
"Ayolah Vin, bersemangatlah!" teriak Liam yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Davin yang saat ini berada ditaman belakang rumah sakit.
Pagi ini yang bertugas menemani Davin adalah Liam, karena Miko sedang mengerjakan pekerjaannya yang sudah banyak tertunda, begitupun dengan Tommy yang juga mengerjakan pekerjaannya yang sudah terbengkalai.
Liam menghela napas lelah saat Davin malah diam dengan tatapan lurus kedepan, dengan malas ia melangkah mendekati pria tampan yang berstatus sebagai sahabatnya tersebut.
"Payah kau Vin, baru beberapa langkah saja sudah menyerah, CK pantas Sera lebih memilih pria itu dibanding kau."
"Kau bilang apa?" sentak Davin membuat Liam mengerjap dan reflek menggaruk tengkuknya.
"Memangnya aku mengatakan apa?"
"Sialan!"
"Hei dude, dengarkan aku." menepuk pundak Davin beberapa kali, seraya duduk di kursi kayu disamping Davin.
"Dari pada kau terus menerus memikirkan dia, cobalah cari wanita yang lain, atau mau aku kenalkan pada teman-teman wanitaku? aku jamin mereka tidak akan mengecewakanmu, bagaimana?"
"Aku sama sekali tidak berminat dengan tawaranmu."
"CK, kau ini sungguh keras kepala sekali! oh iya, Vin! seminggu yang lalu aku tak sengaja melihat mantan istrimu, jika dilihat-lihat sekarang dia semakin cantik saja aku rasa."
Davin tertegun, sudah beberapa bulan ia tak pernah mendengar kabar mantan istrinya, juga tak pernah lagi melihat keberadaanya dilingkungan manapun, dan hari ini entah mengapa ia merasa kesal karena sahabatnya justru malah melihat keberadaanya.
Davin mendengus, "Memangnya apa hubungannya denganku, aku sama sekali tidak peduli tentang dia."
"Iya juga sih, memang tidak ada hubungannya! baiklah lupakan saja, anggap barusan aku tidak mengatakan apapun kepadamu." ujar Liam yang kemudian beranjak dari duduknya, namun gerakannya terhenti saat Davin menahan tangannya.
"Dimana kau melihatnya?"
"Melihat siapa?" Liam balik bertanya sembari memasang muka bodoh.
"CK, orang yang baru saja kau ceritakan."
"Siapa?"
__ADS_1
"Kau__" Davin menatapnya tajam, kemudian mendengus seraya menepis kasar tangan Liam. "lupakan saja."
"CK, kau itu apa salahnya berbicara dengan jelas, jika kau ingin menanyakan tentang mantan istrimu yang cantik itu, aku hanya melihatnya sekilas, sepertinya saat itu dia sedang bertemu dengan seorang klien, dia bersama bos nya aku rasa."
"Katakan dimana kau melihatnya?"
Liam menyunggingkan senyum, "Kenapa? kau begitu penasaran rupanya."
"Omong kosong!"
"Akuilah Dav, apa susahnya."
"CK, tidak usah berbasa-basi kau tinggal mengatakannya saja dimana kau melihatnya, sialan!"
"Memangnya kau mau menemuinya disana, percuma saja karena sekarang sudah jelas dia tidak akan kembali kesana."
"Dengan siapa dia pergi?"
"Jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku yakin kau akan kaget saat mendengarnya."
Liam terdiam sesaat, memperhatikan reaksi apa yang akan ditunjukkan Davin saat ini.
"Apa kau bilang? Chandrawinata?"
"Ya, kau tidak lupa kan siapa dia?"
"Sial!"
"Sepertinya kisah masalau akan terulang dimasa sekarang, aku bisa melihat bagaimana Chandra menatap Alsha waktu itu." sambung Liam dengan terang-terangan ia memprovokasi.
"Bantu aku kembali berlatih." ujar Davin kemudian dengan wajah datar.
"CK, akhirnya semangat untuk sembuh muncul juga! dengan senang hati aku membantumu dude." Liam menyeringai sembari membantu Davin untuk berdiri.
Ditempat yang berbeda, Alsha dengan panik melajukan mobil milik Chandra menuju rumah sakit untuk mengantar sang pemilik mobil tersebut yang saat ini tengah meringis memegangi perutnya.
__ADS_1
Chandra mengatakan jika saat ini mungkin penyakit lambungnya tengah kambuh, karena siang tadi ia telah melewatkan makan siangnya.
Benar saja, begitu tiba dirumah sakit dan dilakukan pemeriksaan Chandra mengalami gangguan pada lambungnya.
"Lain kali bapak jangan begini lagi ya, harus teratur makannya, saya takut terjadi apa-apa sama bapak."
Mendengar celotehan Alsha yang bernada khawatir, membuat Chandra mengulas senyum senang.
"Kamu mengkhawatirkan saya?"
"Tentu saja."
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya Alsha, dan maaf karena sudah membuat kamu khawatir."
"Bapak tidak perlu minta maaf, tapi bapak harus berjanji bahwa mulai sekarang bapak harus makan dengan teratur."
"Baik, saya mengerti!"
"Sekarang bapak harus makan dulu, setelah itu minum obat." Alsha mengambil mangkuk kecil berisi bubur yang baru saja dibawakan oleh petugas rumah sakit.
"Bolehkah saya meminta bantuan kamu Alsha.?"
"Apa itu pak, jika saya bisa pasti akan saya lakukan."
"Bantu suapi saya, bisa?"
"Eumm,, itu_"
"Yasudah jika tidak bisa saya tidak akan memaksa, saya akan melakukannya sendiri." ucap Chandra yang berusaha bangun dan meraih mangkuk yang Alsha pegang.
"Jangan! biar saya saja." ucap Alsha pada akhirnya, sembari merebut kembali mangkuk dari tangan Chandra yang membuat pria tersebut tersenyum senang.
"Terimakasih Alsha."
Dengan telaten Alsha menyuapi Chandra layaknya menyuapi seorang bayi, tanpa ia sadari dari celah pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata tajam tengah menatapnya penuh amarah.
__ADS_1
*
*