ia kembali berbicara, "Apa anda pikir semuanya harus tentang uang, tuan Davin dengar! meskipun saya tidak memiliki uang sebanyak yang anda miliki, tapi saya tidak gila akan uang, jika begini anda sama sekali tidak tahu apa keinginan saya."


"Dan sampai kapanpun saya rasa anda tidak akan mengetahuinya! tolong buka pintunya pak Chandra sudah terlalu lama menunggu saya." lanjut Alsha yang kemudian mendorong tubuh Davin yang mematung dan bergegas membuka kunci dan keluar dari ruangan tersebut.


*


*

__ADS_1


__ADS_2