Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Kita sudah selesai.


__ADS_3

"Sombong sekali, kau pikir setelah bercerai denganku kau akan baik-baik saja, dan mendapatkan uang dari keluargaku, aku ingatkan agar kau tidak terus-menerus bermimpi Alsha Zanitha Batari."


"Hidupku justru akan lebih baik-baik saja jika bercerai denganmu, dan ingat satu hal bahwa aku tidak akan pernah mengambil sepeserpun uang dari keluargamu."


"Cih, kita buktikan! bagaimana jadinya hidupmu tanpaku Alsha."


Alsha tersenyum samar, "Apa yang perlu dibuktikan, bukankah selama ini pun aku sudah membuktikannya, kak Davin yang terhormat apakah kakak lupa jika selama ini aku menghidupi diriku dengan uang hasil kerja kerasku sendiri tanpa sepeserpun uang darimu?"


"Ingat-ingat lagi jika kakak lupa!"


"Brengsekk!"


"Kenapa,? marah? karena ucapanku benar?"


"Kau_"


Dengan penuh emosi Davin berjalan menuju pintu dan menguncinya dari dalam.


"Baik jika itu keputusanmu, aku sama sekali tidak keberatan jika harus kehilanganmu, asal kau tahu setelah kita berpisah tak akan ada satu wanita pun yang mampu menolak pesonaku."


"Aku percaya!"


"Cih!"


"Mari kita mulai semuanya, karena saya ingin segera menyelesaikannya." ucap Alsha datar, meski dalam hati ia berusaha mati-matian untuk tak lagi terlihat lemah dihadapan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya tersebut.

__ADS_1


Alsha memejamkan mata saat Davin menciumnya kembali dengan sangat lembut, Alsha berpikir jika Davin sengaja melakukannya agar dirinya terhanyut oleh permainannya.


Sebisa mungkin ia menahan agar tak mengeluarkan suara apapun yang akan mempermalukannya dihadapan pria angkuh yang kini berada diatas tubuhnya, menciumi setiap inci tubuhnya tanpa terlewatkan sedikitpun.


kedua tangannya mencengkram erat seprai, saat Davin mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu, dan menguluum salah satu benda sintal miliknya yang membuat ia hampir kehilangan keseimbangan.


Sementara itu Davin yang menyadari kegelisahan diwajah Alsha menyeringai penuh kemenangan, terlebih saat melihat Alsha yang terus menggigit bibir bawahnya dengan kedua mata terpejam.


Sampai kapan kau akan menahannya? batin Davin menertawakan.


"Akhhh!" pekik Alsha pada akhirnya, saat Davin benar-benar telah memasuki dirinya yang terasa begitu memaksa.


Ia menahan diri untuk tidak menangis, saat merasakan intii dirinya yang semakin terasa sesak dan tak nyaman, terlebih saat milik Davin mulai bergerak pelan didalam sana.


*


Gegas ia menyibak selimut dan hendak beranjak dari tempat tidur, hingga kilasan matanya tak sengaja menatap bercak merah diatas seprai.


"Sial!" umpatnya, "jadi dia benar-benar masih Virgin." gumamnya seraya menyentuh bercak merah tersebut, yang entah mengapa membuat dirinya tersenyum seperti seolah baru saja mendapatkan kepuasan yang tak ternilai.


Namun seketika senyumnya menghilang saat mengingat jika semalam adalah waktu terakhir ia berstatus sebagai suami Alsha.


Ada yang mengganjal dalam hatinya, seperti tak rela melepaskan! namun ia bukanlah tipe pria yang mau meruntuhkan harga dirinya demi seorang gadis seperti Alsha.


Yang benar saja!

__ADS_1


Ponsel diatas nakas berdering cukup keras, membuat fokus Davin teralihkan, ia meraih ponsel tersebut saat sebuah nama terpampang jelas dilayar pintar tersebut dengan cepat ia menekannya.


Panggilan tersambung.


"Saya sudah mengurus semuanya, kak Davin hanya perlu menandatangani saja, saya tunggu di Cafe Anugerah sekarang! saya percaya kak Davin bukan pria yang suka ingkar janji." ucap seseorang dari sebrang sana, yang kemudian memutuskan sambungan secara sepihak.


"Sialan! beraninya dia_" Davin tak melanjutkan kata-katanya, ia mencengkram ponselnya dan melemparkan apapun yang ada disekitarnya.


"Brengsek!" umpatnya, dan bergegas memasuki kamar mandi, berganti pakaian lalu keluar dengan tergesa-gesa.


*


Davin menepikan mobilnya diparkiran Cafe, sedikit berlari memasuki area Cafe yang terbilang cukup luas itu, matanya awas menatap setiap meja yang diduduki para pelanggan yang sedang menikmati hidangan.


Lalu menghela napas lega, saat berhasil menemukan sosok yang dicarinya.


Gegas ia menghampiri, dan menarik kursi yang berhadapan langsung dengan Alsha, sedikit tertegun dengan penampilan Alsha pagi ini yang tak lagi mengenakan kaca mata tebalnya seperti biasa.


"CK, kau melepaskan kacamata mu setelah bercerai dariku, kenapa? kau berusaha menjerat pesona pria lain?"


Dengan tenang Alsha menjawab, "Saya tidak berniat membahas hal ini kak, karena ini memang tidak ada dalam bahasan kita kali ini, lagi pula apa yang kakak khawatirkan? bukankah sejak awal kak Davinlah yang paling terpaksa menjalani pernikahan ini."


"Kita sudah selesai, saya harap jika kita bertemu lagi dilain waktu anggap saja kita tak saling mengenal." ujar Alsha, membuat Davin tak mampu berkata-kata.


"Saya permisi, saya harap setelah ini kak Davin mendapatkan wanita yang sesuai dengan standar keinginan kak Davin." Alsha beranjak dari hadapan Davin setelah menyodorkan map bersampul coklat yang ia bawa.

__ADS_1


*


*


__ADS_2