Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Satu syarat


__ADS_3

"Sudahlah Sha, berhenti menangis! orang seperti dia tidak pantas kamu tangisi." hibur Jessy saat keduanya dalam perjalanan pulang.


"Apakah karena hal ini kak Jessy tak ingin agar aku menemuinya sejak awal?" ucap Alsha dengan terisak.


"Ya, mungkin ini salah satunya! ingat Sha kamu berhak bahagia, jadi kamu harus berjanji pada kakak bahwa kamu tidak akan pernah lagi menemuinya."


"Baik kak, aku tidak akan pernah lagi menemuinya, karena memang tidak ada alasan untuk aku bertemu dengan dia, kakak sudah dengar sendiri, dia tidak menginginkan ku tadi."


"Ralat! dia tidak menginginkan kita berdua."


"Kak, kalau boleh tahu apa yang membuatnya membenci kita, memangnya apa kesalahan kita?"


"Karena kita anak perempuan, dia tidak menginginkannya! dia hanya menginginkan seorang anak laki-laki."


"Kalau begitu bagaimana dengan kak Anya kak?"


"Sama saja Sha, semua anak perempuan akan bernasib sama dengan kita."


Alsha menghela napas lelah kemudian menyenderkan kepalanya di senderan jok mobil, tak menyangka jika pertemuannya dengan sang ayah justru menjadi kesan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Ia pikir saat dirinya datang sang Ayah akan menyambutnya dengan senyum lalu memeluknya dengan hangat.


CK, jangankan untuk memeluknya menyentuhnya pun ia sama sekali tidak bisa.


Mobil yang dikendarai keduanya berhenti didepan gang yang dekat dengan tempat tinggal Jessy, gadis itu turun dari mobilnya.


"Hati-hati dijalan, lupakan yang seharusnya dilupakan! datanglah jika sewaktu-waktu kamu membutuhkan kakak." ujar Jessy dengan senyum yang terlihat tulus.


"Baik kak, suatu hari aku pasti akan mencarimu lagi."


*


Alsha menyeret kakinya kerumah dengan langkah gontai, semangat yang tadi sempat membara kini lenyap seketika, bahkan ia tidak sempat berpikir mengenai kata-kata apa yang pas untuk ia jelaskan pada Davin mengenai keterlambatannya saat pulang hari ini.


Bahkan saat memasuki rumah ia tak menyadari jika Davin tengah berdiri diteras rumah dengan rahang mengeras.


"Dari mana saja kau?" sentak Davin membuat langkah Alsha terhenti.


Gadis itu memekik, saat Davin menarik rambutnya lalu mendorongnya hingga tersungkur diatas lantai.


"Kau sungguh memuakkan, katakan dari mana saja kau pergi dan baru kembali selarut ini?"


"S-saya, saya mencari ayah kak, bukankah sudah saya katakan sebelumnya."


"Cih, pintar sekali kau beralasan!"


"Saya tidak bohong kak, saya mencari ayah saya."

__ADS_1


"CK, pembohong sepertimu harus dihukum agar kau sedikit tahu diri." ucap Davin seraya menyeret tubuh Alsha kedalam kamar mandi.


"Mandi, setelah itu kau temui aku dikamar dan buang jauh-jauh kacamata tebalmu itu, jika kau tidak melakukannya akan kupastikan salah satu kakimu hilang dalam sekejap, kau mengerti?"


"B-baik kak."


"Dan satu lagi, buat dirimu sedikit terlihat layak ketika berada di hadapanku."


"M-maksudnya kak?"


"Bodoh! kau tidak sadar kau itu terlihat jelek dan kampungan?" sentaknya dengan sebelah tangan yang kini mencengkram dagu Alsha dan melepaskannya dengan kasar.


"Saya tahu."


''Lakukan sesuatu supaya kau terlihat sedikit layak didepan mataku."


"B-baik kak."


Setelah kepergian Davin Alsha menjatuhkan tubuhnya diatas lantai, tubuh gadis itu melemah seiring jatuhnya air mata yang tampak deras mengaliri pipinya.


"CK, apa tidak ada sedikit saja sisa kebahagiaan untukku Tuhan, mengapa begitu menyedihkan seperti ini." gumam Alsha dengan isak tangis yang semakin kuat.


