
Dengan segala pertimbangan akhirnya Alsha menyetujui keinginan Inara untuk tinggal dirumahnya dengan satu syarat jika Davin tidak boleh ikut tinggal bersama mereka.
Meski awalnya memang keberatan, namun Inara pun menyetujui permintaan Alsha, yang terpenting baginya saat ini adalah Alsha ada bersamanya, selain itu ia dapat mendampingi kehamilan Alsha dan memastikan jika kebutuhan cucu pertamanya tercukupi.
"Kalau Alsha butuh apa-apa jangan sungkan panggil mama ya sayang." ujar Inara yang kini mengantar Alsha kedalam kamar yang dahulu menjadi kamar Davin, "Oh iya kalau nggak suka lihat ada barang-barang Davin disini boleh suruh bibi buat bersihkan ya?"
"Iya ma, terimakasih ya ma."
"Iya sayang, istirahat ya! mama mau kebawah dulu."
Inara pun bergegas turun kelantai bawah, ia menghela napas kesal saat melihat putra pertamanya tengah duduk diruang tamu.
"Mau ngapain kamu tiba-tiba datang kesini,?" ujar Inara dengan ketus.
"Ma?" pria itu beranjak, dengan binar dikedua matanya.
"Alsha disini kan ma! dia mau kembali?"
"CK, kamu ngikutin mama ya!"
"Tadi_"
"Asal kamu tahu, Alsha memang tinggal disini tapi bukan berarti dia mau kembali sama kamu, dan seandainya jika mama ada diposisi dia mama juga tidak mau kembali sama kamu."
"Ma_"
"Kamu itu benar-benar bodoh ya, mama sangat kecewa tahu nggak! bisa-bisanya kamu tidak tahu jika selama ini Alsha hamil, dan kamu membiarkan dia tinggal ditempat kumuh, sambil bekerja pula."
"Aku kan sudah bilang kalau aku baru mengetahui kehamilan Alsha, lagi pula aku sudah mengaku salah ma, dan soal dia yang bekerja itu memang keinginan dia."
"Dav, mama tidak tahu ya, kesalahan apa yang sudah kamu perbuat! tapi mama yakin hal itu membuat Alsha sakit hati, buktinya dia sampai nggak mau tinggal serumah lagi sama kamu."
"Mau kemana kamu?" sambung Inara saat putranya tak menggubris ucapannya dan justru malah berlalu dari hadapannya.
"Mau ketemu Alsha ma, aku mau bicara empat mata sama dia."
"Mama tahu, tapi nggak sekarang Dav, kalau begini dia bisa-bisa mengira jika mama melanggar kesepakatan yang dia buat."
__ADS_1
"Tapi aku harus bicara ma."
"Kamu mencintainya?"
Deg!
"A-apa maksud mama?"
"Anak bodoh, mama tanya kamu begini karena mencintainya atau hanya karena merasa bertanggung jawab dengan bayinya?"
"A-aku_"
"Sudahlah, jika kamu memang tidak memiliki perasaan apa-apa untuk Alsha lebih baik kamu memang tidak perlu menemui Alsha, kamu tidak usah khawatir, biar mama yang menjaga dia dan bayinya, karena bagi mama sekarang Alsha adalah anak mama."
Davin mematung ditempatnya, Sementara Inara berlalu menuju pintu utama untuk mengecek seseorang yang beberapa kali menekan bel rumah.
"Ma?" sapa Evan.
"CK, kirain Mama siapa?"
"Emangnya siapa, oh iya kak Alsha beneran tinggal disini?" ujar Evan yang memang benar-benar tidak percaya saat Inara memberitahunya lewat pesan chat.
"Iyadeh, percaya aja sama mama, dimana dia sekarang?" Evan nyelonong masuk, kemudian langkahnya terhenti saat melihat Davin yang juga berada disana.
"Masih tahu jalan pulang Lo bang, tumben banget sore-sore ada disini?" celetuk Evan.
Davin mendengus, "Bukan urusan Lo!" jawabnya, kemudian berlalu dari tempat tersebut.
*
"Terimakasih atas kerjasamanya pak Davin, semoga dengan kerjasama ini perusahaan kita sama-sama mendapatkan untung dan kesuksesan yang lebih besar lagi." ujar pak Wira sembari menjabat tangan Davin.
"Sama-sama pak, harapan yang sama juga bagi saya."
"Saya akui senang rasanya bisa bekerja sama dengan CEO muda berbakat seperti pak Davin ini."
Davin terkekeh, "Bapak bisa saja."
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi kembali kekantor pak, sepertinya pekerjaan saya yang lain sedang menunggu." lanjut Wira dengan tawa khasnya.
"Baik pak, tidak masalah! saya sendiri juga masih memiliki banyak pekerjaan."
"Baiklah, baiklah mari pak."
Davin mengangguk samar, kemudian melangkahkan kakinya mengikuti Wira yang juga hendak keluar dari Mall yang menjadi tempat mereka bertemu siang ini.
"Aku nggak suka susu bu, diganti pakai nutrisi yang lain kan bisa?"
"Dicoba dulu barangkali saat kamu hamil malah jadi suka kan?"
Langkah Davin terhenti saat tak sengaja mendengar percakapan antara dua wanita yang berbeda generasi dihadapannya tengah membahas masalah susu.
Seketika ingatan Davin tertuju pada Alsha yang saat ini tengah mengandung, meski selama menikah ia tak pernah memperhatikan apa yang Alsha sukai, namun ia ingat betul jika ia beberapa kali menemukan segelas susu hangat tersaji dimeja makan.
Itu berarti Alsha menyukai susu, bukan? Davin berbicara pada dirinya sendiri.
Tak berpikir panjang lagi ia bergegas membalikkan tubuhnya memasuki area khusus yang menjual berbagai macam merek susu ibu hamil.
Davin memilih banyak susu dengan rasa yang berbeda juga, khawatir jika Alsha tidak menyukai salah satunya.
Tanpa merasa gengsi ia membawa beberapa keresek belanjaan tersebut yang keseluruhannya hanya berisi susu ibu hamil, lalu mengantarnya langsung kerumah sang mama.
"Bi, mama kemana?" tanya Davin, begitu asisten rumah tangga dirumah orang tuanya membukakan pintu untuknya.
"Ibu sedang beli buah-buahan mas, ditemani mas Evan."
"Terus Alsha?"
"Non Alsha ada dikamarnya mas, tadi sih sudah mau berangkat bekerja tapi dilarang ibu, karena non Alshanya mual-mual terus."
"Oh yasudah kalau gitu saya temuin dia dulu." ujar Davin yang tanpa sadar menjatuhkan seluruh barang-barang yang ia bawa dan berlari menuju kamar Alsha dengan tergesa-gesa.
"Mas, mas! ini barang-barangnya mau di taroh dimana?" ucap sibibi dengan sedikit berteriak.
"Taroh saja dilemari." balas Davin yang mulai menjauh.
__ADS_1
*
*