
Masih ditempat yang sama Davin meminta bi Ijah agar urusan memasak diserahkan kepadanya, ia ingin memasak makanan untuk Alsha yang sudah ia cap sebagai wanitanya, miliknya yang akan terus ia kejar hingga ia dapatkan kembali seutuhnya.
Setelah selesai memasak ia mengetuk kamar Alsha memintanya agar segera turun, dan mencicipi masakannya yang ia rasa cukup enak.
Bukan tanpa alasan Davin memang lihai dalam memasak, karena saat kuliah dulu Davin jarang pulang dan lebih memilih menginap disalah satu apartemen milik ayahnya yang terletak disamping kampus tempat ia menimba ilmu.
Dengan cekatan Davin menyiapkan piring yang ia isi dengan nasi serta lauk pauknya lalu menyerahkannya pada Alsha.
"Ibu hamil harus banyak makan sayur." ujar Davin dengan senyum diwajahnya, sementara Alsha hanya diam ia masih terkejut dengan perlakuan-perlakuan Davin akhir-akhir ini.
Jika ditanya Alsha tersentuh atau tidak, tentu jawabannya ia sangat tersentuh, karena sikap Davin yang sekarang merupakan sikap seorang pria yang selalu ia dambakan sejak dulu.
Hanya saja Alsha tak ingin terlihat cepat luluh dengan perlakuan Davin tersebut.
"Kak Davin tidak makan?" tanya Alsha saat merasakan jika sejak tadi Davin terus memperhatikannya tanpa berniat untuk ikut makan.
Pria itu tampak gelagapan, mengambil sepiring nasi kemudian memakannya.
"Bagaimana rasanya Sha, apakah masakannya enak, jika ada yang kurang besok aku akan lebih memperhatikannya lagi."
''Ini_ ini kak Davin yang masak?"
Davin mengangguk samar.
"Memangnya kak Davin bisa masak?" tanya Alsha yang tentu saja sangat terkejut.
"Sedikit."
Alsha tersenyum dalam hati, mengapa semua kehangatan dari Davin ia rasakan ketika sudah bercerai seperti sekarang ini, seandainya Davin memperlakukannya seperti ini sejak dulu ia tentu akan merasa menjadi seorang wanita yang paling beruntung di dunia.
Selesai makan Alsha berniat mencuci piring, namun lagi-lagi Davin melarangnya dan ia sendirilah yang melakukannya, sementara Alsha disuruhnya untuk duduk saja sambil memakan buah-buahan yang sudah ia kupas dan dipotong kecil-kecil.
Alsha mengusap-usap perutnya yang mulai sering mengalami pergerakan didalamnya, bayinya sangat aktif! pikirnya.
Tanpa sadar tak jauh dari tempat ia duduk Davin yang sudah selesai dengan pekerjaannya terus memperhatikannya dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
Kedua mata Davin tampak berkaca-kaca, rasanya ia ingin sekali ikut menyentuh perut Alsha, namun rasa takut saat menghadapi kemarahan Alsha membuatnya urung melakukannya.
Dan Davin lebih memilih menahannya sampai Alsha sendiri yang mengizinkannya untuk menyentuhnya.
*
Satu bulan berlalu, Alsha masih dengan pendiriannya yang tak ingin kembali pada Davin dan memilih tetap tinggal dirumah Inara karena wanita paruh baya itu selalu memberinya ancaman.
Dan mengenai sikap Davin, masih hangat seperti biasanya dan selalu memenuhi semua kebutuhan Alsha dan juga bayi mereka.
"Hari ini jadwalnya Alsha melakukan USG, mau mama yang temani atau kamu Vin?" tanya Inara saat pagi ini Davin mengantarkan makanan sehat yang ia buat khusus untuk Alsha setiap hari.
"Tentu saja_ tentu saja aku yang akan menemaninya ma."
"Lho, bukannya hari ini kamu ada meeting dengan tamu dari jauh Vin?" tanya Inara, karena seingatnya dua hari yang lalu Davin sempat mengatakannya.
Davin menggeleng, meski benar adanya ia memutuskan untuk lebih memilih menemani Alsha, karena ini adalah kesempatannya untuk melihat bayi mereka untuk pertama kalinya, karena saat USG yang pertama ia tak hadir disisi Alsha.