Cukup lama ia menangis, hingga kemudian ia tersadar jika beberapa menit yang lalu Davin menyuruhnya untuk datang kekamar pria itu dengan tampilan dirinya yang sedikit berbeda.


Dengan paksa akhirnya Alsha beranjak menyeret kakinya untuk kemudian mandi dan berganti pakaian, lalu sedikit memoles wajahnya dengan make up sederhana yang ia miliki, dan benar-benar tak lagi mengenakan kacamatanya didepan Davin, sama seperti yang ia lakukan ketika berada diluar rumah.


"Kak?" panggil Alsha saat tak mendapat jawaban setelah ia mengetuk pintu kamar Davin beberapa kali.


"Masuk!" titahnya tegas.


"B-baik kak."


"Kau tahu mengapa aku menyuruhmu datang ke kamarku malam-malam begini?"


Alsha menganggangukan kepala, "Tentu saja saya tahu."


"Katakan jika kau memang benar-benar mengetahuinya?"


"Saya harus menerima hukuman." balas Alsha yang membuat Davin tergelak dengan tiba-tiba.


"Kau sudah tidak sabar menantikan hukumanmu rupanya."


Davin tergelak.


"Kuberi tahu satu hal, jika malam ini hukumanmu tak biasa." bisik Davin membuat sekujur tubuh Alsha tiba-tiba meremang.


"A-apa kak."

__ADS_1


"Kemarilah, dan berbaring ditempat tidur."


"Tapi kak?"


"Kenapa? kau mau membantah, kau benar-benar ingin kehilangan sebelah kakimu?"


Cepat Alsha menggeleng, "T-tidak kak."


"Patuhlah." Davin menyeringai, seraya menghampiri Alsha mendorong tubuh gadis itu yang masih berdiri kaku disisi tempat tidur, lalu meraih dagu Alsha dengan sebelah tangannya.


Kedua mata Alsha terbelalak, saat merasakan bibir kenyal dan basah milik Davin menyatu dengan bibirnya untuk pertama kali, menciptakan desiran asing yang membuat tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik, terlebih saat Davin menggerakkan bibirnya semakin dalam dan menuntut.


"Kau menikmatinya?" bisik Davin dengan seringai tipis dari bibirnya, sementara Alsha masih diam berusaha menetralkan jantungnya yang masih berdegup tak beraturan.


"S-saya_"


"Layani aku."


Alsha menggeleng cepat.


"Kenapa? kau ingin membantahku, kau benar-benar ingin kehilangan sebelah kakimu?"


"Aku tidak mau, bukankah kita sama-sama impas, apalagi selama ini kak Davin sendiri yang meminta agar aku tidak pernah menyentuh apapun yang berhubungan dengan kak davin.'' ucap Alsha dengan bibir bergetar.


Brakkkk!


Davin melemparkan pas bunga yang berada diatas nakas, hingga hancur berserakan, lalu kembali meraih dagu Alsha sembari menekannya cukup kuat.


"Kau dengar gadis sialan, disini posisiku adalah suamimu, tugasmu hanya menuruti semua perkataan ku tanpa bantahan, kau mengerti?"


"Lagi pula kalau di lihat-lihat apa yang ingin kau pertahankan dalam dirimu, bukankah harga dirimu sudah kau jual kepadaku?" lanjut Davin dengan senyum mengejek.


Deg!


Kedua tangan Alsha terkepal tanpa pria itu sadari.


"Baik, saya akan dengan sukarela memberikan hal paling berharga dalam hidup saya malam ini, tapi dengan satu syarat?" ujar Alsha dengan wajah datarnya.


"Apa, katakan? aku yakin gadis semacam kamu ini pasti tidak akan jauh-jauh dari uang bukan?"


"Kenapa kau menatapku begitu, kau tersinggung karena ucapanku benar?" ujar Davin, yang lagi-lagi memperlihatkan senyum yang menyebalkan dimata Alsha.


"Kita bercerai."


"Apa?" tanpa sadar Davin memekik, sedikit tak mempercayai ucapan Alsha yang begitu berani memintanya untuk bercerai.


Ya, Alsha memang sudah berniat untuk bercerai sejak ia sudah bertemu dengan ayahnya yang menjadi satu-satunya alasan ia terpaksa menikah dengan Davin, pria tak berperasaan yang sombong dan memperlakukannya sesuka hati.

__ADS_1


*


*


__ADS_2