
Semenjak Davin kembali dalam kehidupannya dengan warna yang berbeda, kehidupan Alsha kini dipenuhi kebahagiaan, bagaimana tidak! semakin hari Davin semakin menunjukkan bahwa ia begitu mencintainya.
Davin yang rela melakukan apapun untuknya, termasuk saat ia mengidam ditengah malam sekaligus mencari makanan yang sulit didapatkan ketika malam hari, namun entah apa yang pria itu lakukan hingga selalu mendapatkannya dengan mudah, tanpa mengeluh sedikitpun.
Davin yang selalu menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya dirumah, menemaninya kemanapun Alsha ingin pergi.
Seperti saat ini, usia kehamilan Alsha yang menginjak delapan bulan, ia ingin sekali memilih sendiri barang-barang yang akan dikenakan anaknya saat lahir.
Dan dengan senang hati Davin menemaninya untuk berbelanja.
"Ini lucu ya kak." Alsha memperlihatkan satu setel pakaian bayi dengan model overall bermotif jerapah warna merah cerah kombinasi hitam dengan begitu antusias.
"Iya sayang, aku yakin putra kita akan terlihat tampan saat memakainya." ucap Davin yang tak kalah antusiasnya.
Ya, meski bayinya belum lahir, akan tetapi keduanya sudah mengetahui jenis kelamin anaknya setelah melakukan USG beberapa kali.
"Davin?"
Senyum keduanya lenyap seketika, saat seorang wanita cantik dengan senyum penuh kerinduan menghampiri dan berdiri tepat dihadapan Davin.
"Vin, bagaimana kabarmu? aku tidak menyangka kita akan bertemu disini! kau senang kan aku pulang?" ucapnya penuh percaya diri, dan berharap tangan Davin bergerak menyambutnya.
Davin melengos, mungkin dulu ia akan sangat bahagia dan memeluk wanita yang bernama Sera itu dengan senang hati, tetapi keadaan sekarang sudahlah berbeda, ia bukan lagi Davin yang dulu yang tergila-gila dengannya.
"Untuk apa aku senang, aku bahkan sudah bahagia dengan kehidupanku yang sekarang, oh iya." Davin menarik bahu Alsha hingga merapat padanya, "perkenalkan ini istriku Alsha, dia sedang mengandung anak kami dan sebentar lagi akan melahirkan."
Deg!
Wajah cantik Sera yang semula dipenuhi senyum kini mendadak kaku, wanita itu menggelengkan kepalanya, terlebih saat matanya mengarah pada perut buncit Alsha.
"Tidak_ itu tidak mungkin! tidak mungkin kamu move on secepat itu dariku Vin, tidak mungkin kamu begitu cepat melupakan kebersamaan kita selama lima tahun, hanya karena gadis kecil ini, aku tahu persis tipe wanita yang kau sukai itu seperti apa?"
"Memang yang seperti apa menurutmu."
__ADS_1
"Sepertiku."
Davin terkekeh, kemudian mata tajamnya membola menatap Sera penuh kebencian.
"Sepertimu kau bilang,?" Davin melangkah, hingga membuat Sera reflek mundur kebelakang.
"Y-ya."
"Mengapa harus wanita sepertimu, yang bahkan telah dijamah lebih dari satu pria."
"Dav_"
Davin lagi-lagi terkekeh, menertawakan Sera dengan tawa mengejek.
"Kenapa? kau pikir aku tidak tahu, kau bahkan sudah kembali dari tujuh bulan yang lalu."
Deg!
"Vin_"
"Tidak Vin, itu tidak mungkin!"
"Ini kenyataannya."
"Kamu bilang kamu hanya mencintaiku Vin, dan akan selalu menungguku."
"Aku lupa jika aku pernah mengatakan seperti yang kau katakan barusan, tapi aku ingatkan bahwa aku sudah mengakhiri hubungan kita sejak lama."
"Tapi kenapa? kenapa kamu tiba-tiba menikahi gadis ini, oh atau kamu hanya ingin memanas-manasiku karena aku telah menolak menikah denganmu, ayolah Vin, saat itu aku hanya tidak terlalu berpikir panjang tentang pernikahan, tapi aku bisa melakukannya sekarang untukmu, ayok kita menikah?"
"Kau gila!"
"Kenapa? bukankah kamu sangat ingin menikah denganku?"
__ADS_1
"Itu dulu."
"Apa bedanya dengan sekarang?"
"Jelas berbeda, apakah kau tuli jika sekarang aku sudah menikah dan memiliki seorang anak, dan aku sangat mencintainya."
"Bohong, kamu hanya mencintaiku."
"Tidak lagi."
"Bohong! aku tidak percaya itu Vin."
"Terserah! tapi yang jelas aku sudah menikah, dan aku sudah memiliki keluarga, dan yang lebih penting aku sangat mencintai istriku."
"Ayo sayang, kita pergi!" ajak Davin seraya merangkul tubuh Alsha meninggalkan Sera yang terduduk lemas diatas lantai sana.
"Kak,?"
"Hmm.. apa sayang? kau haus, lapar, capek?"
Alsha menggeleng dengan senyum tipis, "Apa kak Davin benar-benar sudah tidak lagi memiliki perasaan untuknya?"
"Menurutmu?"
"Apa kak Davin tidak akan menyesalinya suatu hari?"
"Kenapa harus menyesal?"
"Yakin?"
Davin tertawa pelan sembari mengusap kepala Alsha dengan lembut, "Tidak akan, aku justru akan sangat menyesal jika melepaskanmu, karena aku pernah mengalaminya dan aku tak ingin semua itu terulang."
*
__ADS_1
*