Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Kelahiran baby Reynard


__ADS_3

"Tahan sayang, bertahanlah demi anak kita." bisik Davin dengan peluh yang mengucur didahinya, bahkan kedua tangannya kini gemetar tak karuan.


Disaat-saat seperti ini pikirannya dipenuhi oleh perasaan takut yang luar biasa, terlebih saat melihat Alsha yang mulai tak berdaya.


"Berikan pada Alsha, supaya dia memiliki tenaga yang cukup Vin." ucap Inara yang berusaha terlihat tenang dihadapan putra pertamanya tersebut.


"Iya ma." Davin menerima segelas teh manis dari tangan sang mama dan meminumkannya pada Alsha.


Sementara itu Inara kembali keluar, karena hanya suami yang diizinkan untuk tinggal didalam menemani pasien yang hendak melahirkan.


"Bagaimana keadaan Alsha ma?" Evan beranjak dari kursi tunggu milik rumah sakit yang berada didepan ruang bersalin yang saat ini ditempati Alsha.


"Iya ma, bagaimana keadaan Alsha?" Adnan menimpali.


"Doakan saja semoga proses persalinannya dipermudah, mama nggak tega lihatnya." Inara yang semula terlihat kuat itu kini menubruk tubuh Adnan memeluknya dengan isakan lirih.


"Iya ma, kita doakan yang terbaik untuk menantu dan cucu kita." balas Adnan, sementara Evan kembali duduk seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Satu jam berlalu terdengarlah suara tangis bayi dari dalam sana yang seketika membuat ketiganya tersenyum penuh haru.


"Pa, cucu kita lahir!" ucap Inara antusias.


''Iya ma."


"Ponakan gue." lirih Evan dengan senyum dikulum.


Lalu ketiganya beranjak saat melihat ruangan Alsha yang terbuka, tampak beberapa perawat keluar dari sana.


"Vin, bagaimana keadaan Alsha?" Inara menghampiri Davin yang terlihat linglung menatap bayi kecilnya yang baru selesai dibedong.


"Ini bukan mimpi kan ma, aku benar-benar sudah menjadi seorang ayah."


Inara tertawa kecil sembari mengusap bahu Davin dengan pelan, "Tentu saja, dan sekarang mama sudah menjadi Oma."


"Mana nih ponakan gue, mau gendong dong." Evan menyeruak dari belakang.


"Mama dulu, kamu belakangan." sergah Inara yang langsung menggendong cucunya dengan begitu hati-hati.


"Hallo sayang, cucu Oma! tampan sekali kamu nak."


"Mirip aku kan ma?" Davin tampak percaya diri.


"Mirip gue." Evan tak mau kalah.


"Iya, mirip kamu Vin! cuma matanya doang yang mirip Alsha, bening dan teduh."


"Mama mau bawa ke Alsha dulu dia pasti pengen banget gendong kan?"


"Sayang, ini bayi kalian nak, sangat tampan bukan?"


Alsha tersenyum penuh haru menerima bayinya yang kemudian ia letakkan diatas pangkuannya.


"Mirip kak Davin ya ma?"


"Memangnya harus mirip siapa sayang, itu anakku kan?" sela Davin saat mendengar namanya disebut-sebut.

__ADS_1


Inara terkekeh, begitupun dengan Alsha sementara Evan hanya mendengus meninju lengan sang kakak dengan kesal.


"Apa sih, sirik saja Lo!"


"Muka boleh mirip, asal jangan sifatnya aja yang mirip, judes ngeselin model Lo bang."


"Sialan!"


*


"Terimakasih sayang, sudah memberiku anak selucu Reynard."


"Siapa Reynard?"


"Bayi kita, Reynard Syahdan Samudera."


"Nama dia?"


"Iya, bolehkan jika aku yang memberinya nama?"


Alsha terkekeh, "Tentu saja boleh, kak Davin kan ayahnya."


''Terimakasih sayang, aku mencintaimu."


"Sama-sama kak, aku juga mencintaimu."


Deg!


"K-kamu bilang apa?"


"Aku mencintaimu."


"Aku mencintaimu."


"Sekali lagi sayang, kurang jelas!"


Cup..


Alsha mengecuup bibir Davin dengan lembut membuat pria itu terdiam dengan kaku.


"Apa masih tak cukup jelas?"


Davin terdiam, namun detik berikutnya ia menarik tubuh Alsha kedalam pelukannya, ada beribu syukur yang ia ucapkan dalam hati, karena Tuhan telah begitu baik kepada dirinya.


Dia yang semula hanya ingin mengikat Alsha untuk menjadi miliknya seorang, rupanya dibalik itu semua ada cinta yang tumbuh dalam hati Alsha yang tidak pernah ia duga.


Sebelumnya Davin tak berharap untuk dicintai karena baginya mencintai Alsha cukup ia lakukan sendiri tanpa harus mendapatkan balasan.


"Tuhan begitu baik, dan aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan baik ini." bisik Davin, yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mohon jangan pernah berubah lagi kak."


"Seharusnya aku yang berbicara begitu, jangan pernah berubah tetaplah berada disampingku."


Tok..tok..tok..

__ADS_1


Ketukan dari luar membuat keduanya reflek saling menarik diri dan menatap kearah pintu.


"Biar aku saja yang buka." putus Davin dan bergegas menuju pintu dan membukanya.


"Kenapa ma?"


"Ada seseorang didepan, mencari Alsha."


Davin mengerutkan kening, "Siapa?"


"Pak Jodi ayah Alsha."


"Siapa ma?" ulang Alsha yang kini sudah berada dihadapan keduanya.


"Pak Jodi, ayok sayang temui dia dulu ya, sepertinya keadaannya sedang tidak sehat." ucap Inara.


Alsha terdiam sesaat, sebelum kemudian melirik kearah box dimana bayinya tengah terlelap.


"Baiklah ma."


Di sofa ruang tamu sana, Jodi tampak menunduk dengan kedua tangan yang saling bertaut.


Sementara Alsha tak mengatakan apapun, ia duduk disofa yang berada dihadapan Jodi dengan ditemani Davin.


"Pak Jodi?" sapa Davin yang tentu sudah mengenali siapa laki-laki paruh baya dihadapannya.


Bagaimana tidak! Jodi tentu adalah salah satu pengusaha terkaya dikotanya.


"Maaf ada keperluan apa ya, dengan istri saya?"


Bukan Davin namanya jika tidak berbicara langsung pada intinya.


Sementara Jodi berulang kali mengatur napas, berusaha menetralkan perasaannya yang terasa sesak.


"Maaf jika saya berbicara lancang, tapi bolehkah saya berbicara berdua dengan Alsha?"


Davin menghela sebentar, sebelum kemudian beranjak dari duduknya, lalu kembali melirik kearah Alsha saat gadis itu menggenggam tangannya dengan erat.


Pria itu tersenyum sembari mengusap punggung tangan Alsha.


"Tidak apa-apa, bicaralah sebentar."


*


*


Hallo readers tercinta, sudah lama sekali tak menyapa 😊 adakah yang rindu sama Author, atau justru kesal karena sudah lama tidak update 🤭


Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin semuanya..😊🙏🏻


Semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia, Aamiin..🥰🥰🥰


*


*

__ADS_1


__ADS_2