
Davin tersenyum kecut menatap kepergian Alsha, tanpa sadar ia menggebrak meja dihadapannya dengan keras hingga membuat para pelanggan Cafe Anugerah seketika menatap heran kearahnya.
Alih-alih merasa terganggu dengan tatapan mereka, Davin justru malah beranjak melangkah angkuh dengan kedua tangan yang masih terkepal kuat.
Ia tak terima dengan sikap Alsha yang bisa-bisanya meminta cerai darinya disaat ada begitu banyak gadis yang mengantre ingin menjadi istrinya.
Davin bergegas menaiki mobilnya dan melajukannya menuju rumahnya karena ia yakin jika saat ini Alsha akan kembali kesana untuk mengambil sisa bajunya yang belum sempat ia bawa.
Dan benar saja, ketika ia tiba disana Alsha tengah berbicara dengan bi Tati, dan ada sebuah koper hitam disampingnya.
"Tuan sudah pulang?" sapa bi Tati saat melihat Davin yang kini tengah berjalan menghampirinya, disaat yang sama Alsha menoleh hingga pandangannya tak sengaja bersirobok dengan kedua manik hitam Davin.
"Bi, masuklah saya mau berbicara dengannya." ujar Davin dingin, membuat bi Tati langsung undur diri kebelakang.
"Sudah puas sekarang?"
Alsha mendongak, yang tentu bingung dengan ucapan pria yang kini sudah menjadi mantan suaminya itu.
"Apa yang anda katakan?"
"Cih, berpura-pura bodoh! padahal kau pasti senang bukan, karena akhirnya aku menceraikanmu, dan kau bisa bebas mengejar pria lain diluar sana."
"Tuan dengar! apapun yang saya lakukan kedepannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan anda, jadi berhenti menyudutkan saya, permisi!"
"Tunggu." sergahnya seraya mencekal pergelangan tangan Alsha dengan kuat.
"Apalagi, urusan kita sudah selesai bukan?" Alsha mendelik, menatap Davin tak suka.
"Kau belum menjelaskan semuanya didepan orang tuaku."
__ADS_1
"Apa yang perlu saya jelaskan, haruskah saya memberi tahu mereka jika selama pernikahan kita berlangsung anda tidak pernah menafkahi saya, selain hanya memperlakukan saya dengan buruk, dan satu hal lagi anda tidak pernah memutuskan hubungan anda dengan kekasih anda yang bernama Sera, betul?"
Deg!
Telak, Davin tak mampu berkata-kata lagi, bahkan pria itu berdiri mematung tanpa menyadari jika kini Alsha sudah pergi dari hadapannya.
Menit berlalu, Davin beranjak menuju kamarnya, ia kembali dibuat gelisah dengan noda merah yang masih menempel diatas sprei miliknya yang hampir teronggok.
Bi Tati memang dilarang membersihkan kamarnya sekalipun itu akan terlihat kotor, karena Davin lebih suka membersihkan kamarnya sendiri.
Davin menjatuhkan tubuhnya disisi tempat tidur, lalu ingatannya kembali pada saat kejadian tadi malam, disaat Alsha mengajukan syarat dengan sebuah perceraian mereka, yang entah mengapa begitu melukai harga dirinya.
Lalu bayangan tubuh Alsha yang begitu indah membuatnya tak bisa melupakannya dengan mudah.
"Sial!"
*
Davin mendengus, "Cih, cantik kau bilang?"
Liam menoleh, "Sepertinya ada yang salah denganmu Dav, kau bertengkar dengan istrimu?"
"Aku bahkan sudah menceraikannya."
"Apa?!"
Bukan Liam yang berteriak, melainkan kedua sahabat Davin yang lain yang baru saja tiba ditempat tersebut.
"Apa kau bilang, menceraikan Alsha, kau sudah gila?" Miko yang baru tiba langsung meninju bahu Davin cukup keras.
__ADS_1
"Miko benar, sepertinya kau kehilangan akal sehatmu karena telah menceraikan gadis semanis Alsha, apa yang kurang darinya Dav, padahal aku jelas melihat dia ketika dihari pernikahan kalian, dia begitu manis, lembut dan sangat muda tentunya."
"Jangan bilang, kau menceraikannya karena wanita itu Dav." sambung Tommy, yang kini berdiri disamping Davin.
"Wanita mana yang kau maksud?" Davin berbicara dingin.
"Sera, karena dia kan?"
"Jangan bahas tentang dia, dia tidak hubungannya dengan masalahku."
"Wake up Dav, buka matamu lebar-lebar, dia tidak benar-benar mencintaimu dude."
"Apa yang kau katakan, aku jelas paling tahu siapa wanitaku."
"CK, kau benar-benar sudah dibutakan olehnya Dav." Tommy menggeleng tak percaya.
"Sudah-sudah, kalian jangan terus menerus menghakiminya, biarkan dia merenungi kesalahannya sendiri." timpal Liam yang kini menyodorkan segelas alkohol kehadapan Dav, "Kau mau mencobanya?"
Dengan sigap Davin meraihnya dan meminumnya dengan sekali tegukan, "Bawakan aku lebih banyak lagi."
"Are you seriously?" Liam tahu Davin tak pandai minum bahkan ketika mereka bersama dapat terhitung berapa kali Davin melakukannya.
"Jangan banyak bertanya, berikan saja apa yang kuminta."
"Lihatlah, aku yakin dia sedikit menyesali keputusannya." bisik Miko ditelinga Tommy yang diangguki pria tersebut.
*
*
__ADS_1