
Satu bulan berlalu.
Jodi berlari tergopoh-gopoh begitu mengetahui jika pagi ini Alsha datang kerumahnya dengan membawa serta bayinya dan juga Davin yang turut menemani.
"Alsha, akhirnya kamu datang juga nak!" Jodi begitu antusias, ia bahkan tak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya kala melihat kedatangan Alsha, ia membungkuk mempersilahkan Alsha dan juga Davin untuk duduk.
"Reynard tidak termasuk orang lain kan?" celetuk Alsha begitu dirinya duduk.
Jodi tertawa sumbang, "Tentu saja tidak, bagaimana mungkin Ayah mengagapnya begitu, dia adalah cucu pertama ayah dari putri ayah satu-satunya, justru dengan kamu membawanya kemari menambah kebahagiaan tersendiri bagi Ayah, oh iya ayah juga sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk cucu ayah."
Jodi menunjuk beberapa kotak besar yang sudah dibentuk secantik mungkin.
"I-itu_"
"Semuanya untuk Reynard." selanya cepat, lalu ikut bergabung duduk bersama anak dan menantunya diatas sofa.
"Oh iya, nak Davin tidak keberatan kan kalau Alsha saya ajak sebentar kebelakang?" ucap Jodi to the point, sejatinya pria yang sudah berumur tersebut memang memiliki sikap yang cenderung blak-blakan dan apa adanya.
"Oh boleh pak, silahkan saja! soal Reynard biar saya yang menjaganya disini." ucap Davin seraya mengambil alih bayi yang bertubuh mungil tersebut dari pangkuan istrinya.
"Bi, tolong buatkan minuman untuk menantu saya ya." sambung Jodi, saat berpapasan dengan salah satu asisten rumah tangganya yang berada disana.
"Baik pak."
Sementara itu Alsha hanya menurut saja mengikuti langkah kaki Jodi yang mengarah kesebuah ruangan besar yang berisi tumpukan buku-buku dan lembaran foto-foto yang sudah usang.
"Alsha ini adalah tempat yang sangat disukai ibumu saat itu." terang Jodi lebih dulu, sebelum Alsha bertanya.
"I-ibu?"
Jodi tampak menghela napas pelan, sorot matanya sayu terlihat ada banyak sekali kesedihan dari kedua matanya yang mulai cekung tersebut.
"Ayah sangat mencintai ibumu, sayangnya ayah juga yang sudah menyakiti perasaan ibumu."
"Maksud A-ayah?"
Perlahan kedua matanya berbinar, saat mendengar Alsha kembali memanggilnya dengan sebutan ayah seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Maafkan ayah Alsha, ayah saat itu diam-diam menikahi wanita lain, ayah terpaksa melakukannya."
"Tapi kenapa?"
"Karena sejak awal almarhum kakek kamu tidak menyetujui hubungan kami."
"Diam-diam ayah menikah lagi dengan Rossa ibunya Miko, wanita yang menjadi pilihan kakek."
"Lalu apakah ibu tahu.?"
Jodi menggeleng, "Ibumu tidak pernah tahu, sampai ayah menikahi Lisda ibunya Bima dan Hanifa ibunya Damon."
"Jadi, setelah ibu ayah menikahi tiga wanita lain? termasuk ibu Rossa?"
"Ya."
"Mengapa ayah tega melakukan ini kepada ibuku?" ucap Alsha dengan tangan terkepal.
"Ayah terpaksa Alsha, kakekmu ingin seorang cucu."
"Dan setelah ayah menikahi mereka, lalu bagaimana dengan ibuku?"
__ADS_1
"Setelah ketiga kakak laki-lakimu lahir, Ibumu pun pada akhirnya hamil dan melahirkan kamu, setelah itu ayah sibuk bekerja dan mendapatkan banyak tugas diluar negri hingga memakan waktu yang cukup lama, saat itu juga ayah baru mengetahui bahwa ketiga istri ayah sangat terpaksa menikah dengan ayah demi orang tua mereka yang sudah di janjikan sejumlah uang oleh kakekmu."
"Mereka terbukti selingkuh, hingga ayah pun merasa ragu dengan anak-anaknya yang lain, dan beberapa tahun yang lalu ayah sudah menceraikan mereka semua."
"Apakah diantara mereka termasuk aku?"
"Maafkan ayah, ayah salah."
"Apa Ayah tidak salah menilai, bagaimana mungkin ibu Rossa juga ikut terlibat? karena selama aku tinggal bersamanya dia selalu menunggu kepulangan ayah, dan dia sangat menyayangiku."
"Itu hanya sandiwaranya saja dihadapan kalian, terutama dihadapan kamu."
"B-bagaimana mungkin."
"Satu lagi, dia adalah orang yang sudah membuat ibumu meninggal."
Deg!
"T-tidak mungkin!"
"Percaya tidak percaya, tapi itu kenyataannya Alsha, dan sekarang dia harus menebus kesalahannya dengan berada ditempat yang semestinya."