"Yasudah, hati-hati dijalan, awas jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, ingat! kamu bawa ibu hamil lho, bukan bawa si Tommy." gerutu Inara memperingati.
"CK, anak ini."
Mobil melaju menuju rumah sakit khusus ibu dan anak, Alsha ditemani suster diarahkannya menuju ruangan Dokter obgyn yang sudah memiliki janji temu dengannya dua hari yang lalu.
"Apakah melakukan USG tidak akan menyakiti bayi kami sus?" tanya Davin tampak bodoh, sementara sang suster yang mengantarkannya tertawa kecil, begitupun dengan Alsha.
"Tidak sama sekali pak."
"Baiklah kalau begitu."
"Mari silahkan." ujar suster sembari mengetuk pintu dihadapannya lalu merekapun masuk bersama setelah mendapatkan sahutan dari dalam.
Dokter obgyn wanita didalam ruangan tersebut tampak tersenyum sangat ramah, kemudian meminta Alsha untuk berbaring di atas brankar dan mulai melakukan pemeriksaan dengan mengoleskan jel diatas perut Alsha yang kemudian diletakkan sebuah transducer untuk melihat sang bayi didalam perut Alsha.
Alsha mendengarkan dengan sangat baik semua yang dikatakan oleh sang Dokter, sementara Davin mematung kaku menatap layar yang menampilkan sosok gambaran bayi didalam layar segiempat dihadapannya.
__ADS_1
Ia masih belum mempercayai jika sebentar lagi ia akan memiliki status baru yaitu menjadi seorang ayah.
*
Seminggu sejak Davin menemaninya USG, Davin sama sekali tak pernah terlihat lagi menemuinya, bahkan untuk sekedar memberinya kabar pun Davin tak pernah, membuat keraguan di hati Alsha mengenai Davin kembali bermunculan.
Alsha pikir sikap lembut Davin hanya sesaat, dan sekarang mungkin saja Davin sudah kembali pada Sera kekasih hatinya, memikirkan itu hati Alsha kembali diserang rasa sakit, ia merasa bodoh karena tanpa sadar iapun sudah jatuh cinta pada pria yang berstatus sebagai mantan suaminya itu.
Tak ingin terus terpuruk karena Davin, sore ini Alsha meminta Merry agar mau bertemu dengannya di suatu tempat.
"Bumil yang satu ini makin hari makin cantik saja, gimana Sha kamu sehat kan? ponakan aku juga sehat, kan?" ucap Merry, yang kini memilih duduk dihadapan Alsha disebuah Resto yang berada didalam sebuah mall besar yang tidak jauh dari rumah Inara.
Karena Alsha memilih tempat yang dekat dengan tempat tinggalnya yang sekarang, jika tidak! Inara akan terus memarahinya dengan nada penuh kekhawatiran.
"Baik, kami berdua baik Mer, oh iya kamu sendiri bagaimana?"
"Kurang baik, semenjak kamu keluar dari perusahaan pak Chandra berubah jadi singa lho Sha, nyeremin."
"Masa sih Mer."
"Nggak percaya kan? aku sudah bisa menebaknya." ujar Merry mengerucutkan bibirnya, wajahnya tampak jelas menyimpan banyak kekesalan.
"Memangnya dia Kenapa?"
"Dia kecewa karena pernah kamu tolak mungkin Sha, dan lebih kecewanya karena kamu tidak memberinya kesempatan untuk berjuang, kamu justru malah mengundurkan diri."
Ya, seminggu yang lalu Alsha memutuskan untuk mengundurkan diri, namun bukan karena Chandra yang menyatakan cinta, akan tetapi karena Inara tak ingin lagi dibantah, karena semua kebutuhannya sudah ditanggung sepenuhnya oleh Davin.
"Mer, kamu tahu sendiri kan kalau aku ini seorang wanita yang bermasalah, aku tidak pantas untuk pak Chandra, dia berhak mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari pada aku Mer."
Merry menyentuh kedua tangan Alsha dengan senyum manisnya, "Sebenarnya kamu gadis yang paling baik melebihi siapapun menurutku Sha, tapi aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu."
*
*
__ADS_1