
"Mama?" ucap keduanya bersamaan, jangan lupakan tatapan Davin yang mengarah kearah Evan dengan tatapan menusuk.
Evan yang langsung mengerti dengan tatapan tajam itu langsung mengangkat kedua tangannya. "Sumpah bang bukan gue, gue nggak bilang ke mama kalau Lo udah cerai."
Sementara Davin hanya berdecak, sembari meraih bahu sang mama.
"Ma_"
"Mama kecewa sama kamu Dav, beraninya kamu membohongi mama dan membiarkan menantu kesayangan mama pergi."
"Ma_"
"Jangan pernah kamu temui mama sebelum kamu bisa membawa Alsha kembali."
"Ma, itu nggak mungkin!"
"Apa yang nggak mungkin?"
"Kami sudah bercerai."
"Kamu kejar dia lagi."
"Maaf ma, nggak bisa!"
"Kalau begitu, Evan kamu bisa kan menikah dengan Alsha, lagi pula kalian seumuran kan?" lanjut Inara yang kini menatap kearah Evan membuat pemuda berumur sembilan belas tahun itu, mengerjap beberapa kali.
"Ma aku_"
"Nggak bisa gitu dong ma, CK yang benar saja bocah ingusan seperti dia menikahi Alsha." Davin menyela.
"Memangnya apa yang salah dengan Evan, dia juga sudah cukup umur untuk menikah."
"Pokoknya aku nggak setuju."
"Mama nggak perlu persetujuan kamu."
"Ma_"
"Bagaimana Evan?"
"Ehmm_" Evan menggaruk tengkuknya seraya menatap Inara dan juga Davin bergantian.
Jika sang mama menatapnya dengan tatapan memohon, namun berbeda dengan tatapan Davin yang seolah memberi isyarat jika ia tidak boleh menyetujuinya.
"Evan?"
"Iya, aku bersedia Ma."
"Evan sialan!" sentak Davin, namun tak membuat nyali pemuda itu ciut, Evan justru malah dengan sengaja memancing kekesalan dimata Davin.
"Mama senang sekali mendengarnya, kamu memang anak Mama yang paling baik, Evan!" ujar Inara yang langsung memeluk anak keduanya tersebut dengan sayang.
__ADS_1
Sementara Davin langsung pergi dari ruangannya dengan emosi yang meledak-ledak.
"Sial!"
"Ma, mama nggak serius kan sama ucapan mama barusan?" ujar Evan setelah memastikan jika sang kakak sudah benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Ya, nggaklah! mama cuma mau membuat kakak kamu itu peka dan belajar bertanggung jawab dengan keputusannya yang ceroboh itu, mama yakin dia tidak akan rela jika Alsha bersama kamu."
Evan mendesaah kecewa. "CK, aku pikir beneran!"
"Anak ingusan, jangan berpikir macam-macam dulu, pikirkan kuliahmu dan belajar yang benar, ayok pulang."
"Iya ma."
*
"Asshh, bedebah, sakit sialan!" protes Davin seraya menyentuh kakinya yang baru saja ditendang Tommy, sore ini pria tersebut memilih rumah Davin sebagai tempatnya untuk menenangkan diri.
"Sudah sembuh kan?"
Davin berdesis, seraya menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang berada diruang tamu didalam rumah Tommy.
"Apa yang membuatmu datang kemari?"
"Evan bilang, gadis itu sekarang tinggal dikontrakkan kecil, kau tahu kan soal itu?"
"Gadis mana yang kau maksud?" ujar Tommy sembari menuangkan minuman dingin kedalam gelas yang berada dihadapan mereka.
"CK, bisakah kau tidak berputar-putar Tom?"
"Apa maksudmu, perasaan apa?"
"Kau mengkhawatirkannya bukan?"
"Omong kosong!"
"Berhentilah bersikap bodoh, Dav! aku tahu hatimu tidak akan pernah bisa berbohong, kau jatuh cinta pada mantan istrimu kan, CK sungguh lucu."
"Tutup mulutmu sialan!"
"Terserah kau saja, tapi jangan lupa dengan peringatan yang selalu aku katakan padamu, jika kau terlambat kau akan menyesalinya seumur hidup."
*
Seperti hari-hari sebelumnya, setiap pagi sebelum berangkat bekerja Alsha merebahkan tubuhnya sebentar, lemas akibat mual yang cukup lama membuat kepalanya terasa pening.
Setelah banyak pertimbangan sore ini ia berencana untuk membeli alat test kehamilan untuk memastikan keadaan tubuhnya yang sebenarnya.
Alsha tahu seberapa kuat ia tak ingin mengetahui hasilnya, janin yang ada didalam kandungannya akan terus tumbuh dan semakin lama akan semakin membesar.
Setelah sarapan dan keadaan tubuhnya sedikit membaik Alsha pun bergegas berangkat kekantor dengan menumpangi ojek online seperti biasanya.
__ADS_1
"Sha, nanti malam kamu ada acara nggak?" ujar Chandra yang siang ini sengaja menghampiri meja Alsha.
"Ehmm..tidak! memangnya kenapa ya pak?"
"Begini Sha, nanti malam temani saya menghadiri pesta ulangtahun dari salah satu anak klien saya, bisa kan?"
"Memangnya nanti malam bapak ada acara, maaf! sepertinya saya sudah lalai mencatat di agenda."
Chandra mengulas senyum, "Tidak, kamu tidak salah Alsha, ini memang undangan pribadi, jadi tidak masuk agenda, pak Dimar baru saja menelpon saya."
"Begitu ya?"
"Iya, bisa kan temani saya?"
"Bisa pak."
"Yasudah, nanti saya jemput kerumah kamu sekitar jam tujuh malam ya."
"Eh, nggak usah pak!"
Chandra mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
"Maksudnya, bapak nggak usah jemput saya kerumah, bapak jemput saya disini saja."
"Kenapa?"
"Biar bapak nggak kejauhan jemputnya."
"Tidak masalah Alsha.''
"Nggak pak, bapak jemput disini saja, soalnya sebelum berangkat saya ada urusan sebentar."
"Baiklah kalau begitu."
*
Setelah mencoba alat test kehamilan yang ia beli disebuah apotek sore tadi, kini Alsha menyenderkan kepalanya dipintu kamar mandi, kedua matanya memejam berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak hebat.
Ia sama sekali belum melihat hasilnya, namun benda tipis itu masih digenggamnya dengan erat, sembari menyiapkan hatinya dengan kemungkinan yang ia takuti.
Pelan ia membuka jemarinya yang mengepal, hingga perlahan memperlihatkan hasil dari alat test tersebut.
"Garis dua." gumamnya, dengan tangan bergetar, sembari mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
Tubuh Alsha luruh, ia jatuh terduduk dilantai kamar mandi yang basah, entah apa yang harus ia lakukan sekarang? kenyataan ini membuatnya benar-benar merasa tersiksa.
Bukan, Alsha bukan tidak menginginkan bayinya tetapi ia takut jika ia tak mampu mencukupi anaknya suatu hari nanti.
Sekarang ia memang bisa mencukupi kebutuhannya, namun bagaimana ketika ia melahirkan.
Ia tidak mungkin mengatakan pada Davin bahwa saat ini ia tengah mengandung anaknya, terlebih saat mengingat bagaimana perlakuan Davin selama ini terhadap dirinya.
__ADS_1
*
*