Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Takut gendut


__ADS_3

"Untuk apa kau kemari?" ketus Davin, saat ketiga sahabatnya berkunjung kekantornya siang ini.


"CK, kalian bisa lihat sendiri kan, keputusan untuk datang kesini memang bukan keputusan yang baik." gerutu Tommy sembari melirik kearah Miko dan juga Liam yang berdiri dibelakangnya dengan tatapan kesal.


Davin mendengus, "Baiklah, silahkan duduk dimanapun yang kalian suka, aku akan memesankan makanan untuk kalian bertiga."


Davin beranjak dari kursinya, seraya meraih ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang, setelahnya ia bergabung bersama ketiga sahabatnya yang duduk disofa.


"Bagaimana dengan Alsha Dav, dengar-dengar beberapa hari ini kau selalu sibuk mengikutinya?" ujar Miko penasaran.


"Istriku sudah kembali, dan dia sedang mengandung anak kami."


Brakkkk!


"Kau gila?" Miko berbisik, sembari menarik tangan Tommy yang kini berdiri disampingnya setelah memukul meja.


"Sorry, aku hanya terkejut! Dav, benarkah yang kau ucapkan barusan, Alsha sudah kembali?"


"Ya."


"Aku sampai bingung harus menilai dia seperti apa, entah terlalu baik atau bodoh."


"Hei kau, jangan sembarangan mengatai istriku sialan!"


"Aku berbicara apa adanya bedebah, kau itu sama sekali tidak cocok dengannya."


"Kau bilang apa? lalu dengan siapa seharusnya dia cocok?" tantang Davin yang kini mencengkram kerah baju Tommy.


Sementara dibelakangnya Liam dan Miko hanya geleng-geleng kepala dan ikut berdiri melerai keduanya.


"Sudahlah, kita kesini untuk makan kan? bukan untuk bertengkar seperti ini?" ujar Liam menengahi dan memukul dada keduanya secara bergantian.


"Dia yang memulai duluan!" sahut Davin seraya menuding wajah Tommy yang tampak santai.


"Sudahlah, makanannya sudah datang! lebih baik sekarang kita makan." sambung Liam yang membuat keduanya seketika duduk kembali ditempatnya yang semula.


"Jadi bagaimana caranya kau mengambil hati istrimu?" Tommy kembali membuka suara setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Kau begitu penasaran rupanya."


"Ayolah Dav, cerita sedikit apa susahnya, jangan lupa selama ini aku selalu membantumu."


"CK, perhitungan sekali!" Davin mendesaah, kemudian menatap Tommy dengan lekat.


"Apa? mengapa kau menatapku seperti itu?"


"Aku berusaha meminta maaf dengan tulus kepadanya, dan aku sendiri tak menyangka bahwa dia memaafkanku semudah itu, dan aku pikir ini adalah kesempatan yang tidak boleh aku sia-siakan."


Tommy tampak berdecih, "Sadar juga rupanya, kalau selama ini kau sudah menyia-nyiakan berlian yang begitu berharga."

__ADS_1


"Kau benar, aku tak akan mengulangi kebodohan yang sama."


"CK, melihat prahara rumah tanggamu yang seperti ini membuatku semakin yakin jika aku memang tak perlu menikah seumur hidup." celetuk Liam dengan santainya, yang berakhir mendapatkan toyoran dari Miko.


"Sayang sekali wajah tampan mu itu dude, kau tidak menghargai pemberian tuhan yang sudah memberimu wajah sempurna."


"Aku tidak bilang tidak menghargai pemberian dari Tuhan bukan?" Liam mendengus.


"Tapi kau tidak memanfaatkan ketampananmu untuk memikat wanita, jadi apalah artinya memiliki wajah tampan."


"Kau merasa rugi?'


"Apa maksudmu?"


"Jawab saja, kau rugi atau tidak?"


"T-tidak."


"Yasudah, jika kau merasa tak dirugikan lebih baik diam."


"Sialan!"


*


Didepan kamarnya Davin tersenyum sendiri sembari menciumi satu buah buket bunga yang baru saja dibelinya saat hendak pulang.


"Sayang?" ucapnya sembari mengetuk pintu kamar tersebut beberapa kali.


"Buat kamu."


"Bunga, buat aku?" Alsha terkekeh sembari menerima bunga yang diberikan Davin untuknya dengan begitu riang.


"Sudah dikasih bunga, sudah boleh peluk dong?"


Lagi-lagi Alsha terkekeh, "Apasih kak.''


"Kangen, bawaannya kangen kamu terus." ucapnya setelah berhasil menarik tubuh mungil Alsha kedalam pelukannya.


"Baru juga beberapa jam nggak ketemu."


"Besok nggak kuliah kan, ikut kekantor ya!"


"Ihs ngapain?"


"Biar aku semakin semangat bekerja."


"Nggak ah, aku nggak mau."


"Hei, sudah berani ya menolak suami?" dengan gemas ia menciumi bibir ranum Alsha dan menggendongnya menuju tempat tidur.

__ADS_1


"Kak, ini masih sore?" protes Alsha, saat merasakan tangan Davin yang merayap membuka kancing dress yang ia pakai.


"Memangnya kenapa? tidak ada yang melarang bukan?" ucap Davin setengah berbisik, Alsha dapat mendengar suara Davin yang bergetar yang menandakan gairah pria tersebut sudah bangkit.


"Emmm_"


Tak bisa mengelak, tak bisa lagi melawan itulah yang dirasakan Alsha, saat Davin kembali melakukan serangan memabukkan yang membuat ia pada akhirnya pasrah tanpa bantahan.


Dan yang harus terjadi sore itu maka terjadilah.


"Kak?"


"Hmm." Davin menjawab lirih dengan kedua mata terpejam, sepertinya staminanya habis setelah melakukan aktifitas mengasyikkannya yang beberapa kali ia lakukan beberapa menit yang lalu.


"Menurut kak Davin, aku gendutan tidak?"


Kedua mata Davin terbuka, saat mendengar ada nada tak percaya diri yang keluar dari mulut istrinya.


"Siapa yang mengatakan kamu gendut?"


"Menurutku semakin hari aku semakin gendut kak."


"Mana ada, mungil begini!" menyentuh telapak tangan Alsha yang tenggelam dalam genggamannya yang kemudian ia ciumi beberapa kali.


"Kata Merry, ibu hamil itu semakin hari bentuk tubuhnya akan berubah, apalagi setelah melahirkan."


"Merry, sahabatmu itu? memangnya dia sudah pernah mengandung dan melahirkan?"


"Tidak, tapi kakaknya."


"Jangan terlalu dipikirkan, lagi pula apapun dan bagaimanapun kondisi bentuk tubuhmu suatu hari, aku akan tetap mencintaimu."


"Bohong!"


"Kau tidak mempercayaiku?"


"Bukan begitu, tapi_"


"Sayang, kumohon percayalah! kau tidak perlu merasa ketakutan atas hal-hal yang bahkan tidak akan mungkin terjadi, mengerti?"


"Tapi kak_"


"Sudahlah, lebih baik kita sekarang mandi dan beristirahat, hm."


Alsha mengangguk patuh, menyibak selimut kemudian melangkah memasuki kamar mandi, yang tanpa ia sadari bahwa Davin mengikutinya dari belakang.


"Aaaa..!"


*

__ADS_1


*


__ADS_2