Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Bertemu lagi


__ADS_3

"Kau mau kemana Dav?" ujar Tommy saat melihat Davin yang tampak buru-buru memakai jasnya yang semalam ia kenakan, padahal seharian ini pria tersebut tampak santai menghabiskan waktunya didalam rumah.


"Aku lupa pekerjaanku dikantor sangat banyak." balasnya sembari berlari keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya yang semalam dibawa oleh Tommy.


"CK, aku kira dia benar-benar sedang terpuruk, tapi rupanya bedebah itu tidak pernah lupa jika berhubungan dengan pekerjaan." gerutu Tommy yang kemudian menutup pintu rumahnya dari dalam.


*


"Benar ini tempatnya kan?" tanya Chandra memastikan, saat mereka mengunjungi sebuah tempat yang menjadi pilihan dari salah satu kliennya yang berada disana.


"Benar pak, sesuai keinginannya." balas Alsha sembari memperhatikan sekitar.


"Kenapa dia memilih tempat seperti ini?" tanyanya yang bingung karena permintaan salah satu dari kliennya tersebut memilih tempat yang berada disamping Danau.


"Mungkin karena mereka pikir udara disini sejuk pak, jadi cukup nyaman untuk mengobrol."


"Ah mungkin juga Sha, baiklah sembari menunggu kedatangan mereka lebih baik kita memesan sarapan terlebih dulu." ujar Chandra seraya memanggil penjual bubur keliling yang biasa mangkal ditempat tersebut saat pagi.


Karena selain banyaknya pengunjung Danau di pagi hari tempat tersebut pun dekat dengan pasar yang menjual berbagai macam ikan dan sayuran.


Cukup lama mereka menunggu, bahkan hingga keduanya selesai menghabiskan sarapannya, namun klien yang mereka tunggu tak juga datang, dan waktu luang itu digunakan Alsha untuk berbicara dengan Chandra.


"Ehmm.. pak, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Alsha, yang merasa penasaran dengan nama seseorang yang menjadi salah satu klien penting Chandra kali ini.


Chandra mengulas senyum, "Tanyakan saja, memangnya kamu ingin bertanya soal apa Sha?"


"B-begini pak, euhmm_"


Alih-alih melanjutkan ucapannya Alsha tanpa sadar malah menunduk dengan wajah lesu.


"Alsha hei, are you okay?" ujar Davin sembari mengibaskan tangannya didepan wajah Alsha, membuat gadis itu terperanjat dengan sedikit gelagapan.


"I-iya pak, maaf pak maaf, saya melamun barusan." ujar Alsha tak enak hati.


"Oke nggak masalah, oh iya tadi kamu mau tanya soal siapa?"


"Oh itu_ Bimantara Aldi Armansyah itu asli orang mana pak?"


"Kenapa kamu bertanya soal dia, kamu mengenalnya?"


"Tidak, bukan pak! saya hanya merasa pernah mendengar namanya, tapi saya sendiri juga sudah lupa."


Chandra manggut-manggut, sembari menatap wajah Alsha yang menurutnya sangat menggemaskan dan tak bosan untuk dipandang.


"Pak Bima salah satu klien terbaik saya Alsha, hubungan antara kerja sama kami juga sudah cukup lama berjalan, tetapi yang saya dengar, sekarang ini pak Bima tidak lagi menjadi pemegang utama perusahaan, melainkan digantikan oleh adiknya yang akan bertemu kita pagi ini."


"Begitukah pak."


"Iya, betul."


"Tapi kenapa harus bertemu disini pak, memangnya tidak bisa bertemu diperusahaan bapak secara langsung begitu?"

__ADS_1


"Tidak bisa Alsha, karena yang saya dengar adik pak Bima ini sangat sibuk sekali, dia tidak sempat jika harus bepergian jauh, karena disini dia juga memegang dua perusahaan sekaligus."


"Oh iya Alsha kamu_"


"Dengan pak Chandra benar?" ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang keduanya.


"Benar pak, dengan siapa?"


"Saya Damon Irsyad Armansyah, adik dari Bimantara Aldi Armansyah."


"Oh iya pak iya, silahkan duduk." Chandra mempersilahkan Damon untuk duduk disalah satu kursi kayu yang berada dipinggir Danau.


