Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Perhatian Davin 2


__ADS_3

Davin masuk kedalam kamar Alsha yang dulu pernah menjadi kamarnya, setelah mendapatkan sahutan dari dalam.


Ia memang tak bersuara selain hanya mengetuk pintunya dari luar, didalam sana Alsha tengah bangun dari kasur dan berusaha untuk duduk, tubuhnya tampak lemah dengan wajah yang sedikit pucat.


"Awas hati-hati." tanpa sadar Davin berteriak, membuat Alsha terlonjak kaget.


"K-kak Davin?" ucapnya yang terlihat benar-benar terkejut, ia pikir yang mengetuk pintu kamarnya tadi adalah Inara, jika ia tahu dia adalah Davin ia tentu takkan membiarkannya untuk masuk.


"Alsha kamu tidak apa-apa?" ucapnya sembari membantu Alsha untuk senderan di headboard.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri." ucap ketus Alsha, sembari menepis tangan Davin dari bahunya.


"Sepertinya kamu kurang sehat, aku akan memanggilkan Dokter untukmu."


"Mama sudah memeriksakan saya tadi pagi." lagi-lagi Alsha berbicara ketus.


Terdengar helaan napas berat dari mulut Davin, sepertinya mulai saat ini ia harus lebih banyak bersabar menghadapi wanita yang kini tengah berbadan dua dihadapannya.


"Alsha aku tahu aku salah, tapi aku tidak akan berhenti untuk meminta maaf, maafkan aku." ucapnya terdengar tulus sembari berjongkok disisi ranjang disamping Alsha.


Alsha memalingkan wajahnya kearah lain, "saya sudah memaafkan kak Davin."


"Benarkah, kamu serius?" Davin mengerjap antusias.


Alsha menganggangukan kepalanya.


"Jadi kamu mau kembali denganku, kita mulai semuanya dari awal ya, aku berjanji aku akan memperbaiki sikapku."


"Tidak bisa, selama di hati kak Davin masih ada wanita lain dan masih mengharapkannya maka saya tidak akan pernah bisa untuk kembali pada kak Davin."


Davin terdiam kaku, benar! saat ini hatinya memang masih dipenuhi dilema, bahkan saat ini ia tidak tahu siapa wanita yang ia cintai.


"Bukankah kak Davin tidak bisa menjawabnya, lalu apa yang kakak tunggu, tolong kakak keluar! saya ingin beristirahat." usir Alsha.

__ADS_1


Tanpa kata Davin melangkah mundur keluar dari kamar Alsha namun tak lama ia kembali dengan segelas susu ditangannya, dan meletakkannya diatas nakas yang berada disamping Alsha.


"Ini susu khusus ibu hamil, aku harap kamu meminumnya sampai habis, jika rasanya kurang manis kamu katakan saja, supaya besok aku menambah jumlah takarannya." ucap Davin membuat Alsha tertegun hingga beberapa saat.


Memperhatikan Davin dengan seksama, benarkah ini adalah jelmaan Davin yang ia kenal? pikirnya.


"Sebaiknya kak Davin keluar dari sini sekarang juga, atau saya yang keluar."


"Tidak! berisitirahatlah Alsha, aku akan segera keluar." ucap Davin, namun sebelum ia mengambil langkah ia kembali menoleh kearah Alsha.


"Meskipun kamu selalu menolak, tapi aku akan datang setiap hari untuk menemuimu dan anak kita." lanjut Davin yang kemudian keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Alsha dengan sejuta pikirannya.


*


"Alsha tidak apa-apa kan hanya ditemani bibi dirumah?" ujar Inara yang pagi sudah rapih dengan setelan baju kerjanya.


"Memangnya kenapa ma?"


"Mama ada acara nemenin papa tugas diBandung, mungkin bisa tiga atau empat harian, Evan juga sedang ada tour bersama teman-temannya, jadi mungkin Alsha akan sedikit kesepian berada dirumah."


"Tapi janji ya, kalau ada apa-apa langsung kabari mama, dan jangan sekali-kali mencoba kabur dari rumah, mengerti?"


"Iya ma."


"Anak pintar!" ucapnya sembari menyentuh kepala Alsha dan bergegas keluar menaiki mobil bersama Adnan.


Seharian Alsha hanya duduk-duduk selebihnya tiduran, makan, lalu membaca buku untuk sekedar menghilangkan rasa bosan, walaupun rasa bosan itu sepertinya tak pernah hilang.


Alsha merindukan saat-saat dimana ia bekerja, lalu saat istirahat mengobrol riang bersama Merry sahabatnya.


Sudah dua hari ini ia tidak bekerja karena kondisi tubuhnya yang terasa semakin lemah.


"Non mau bibi buatkan makanan?" tawar bi Ijah yang kini menghampiri Alsha yang sedang menatap aquarium besar yang berada diruang tamu.

__ADS_1


"Saya sedang tidak ingin memakan makanan apapun bi." balas Alsha sambil tersenyum.


"Baiklah, katakan pada bibi jika sudah menginginkannya."


"Iya Bi."


Setelah kepergian bi Ijah, Alsha kembali menatap ikan dihadapannya, ia menyentuh kaca aquarium memperhatikan satu demi satu bentuk ikan tersebut.


Hingga suara bunyi bel yang cukup nyaring membuat ia beranjak membuka pintu.


"Siap_" ucapan Alsha terhenti saat mengetahui siapa tamu yang datang.


"K-kak Davin?"


"Kamu sudah makan? saya bawakan banyak makanan untuk kamu." ujar Davin yang kemudian masuk begitu saja melangkahkan kakinya menuju dapur memindahkan makanan yang ia bawa kedalam piring.


"Ayok makan, mama bilang kamu kekurangan vitamin Alsha." panggil Davin saat melihat Alsha hanya mematung memperhatikan setiap gerakannya.


"Saya tidak lapar."


"Mungkin kamu tidak merasa lapar, tapi bagaimana dengan bayi kita, kamu tidak memikirkannya?"


"Saya_"


"Aku tahu kamu benci aku Alsha, aku tahu kamu masih marah, tapi aku mohon jagalah dia dengan baik, karena aku sangat mengharapkan kehadirannya didunia ini."


Deg!


Alsha menunduk, gadis itu memegangi perutnya yang sekarang mulai terlihat sedikit membuncit, bahkan ia sudah mulai merasakan gerakan halus itu didalam perutnya.


"Makan ya!" bujuk Davin, sembari menarik tangan Alsha menuju meja makan.


Demi sang bayi, akhirnya Alsha mengangguk patuh, ia menerima sepiring nasi yang sudah dipenuhi lauk pauk sehat yang dibawa Davin, dan anehnya perutnya menerima dengan baik Alsha memakannya dengan lahap, tidak membuatnya mual sama sekali, membuat senyum bangga terbit dari bibir Davin.

__ADS_1


*


*


__ADS_2