Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Mantan adik ipar


__ADS_3

"Bocah! Lo nungguin siapa?" ujar seorang pemuda yang sedang menikmati potato wedges disebuah Cafe yang terletak tidak jauh dari perusahaan AM'group.


"Iya, dari tadi mata Lo melotot kesana terus! nungguin siapa? pacar baru Lo?!" timpal pemuda yang satu lagi.


"Berisik Lo berdua." ucap pemuda yang bernama Evan, seraya menoyor kening sahabatnya secara bergantian.


"Sakit, Anjir!"


"Serius Lo nungguin siapa?"


"Diem!" Evan melompat dari kursinya seraya mengeluarkan selembar uang berwarna merah yang diberikan kepada salah satu sahabatnya tanpa mengalihkan pandangannya dari seorang gadis yang baru saja keluar dari gedung AM'group.


"Gue cabut dulu."


Evan melangkah cepat menaiki motornya dan melajukannya mengikuti sebuah ojek online yang ditumpangi seorang gadis cantik yang ia ketahui adalah istri dari kakaknya.


Sejak beberapa waktu lalu Evan sudah penasaran dengan Alsha yang bekerja di AM'group padahal ia jelas tahu suaminya lebih dari kata cukup membiayai seluruh kehidupannya.


Lima belas menit berlalu Evan menepikan motornya saat melihat Alsha yang berhenti dan masuk kesebuah kontrakan sederhana yang ia yakini harganya pun dibawah standar rata-rata.


"Ngapain sih dia disini, emangnya bang Davin kemana?" gumamnya dengan gelengan kepala, ia meyakini 100% jika Davin tidak mungkin mau tinggal ditempat seperti itu.


Ia dan Davin memang bukan adik-kakak yang akrab pada umumnya, mereka selalu berbeda pendapat sehingga membuat keduanya jauh dari kata akrab.


Terlebih setelah menikah Davin tak pernah menginap dirumah, atau sekedar mengunjungi orang tua mereka.


Evan sendiri tak pernah peduli, namun akhir-akhir ini rasa penasarannya tak berhenti mengganggunya.


Evan turun dari motornya, dengan sedikit celingukan ia menghampiri kontrakan yang beberapa detik lalu dimasuki Alsha, dan mengetuk pintunya beberapa kali.


"Evan, Evan kan?" ujar Alsha begitu ia membuka pintu dari dalam.


"Kak, Lo ngapain disini?" bukannya menjawab, Evan justru mengajukan pertanyaan kembali.


"Ayok duduk dulu, kakak ambilkan minum." ujar Alsha sembari menunjuk kursi plastik yang ada diteras kontrakan.


"Eh, nggak usah! Lo duduk aja disini, temenin gue ngobrol!" Evan menepuk kursi disampingnya.


Dengan ragu Alsha ikut duduk, "Kamu tahu dari mana kakak tinggal disini?"


"Nggak penting gue tahu darimana, yang mau gue tanyain kenapa Lo tinggal disini? emang perusahaan bang Davin bangkrut, sampai dia milih ngontrak disini?"


"Emangnya kak Davin nggak cerita.?"


"Soal apa.?"


"Aku_ aku sama dia sudah bercerai."


"Apa? cerai, Lo bercanda?"


"Sudah tiga bulan yang lalu, memangnya kak Davin benar-benar tidak cerita."

__ADS_1


"Sumpah gue baru tahu."


Alsha menghela napas, "Jadi mama sama papa juga belum dikasih tahu?"


"Yaiyalah, mama sama papa tahunya kan hubungan Lo sama bang Davin baik-baik aja."


"Tapi kenapa ya, kak Davin nggak cerita?"


"Ya mana gue tahu, malah nanya gue! oh iya, sekarang Lo gemukan ya, nggak kayak waktu pertama kali datang, kurus kering mirip mie lidi."


"Evan?" protes Alsha, yang tidak terima dengan ucapan mantan adik iparnya tersebut.


"Kenapa, Lo mau protes?"


Alsha mencebik, saat menjadi istrinya Davin dia bahkan tidak pernah sedekat ini dengan adik iparnya.


"Mau gue temenin jalan?"


"Apaan sih Van."


"Gue nawarin mau nggak Lo, jarang-jarang lho gue bisa sebaik ini, ayok kalau mau buruan gue anterin kemanapun Lo mau."


"Evan, kamu serius?" tanya Alsha tak percaya.


"Lo bukan lagi istrinya orang kan, jadi bebas dong kalau gue bawa-bawa."


"Tapi_"


"Pegangan, jatuh aja ntar nyalahin gue." ujar Evan saat


"Aku kan nggak minta pergi."


"Iya gue yang minta."


"Kamu_"


"Diem dulu deh, suara Lo berdengung, ganggu banget kek ngamuk, tahu nggak?"


Alsha mencebik, sembari memukul pundak Evan pelan, menurut saja ketika pemuda itu membawanya kesebuah tempat yang ia mau.


"Kok berhenti disini Van?" protes Alsha, ketika Evan menepikan motornya disamping sebuah kedai es cream yang terletak dipinggir jalan.


"Emang menurut Lo mau kemana?"


"Beli es cream?"


"Iya lah, Lo lihat sendiri kan itu tulisannya menjual berbagai macam menu es cream, ya kali beli ikan paus." ucap Evan sembari menunjuk spanduk besar didepan kedai tersebut.


"Kayak Anak kecil."


"Emang gue masih kecil, baru juga sembilan belas tahun."

__ADS_1


"Itu udah dewasa namanya Van, kita seumuran."


"Iya seumuran, tapi bedanya muka Lo tuaan dikit." bisik Evan yang kemudian berlalu menghampiri penjual es cream.


"Ngeselin."


"Nggak usah ngedumel, buru sini Lo mau rasa apa?"


"Terserah kamu, aku ngikut aja." balas Alsha yang kemudian mencari tempat duduk untuk diduduki mereka berdua.


Saat ini kedai cukup sepi, karena selain waktunya mulai sore keadaan cuacanya pun sedikit mendung.


"Nih, Lo yang rasa strawberry gue rasa coklat."


"Dih, kok nggak disamain?"


"Yakali gue makan yang rasa strawberry, yang warnanya pink begitu, Nggak cocok banget sama gue."


"Ya jelas nggak cocok! wajah kamu kan wajah Mafia."


"Eh buset, sembarangan Lo ngatain anak orang."


"Fakta Evan."


Evan meletakkan sendok es cream yang ia pegang kemudian bertopang dagu menatap Alsha.


"Kak, menurut Lo gue ganteng nggak?"


Uhukk..!!


"Deuhh, Nggak usah dibatuk-batukin segala kali kak."


"Aku batuk beneran Evan."


"Jadi gimana penilaian Lo terhadap gue, gue ganteng nggak?"


"Ya."


"Ya, apa? ya jelek apa ya ganteng nggak jelas deh."


"Ganteng dikit."


Evan mengacak rambutnya, "Elahhh, kok dikit sih pelit amat."


"Kok kamu protes sih, kan kamu sendiri yang minta penilaian dari aku, ya terserah aku dong mau nilai seperti apa?"


"Terus kalau gue sama bang Davin menurut Lo lebih ganteng siapa?"


Alsha terdiam, berbicara soal Davin mengingatkan ia pada sesuatu yang membuatnya takut akhir-akhir ini.


*

__ADS_1


*


__ADS_2