Sementara itu Alsha yang tentu mengenali pria dihadapannya hanya bisa terdiam kaku, menatap penampilan Damon yang memang sangat mirip dengan para CEO pada umumnya.


"Pak Chandra masih sangat muda rupanya, kak Bima tidak menceritakan detail mengenai pak Chandra selama ini." ujar Damon kembali berbicara.


"Tidak pak, tidak terlalu muda! tapi saya rasa kita seumuran ya?"


"Jika mengatakan soal umur saya malu sendiri membahasnya, karena saat saya memberitahukan berapa umur saya mereka akan menyinggung, mengapa diusia saya yang sudah matang ini belum memiliki pendamping hidup." ucap Damon sambil terkekeh.


"Bisa saja pak Damon ini, oh iya kenalkan ini sekertaris saya, Alsha namanya."


Deg!


Mulut Damon terkatup rapat saat mengetahui jika disampingnya adalah Alsha yang merupakan adik bungsunya dari sang ayah.


"Al_"


"Hallo pak, perkenalkan saya Alsha, sekertaris pak Chandra dari perusahaan AM'group." ucap Alsha sembari mengulurkan tangannya kehadapan Damon, yang disambut pria itu dengan kaku.


Disaat yang sama tiba-tiba ponsel Chandra bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk dari kantor.


"Emm.. pak Damon mohon maaf saya terima telpon dulu sebentar dari karyawan saya yang berada di Jakarta." ucapnya sembari beranjak dari tempat duduknya sedikit menjauh.


Dan kesempatan itu digunakan Damon untuk berbicara empat mata dengan Alsha.


"Alsha kamu tidak benar-benar lupa kan, aku ini siapa?"


"Ya, kak Damon kan?"


Mendengar jawaban Alsha Damon tersenyum lega, namun ia sedikit keheranan dengan sikap Alsha yang tampak dingin.


"Bagaimana kabarmu dek?"


"Seperti yang kakak lihat."


"Oh iya, syukurlah kamu tampak sehat."


"Aku sudah bertemu ayah." ucap Alsha dengan wajah datar.


Deg!

__ADS_1


"B-bertemu ayah, ka-kapan dek?"


"Dua hari yang lalu."


"L-lalu apa yang terjadi?"


Alsha menghela, gadis itu memperbaiki letak duduknya menjadi lebih tegak. "Tanpa perlu aku jawabpun aku yakin kak Damon tahu jawabannya."


"Dek?"


"Ayah tidak pernah mengharapkan kehadiranku kan kak, itukan yang membuat kalian selama ini tidak mau mempertemukan aku dengan dia."


"Dek, maaf! tapi kakak yakin itu hanya ucapan ayah sesaat." ucap Damon berusaha menenangkan hati Alsha yang nyatanya tak berhasil sama sekali.


Gadis itu tersenyum getir, "Sesaat berapa lama yang kakak maksud, mungkinkah sesaat sembilan belas tahun atau tiga puluh tahun."


"Dek?"


"Sudahlah kak, kakak tidak perlu menghiburku lagi, aku sudah bisa menerimanya sekarang, selama ini aku hidup tanpa ayah, jadi aku sudah terbiasa, kak Damon tidak perlu khawatir lagi."


"Maaf."


"Kak Damon tidak salah, jadi tidak perlu meminta maaf."


"Lalu kenapa kamu bekerja dengan Chandra dek, bukankah suamimu juga memiliki perusahaan yang cukup besar.?"


"Aku_ aku dan dia sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun."


"Maksud kamu?"


"Aku sudah bercerai."


"Apa?! kamu sedang bercanda dek."


"Memangnya sejak tadi kita sedang melakukan candaan, tidak bukan?"


"Jadi_"


"Ya, benar!"


"Tapi kenapa?"


"Karena kami tidak cocok satu sama lain."


"Maksud kamu apa dek, hei jangan main-main! kamu masih terlalu muda untuk mendapatkan julukan janda dek, apa sih yang kamu pikirkan?"


"Cukup kak, jangan menambahkan beban dihatiku, kakak tidak tahu cerita yang sebenarnya."


"Tapi_"


"Wah sepertinya pak Damon mudah sekali akrab dengan sekertaris saya." ujar Chandra yang kini kembali duduk diantara mereka, meredakan ketegangan antara dua kakak beradik tersebut.

__ADS_1


*


*


__ADS_2