Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Pantang menyerah


__ADS_3

"Alsha, Alsha tunggu?" teriak Merry berlari menghampiri Alsha yang sudah berada diambang pintu perusahaan.


Sementara itu Alsha hanya bisa menghela napas pelan, ia sudah dapat menebak, jika Merry akan meminta penjelasannya mengenai pria yang menemuinya kemarin.


"Aku butuh penjelasan kamu, pokoknya harus dijelaskan, siapa lelaki tampan yang menemuimu kemarin sore." ujar Merry yang tampak tak sabaran.


"Mer_"


"Jangan mencari alasan untuk menghindarinya Alsha, ayok jelaskan!" menarik tangan Alsha membawanya ke kantin untuk sarapan.


"Siapa ih buru Sha." ucap Merry sembari meraih roti bakar yang baru saja diantar pemilik kantin.


"Dia_ dia mantan suamiku Mer."


Uhukk...


"Merry apaan sih, hati-hati dong kalau makan." Alsha membantu memijat tengkuk Merry dengan raut wajah yang terlihat panik.


"Sha ulangi! tadi bilang apa, mantan suami? jadi kamu sudah pernah menikah, yaampun Alsha kenapa kamu nggak ngasih tahu aku?"


Alsha meringis saat melihat kekecewaan dikedua mata Merry.


"Aku sama dia terpaksa menikah Mer."


"Ganteng gitu, kamu bilang terpaksa menikah sama dia?" tanya Merry tak percaya.


"Ini bukan masalah ganteng atau nggak Mer, aku memang beneran terpaksa.''


"Jadi karena paksaan ini yang membuat kamu pada akhirnya bercerai dengan dia, begitu?"


"Ya mungkin karena itu juga salah satunya."


"Memangnya kamu nggak tertarik sama sekali sama siapa namanya?"


"Davin."


"Iya, memangnya kamu nggak tertarik sama sekali dengan kak Davin Sha, tahu nggak sih kalau dia itu ganteng, keren, dewasa, dan udah pasti kaya juga kan?"


"Masalahnya dia tidak pernah menginginkan kehadiran aku Mer."

__ADS_1


"Tapi kemarin itu dia kayak mohon-mohon gitu lho kekamu, kayaknya dia minta kesempatan kan kalau aku nggak salah dengar."


"Itu mungkin cuma lelucon dia saja."


"Ah masa sih Sha, tapi yang aku lihat dia beneran serius lho."


"Dia sudah punya kekasih Mer."


"Maksudnya dia mengkhianati kamu, selingkuh begitu?"


"Bukan!"


"Lalu apa?"


"Mereka berdua berpacaran jauh sebelum aku mengenal kak Davin, jadi disini akulah yang menjadi penghalang diantara mereka."


"Masa sih Sha?"


"Iya Mer, jadi aku rasa berpisah itu adalah jalan terbaik aku sama dia."


"Yaampun Alshaku, kasihan sekali! pantesan kamu selalu mengelak kalau bahas pak Chandra, rupanya kamu ada trauma mengenai pernikahan ya Sha, maaf ya?"


"Kamu nggak salah."


*


Tak menyerah dengan penolakan Alsha kemarin, hari ini Davin kembali mendatangi kantor yang menjadi tempat Alsha bekerja.


Tetapi kali ini bukan untuk menemuinya, melainkan untuk mengikutinya dari belakang, untuk mengetahui dimana kini Alsha tinggal.


Tepat saat Alsha keluar dan menumpangi sebuah ojek, ia melajukan mobilnya mengikuti kemana arah laju motor tersebut.


Beberapa menit kemudian, Davin celingukan menatap kiri dan kanan jalan, saat melihat Alsha yang memasuki sebuah kontrakan kecil yang tentu jauh dari kata bagus menurutnya.


Pria itu bergegas turun dari mobilnya dan mengetuk pintu kontrakan yang baru saja ditutup oleh Alsha.


"Alsha tunggu, aku benar-benar serius dengan ucapanku kemarin Sha, aku ingin menebusnya." ujar Davin seraya menahan tangan Alsha yang hendak menutup pintunya kembali saat tahu yang mengetuk pintu kontrakannya adalah Davin.


"Jikapun iya, lupakan saja."

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, sedangkan saat ini ada benihku yang sedang tumbuh didalam rahimmu."


Mendengar ucapan Davin, reflek Alsha menunduk sembari menyentuh perutnya.


"Apa karena dia juga kak Davin ingin agar kita kembali.?"


"Tentu saja."


Alsha tersenyum getir, bukan itu yang ingin ia dengar.


"Jika kak Davin hanya ingin bertanggung jawab atas bayi ini, maka itu tidak perlu kak, karena saya masih sanggup untuk menghidupinya."


"Alsha_ maksudku bukan begitu."


"Sudahlah kak, kak Davin pergi saja, dan jangan pernah merasa terbebani."


"Kenapa jawabanmu seperti ini Alsha, apakah kamu ingin memisahkan anak dari ayahnya, kamu ingin menjauhkanku dari darah dagingku sendiri."


Alsha menggeleng, "Bukan kak, saat anak ini lahir kak Davin kapanpun boleh menemuinya, saya tidak akan melarangnya."


"Tapi bayi ini membutuhkan keduanya Alsha, dia membutuhkan kita berdua."


"Saya tahu, maka dari itu kapanpun kak Davin ingin menemuinya saya tidak akan melarang, sudah sore lebih baik sekarang kak Davin pulang, saya tidak mau orang-orang disekitar sini salah paham dengan kita."


Davin bukan tipe orang yang mempedulikan apa kata orang lain, tanpa dipersilahkan ia menyelonong memasuki kontrakan Alsha yang terlihat menyedihkan dalam pandangannya.


Tak ada barang berharga yang mengisi tempat itu, meskipun Alsha merawatnya dengan bersih, Davin yakin tempat kecil yang berada dipinggir jalan seperti ini akan ada banyak sekali polusi yang mengendap didalamnya.


Lalu bagaimana dengan kesehatan Alsha dan bayinya, memikirkannya saja ia sudah ngeri sendiri.


"Alsha tempat ini sama sekali tidak cocok untuk ibu hamil seperti kamu, bagaimana kalau anak kita_"


"Lalu yang cocok itu seperti apa kak, apakah seperti dikamar yang berada di paling ujung dirumah kak Davin itu.?" sela Alsha.


Deg!


Telak! suara Davin mendadak tercekat ditenggorokan, ia baru menyadari jika saat mereka masih menjadi pasangan, ia bahkan menempatkan Alsha disebuah kamar pengap yang seharusnya dijadikan gudang.


*

__ADS_1


*


__ADS_2