"M-maksud ayah?"
"Dia berada dalam sel tahanan, Andress sudah mengurusnya beberapa hari yang lalu."
"A-apa?"
Ya, satu Minggu yang lalu Andress benar-benar telah melakukan pekerjaannya dengan baik, untuk menemukan Rossa sekaligus membawanya kepada pihak yang berwajib, tentu dengan beberapa bukti kejahatan yang sudah Rossa lakukan.
"Ayah, apakah aku boleh menemuinya."
"Alsha, untuk apa? dia adalah wanita yang berbahaya."
"Tapi_"
"Aku mohon ayah, ijinkan aku menemuinya."
"Baiklah, tapi ayah akan ikut denganmu, bagaimana?"
"Baik."
*
"Yakin, kamu hanya akan pergi berdua dengan ayah Jodi?" tanya Davin, saat pagi ini melihat istrinya yang sudah bersiap hendak pergi.
"Aku yakin kak, jaga Reynard ya! aku tak tega membawanya ketempat seperti itu."
"Baiklah, hati-hati dijalan! aku dan bayi kita menunggumu dirumah."
"Aku pergi kak."
Alsha berjalan tergesa-gesa menuju mobil sang ayah yang sudah terparkir didepan rumahnya beberapa menit yang lalu, rasa penasaran, marah, kecewa, dan rindu menjadi satu dalam hati Alsha.
"Saya beri waktu kalian sepuluh menit." ujar salah satu petugas pria paruh baya yang berjaga ditempat Rossa ditahan.
"Baik pak, terimakasih." ucap Alsha lirih, karena fokusnya saat ini hanya tertuju pada sosok Rossa yang berwajah datar dan lurus kedepan.
"Ibu?" panggilnya lirih, bahkan tanpa ia sadari setetes air matanya luruh membasahi pipi.
__ADS_1
"Untuk apa kau kemari, ingin memakiku hn?"
"B-bukan, bagaimana mungkin aku mampu melakukannya, aku hanya ingin bertanya, apa benar bahwa ibulah yang menyebabkan ibuku meninggal?"
"Ya, aku yang melakukannya."
Deg!
"Tapi kenapa Bu?"
"Kau ingin tahu alasannya?"
"A-apa alasannya?"
"Karena ayah kamu, gara-gara ayah kamu hidupku jadi hancur! aku kehilangan cintaku, hidupku, semuanya yang aku harapkan."
"Tapi kenapa kau melampiaskan kemarahan mu kepada ibuku, apa menurut ibu ini semua adil?"
"Tentu saja, karena aku tahu ayahmu sangat mencintai ibumu, dan tentunya hal ini membuat ayahmu merasakan apa yang aku rasakan! adil, bukan?"
"Ibu sungguh tega, aku benar-benar tidak menyangka bahwa ibu begitu dendam selama ini." ucap Alsha sembari mengusap kasar air matanya yang jatuh tak beraturan.
"Baguslah jika kau tahu lebih awal, dengan begini kau tidak penasaran bukan?" ujar Rossa masih dengan raut wajah seperti semula.
"Bu, apa tidak sedikitpun ibu benar-benar tulus menyayangiku, seperti aku yang menyayangi ibu selama ini."
"Tidak." sahut Rossa sembari memalingkan wajahnya.
"Bu_"
"Pergi..!!"
"Pergi...saya bilang!" sentak Rossa dengan napas tersengal.
"Baik, tapi sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan kalau aku sangat menyayangi ibu."
"Alsha, ayok!" ajak Jodi sembari merangkul tubuh mungil Alsha yang bergetar menahan tangis.
Sementara ditempatnya Rossa kembali dimasukkan kedalam sel tahanan, lalu wanita itu menangis dengan segala rasa sakitnya.
Sebenarnya ia pun tak bisa memungkiri bahwa dirinya sama sayangnya terhadap Alsha, bagaimana tidak! ia sudah mengasuh Alsha dari sejak ia masih kecil.
Rossa memang membenci Jodi, tapi dalam hatinya ia tak pernah sekalipun membenci Alsha.
*
"Tari, aku sudah menegakkan keadilan untukmu, aku harap sekarang kau sudah memaafkanku." gumam Jodi, yang kini berjongkok disamping Nissan istrinya yang sudah lama meninggal.
Sementara itu Alsha yang juga berada disana ikut berjongkok, dan menaburkan bunga mawar yang ia bawa diatas kuburan ibunya.
Tak ada kata yang ia ucapkan, namun dalam hati ia memanjatkan banyak doa untuk ibunya agar mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya.
Selain itu setelah semua kesakitan yang ia lalui selama beberapa tahun terakhir ini, Alsha berharap kedepannya keluarganya dan keluarga kecilnya, dilimpahkan banyak kebahagiaan.
______TAMAT______
Terimakasih readers tercinta yang sudah mengikuti novel Author yang satu ini, maafkan atas segala kekurangannya.😊☺️☺️
Sayang kalian semua🥰
__ADS_1
*
*