Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Kembalilah


__ADS_3

Davin kembali kerumah dengan langkah gontai, ia menatap seluruh sudut rumah yang pernah Alsha lewati, termasuk kamar kecil yang berada di paling ujung.


Mengapa ia baru menyadarinya sekarang?


Alsha benar, ia berbicara soal kenyamanan sebuah tempat tinggal, lalu bagaimana dengan dirinya yang pernah menempatkan Alsha didalam kamar pengap itu.


Ia menyia-nyiakan istrinya hanya karena egonya, dan menganggap jika Alsha adalah gadis miskin yang sedang berusaha merampas hartanya.


Davin jatuh terduduk, mengingat satu persatu perlakuannya pada Alsha selama ini, namun semakin mengingatnya ia semakin tak sanggup.


Disaat yang sama ponselnya berbunyi, nama sang mama tertera dilayar pintar tersebut.


"Hallo, ma?" ucapnya dengan suara serak.


"Gimana dengan Alsha, apakah kamu sudah berhasil mendapatkan dia kembali?" ucap Inara dari sebrang sana.


"Belum ma."


"Kok belum sih Dav, kamu ngapain aja sih, usaha dong! lebih keras lagi.'' sentak Inara terdengar marah.


"Maaf ma."


"Kamu itu laki-laki bukan sih?!


"Ma_"


"Kenapa,?"


"Mama bisa bantu bujuk Alsha untuk kembali kesini ma, dia sedang hamil anakku."


"A-apa Dav, kamu bilang apa? Alsha hamil? berarti sebentar lagi mama akan punya cucu?" ucap Inara terdengar antusias.


"Iya, Alsha hamil! aku baru tahu beberapa hari ini."


"Yaampun Dav, mama sampai nggak bisa berkata-kata saking senangnya, yasudah mama bantu kamu, kirimkan alamat tempat tinggal Alsha sekarang juga."


"Iya ma."


*


"Sha, kamu sudah baikan sama kak Davin?" tanya Merry yang saat ini menemani Alsha mencari bahan makanan instan untuk stok seminggu kedepan.


"Aku sama dia nggak berantem Mer."


Merry mencebik, "Bukan itu maksudnya Alsha."

__ADS_1


"Nggak tahulah Mer, aku malas bahas dia." sahut Alsha dengan helaan napas pelan.


Merry tersenyum dan tak bertanya lagi, gadis itu cukup Mengerti dengan perasaan Alsha saat ini.


"Oh iya, kamu beli susu apa Sha?" ujar Merry sembari mengintip Alsha yang tengah memiilih berbagai macam merek susu ibu hamil dihadapannya.


"Sha, itu kan susu ibu hamil?"


Alsha tak langsung menjawab, sementara Merry masih berdiri ditempatnya dengan pikiran yang entah kemana.


sejurus kemudian ia memekik saat menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan kamu_ kamu hamil Sha?"


Alsha mendesaah lirih, kemudian mengangguk membuat merry berteriak histeris.


"Jadi benar, kamu hamil?"


"Bisa nggak sih Mer, nggak usah teriak? malu tahu ini ditempat umum." bisik Alsha sembari menatap sekitar dimana ada beberapa pasang mata yang menatap kearah mereka.


Diwaktu yang sama kedua mata Alsha tak sengaja bertemu dengan sepasang mata penuh binar yang tak lain adalah ibu mertuanya, ralat! lebih tepatnya mantan ibu mertua.


"Alsha?" sapanya sembari tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk Alsha.


Bukan pelukan yang hanya sekedar merindukan menantu perempuannya, tetapi sekaligus sebagai luapan rasa bersalahnya terhadap Alsha yang telah gagal mendidik Davin menjadi pria yang bertanggung jawab terhadap istrinya.


"Ma?" panggil Alsha membuat wanita paruh baya itu mengerjap dan buru-buru mengusap kedua matanya yang basah dan mengurai pelukan.


"Mama kenapa menangis?" tanyanya lembut, khas suara Alsha.


Inara menggeleng, namun detik berikutnya ia kembali menangis."Alsha, ada yang mau mama bicarakan, tapi kita bicara ditempat lain saja, please! Alsha harus mau ya?" pintanya, membuat Alsha mau tidak mau menganggukan kepalanya.


"Baik ma."


"Oh iya mama tunggu sebentar, aku bayar dulu belanjaannya."


"Iya mama juga."


Diparkiran mini market Alsha dan Merry berpisah.


Merry tak bertanya siapa wanita yang sedang bersama Alsha saat ini, seperti yang sudah ia tahu jika permasalahan sahabatnya cukup pelik akhir-akhir ini, dan ia memutuskan untuk bertanya atau hingga Alsha sudah siap bercerita dilain waktu.


Disinilah kini Alsha dan Inara disebuah kontrakan yang menjadi tempat tinggal Alsha selama tiga bulan terakhir ini.


Alsha sengaja membawa Inara kekontrakan karena atas permintaan Inara sendiri yang ingin mengetahui tempat tinggal Alsha.

__ADS_1


Alsha tak mengelak, ia yakin Inara sudah mengetahui perceraiannya dengan Davin.


Setelah menyuguhkan minuman didepan Inara ia ikut duduk dihadapannya bersiap mendengar dan menjawab apapun yang akan Inara tanyakan saat ini.


"Jadi benar kalian sudah bercerai?"


Alsha membeku.


"Kenapa Alsha nggak bilang sama mama, apakah selama ini mama bukanlah bagian terpenting dalam hidup Alsha."


"Bukan ma, tidak begitu?"


"Lalu bagaimana? kenapa kalian bercerai?"


Alsha semakin menundukkan kepalanya, sembari menyembunyikan kedua tangannya yang saling bertaut.


"Maaf Alsha tak memberi tahu mama, Alsha tahu mama kecewa! tapi ini sudah menjadi keputusan Alsha."


"Tapi kenapa, apa Davin memperlakukanmu dengan buruk, atau dia berselingkuh dengan wanita lain?"


"Karena_ karena saya sadar kehadiran saya hanya menjadi penghalang hubungan kak Davin dan kak Sera."


"Alsha apa yang kamu bicarakan, jadi benar karena wanita itu?"


"Bukan, dia tidak salah ma, disini sayalah yang bersalah."


"Alsha dengar! dari dulu dan sampai kapanpun mama tidak pernah setuju jika Davin menikahi wanita itu."


"Tapi ma_"


"Alsha, kembalilah pada Davin nak, kamu harus pikirkan bagaimana nasib anak kalian kedepannya jika kalian tak bersama, mama tidak mau kalau cucu mama kekurangan kasih sayang dari orang tuanya."


"Mama tahu kalau aku_"


"Iya, Davin sendiri yang bilang, dia juga meminta mama agar membantu membujuk Alsha supaya mau pulang, Davin sudah menyesali semuanya, dan mama yakin itu! tidak pernah sebelumnya mama mendengar suara Davin yang seperti sudah putus asa dengan dirinya sendiri."


"Atau jika Alsha masih kesal dengan dia Alsha tinggal dirumah mama saja, tapi mama mohon Alsha jangan tinggal disini ya?"


"Ma_"


"Jangan menolak! kalau Alsha menolak, mama akan mengambil cucu mama saat bayi itu lahir."


Deg!


*

__ADS_1


*


__ADS_2