Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Butuh waktu


__ADS_3

"CK, lihatlah semakin hari kelakuannya semakin tak masuk akal saja." ujar Tommy pada Miko dan juga Liam yang kini berada ditempat yang sama, disebuah bar kecil yang letaknya tidak jauh dari perusahaan milik Davin.


"Apa yang membuatnya menjadi seperti ini, apakah kau tahu?" ujar Miko penasaran, sementara Tommy hanya bergidik mengangkat bahunya.


"Menurutmu, apakah dia begitu karena wanita itu?" lanjut Miko.


"Maksudmu Sera?" Tommy balik bertanya.


"Ya, mungkin saja kan,? dia sudah tahu jika Sera kembali dan sedang kencan bersama pacar barunya."


"Tapi aku rasa bukan, sepertinya ada hal lain yang membuatnya jadi begini."


"Ya_"


Obrolan keduanya terhenti saat Davin mulai meracau tak jelas.


"Alsha_ mengapa kau menyembunyikannya dariku, mengapa tak kau katakan saja sejak awal, mengapa kau membiarkanku menjadi seorang ayah yang jahat, arggh..!"


"Apa yang dia bicarakan?" Liam berucap dengan kening berkerut.


"Apakah kegilaan yang dia lakukan kali ini ada hubungannya dengan Alsha.?" lanjutnya membuat kedua sahabatnya yang lain ikut berpikir.


"Mungkin saja, sepertinya barusan dia menyebut nama gadis itu lalu dia menyebut dirinya ayah yang jahat, apa maksudnya, apa yang sebenarnya terjadi?" timpal Miko.


"Yasudah sekarang tugas kita hanya menemani dan mengawasinya, CK bisa-bisanya dia minum alkohol sebanyak itu padahal jelas-jelas dia tidak bisa meminumnya." Tommy menggerutu.


*


Pagi menjelang, Davin terbangun dengan kepala yang berdenyut, kemudian duduk disisi tempat tidur dengan perasaan gusar.


Pikirannya kini sudah sadar sepenuhnya, membuat ia kembali uring-uringan.


Menit kemudian ia tersenyum sendiri saat mengingat jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah dari bayi yang tengah dikandung Alsha.

__ADS_1


Namun masalah terbesarnya saat ini adalah bagaimana caranya ia harus menebus kesalahannya, mengingat dirinya yang sudah sangat keterlaluan dan sudah pasti sangat melukai perasaan Alsha.


Tak ingin menunda untuk berbaikan dengan gadis itu Davin bergegas mandi lalu berangkat menuju kantornya, hari ini ia tampak bersemangat dan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, agar sore ini ia bisa menjemput Alsha di AM'group, dan mengajaknya untuk berbicara baik-baik.


"CK, aku kira kau tidak akan berangkat bekerja Dav,?" ujar Tommy dengan tubuh bersandar ditembok samping pintu kaca utama yang berada dikantor Davin.


Davin mendengus, "Untuk apa kau kemari?"


"Kau sungguh tidak tahu bagaimana cara berterimakasih rupanya, kau lupa kalau semalam_"


"Ya, terimakasih!" jawabnya dan bergegas pergi dari hadapan Tommy membuat pria yang memiliki cambang tebal itu berdesis, menatap kepergian Davin tak percaya.


"Bedebah itu benar-benar." gerutunya, sembari mengikuti kemana Davin pergi.


"CK, untuk apa kau mengikutiku sialan! hari ini aku tak ingin diganggu, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat." hardik Davin, saat Tommy mendudukkan tubuhnya diatas meja kerjanya.


"Hei, aku kesini ingin memastikan sendiri apa kegilaanmu itu sudah sembuh atau belum?"


"Apa kau bilang?"


Davin mendesaah, seraya mengusap wajahnya dengan kasar, "Alsha hamil."


"Apa?!" Tommy terperanjat, bahkan ia hampir terjungkal dari meja karena saking kagetnya.


"Aku baru mengetahuinya kemarin."


"Jika kau tahu Alsha hamil, lalu apalagi yang kau tunggu sialan!"


"Masalahnya Tom, aku sudah terlalu menyakiti dia dengan kata-kata kotor, Karena aku pikir anak yang dikandung Alsha adalah anak dari bajiingan itu."


"Hmm.. kalau begini ceritanya akan sangat sulit untuk mendapatkan maafnya dude, tapi kau tidak boleh menyerah begitu saja, perjuangkan dia!"


"Aku mengerti."

__ADS_1


"Lalu mengenai perasaanmu untuk Alsha bagaimana?"


"Aku tidak tahu."


"Yakin kau tidak menyukainya?" goda Tommy.


"CK, ini urusanku bodoh!"


*


Benar saja, saat sore tiba! Davin berhasil mengerjakan seluruh pekerjaannya dan bergegas menuju AM'group menunggu Alsha didepan sana.


"Alsha?" panggilnya membuat Alsha yang tengah berjalan bersama Merry menoleh, menatap pria jangkung dihadapannya dengan tatapan tak suka, berbeda dengan Merry yang mengerjap-ngerjapkan matanya saat melihat Davin yang tampak begitu tampan dimatanya.


"Alsha tunggu, Alsha! kita perlu bicara."


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."


"Beri aku kesempatan, sekali lagi Alsha, aku mohon!"


Deg!


Alsha tertegun, saat mendengar suara Davin yang begitu lembut, karena ini untuk pertama kalinya Davin berbicara lembut terhadap dirinya.


"Beri aku kesempatan, aku berjanji akan memperbaiki semua sikap burukku selama ini terhadapmu."


Alsha tersenyum getir, "Sudah terlambat!" jawabnya sembari mengusap air matanya yang selalu jatuh tanpa peringatan.


Ia bukan egois, tetapi Davin sudah terlalu dalam menancapkan ribuan belati dalam hatinya.


Ia sakit, dan butuh waktu untuk menyembuhkannya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2