Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Memulai hidup baru


__ADS_3

Pagi menjelang, Davin terbangun dari tidurnya, ia meringis memijat keningnya yang terasa berdenyut.


Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya ia terdiam mengingat-ingat hal apa yang sudah ia lakukan semalam.


Lalu pandangannya menyapu sekitar ruangan yang ia yakini bukanlah kamarnya.


"Dimana aku?"


"Kau di rumahku, semalam kau mabuk berat!" seseorang menyahut diambang pintu.


"Minumlah, agar peningmu hilang." ucap seseorang yang tak lain adalah Tommy sahabatnya yang semalam membawanya pulang kerumahnya.


Davin menerima minuman yang diberikan Tommy kemudian meneguknya hingga tandas.


"Kau menyesalinya, dan sekarang kau mulai merindukannya?" ujar Tommy yang membuat Davin seketika mendongak menatapnya dengan kening berkerut.


"Apa yang kau bicarakan?''


"Mungkin didepan semua orang kau akan mengatakan jika dia tak penting bagimu, Dav sudahlah kesampingkan egomu aku tahu kau menyukainya bukan?"


Davin melengos,"Omong kosong apa yang sedang kau katakan Tom."


"CK, kau mungkin tidak mengingatnya dude, tapi kami mendengar sendiri kalau kau terus menerus menyebut namanya."


"Tidak mungkin."


Tommy mendesaah pria itu beranjak dari hadapan Davin, "terserah kau saja, percuma berbicara dengan pria keras kepala sepertimu."


"Sialan."


"Mandilah, aku tunggu kau diruang makan." sambung Tommy ketika sudah berada diambang pintu kamar.


*


Disebuah kontrakan kecil yang terletak dipinggir jalan, Alsha memulai hidup barunya, ia memilih hidup sendirian tanpa berniat untuk kembali bersama nenek Diah, Alsha tak ingin membuatnya sedih, dan merepotkannya kembali seperti dulu.


Alsha akan membiarkan nenek Diah menganggapnya masih berada disisi Davin, dan akan mengunjungi sang nenek satu bulan sekali.


Alsha akan melanjutkan hidupnya disini, tanpa berharap lagi seorang ayah maupun seorang suami yang tidak pernah mengharapkannya.


Hidup sendirian sudah cukup bagi Alsha, ia akan bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhannya.


Pagi-pagi sekali Alsha berangkat bekerja dengan menaiki ojek online seperti biasanya, ia tampak bersemangat memulai harinya.

__ADS_1


Bohong jika Alsha tak merasa sedih atas apa yang menimpanya, pertemuannya dengan sang ayah lalu perceraiannya dengan Davin membuat Alsha hampir saja kehilangan kepercayaan terhadap dirinya.


"Hai Sha?'' Merry menyapa dipintu utama perusahaan, gadis itu melambai saat jarak diantara mereka masih terpisah cukup jauh.


Sementara di gerbang sana Alsha melangkah setengah berlari menghampiri Merry.


"Tumben kamu datang pagi-pagi Mer.?"


Merry tampak mencebik, "Setiap hari Senin aku selalu datang pagi-pagi kalau kamu lupa."


Alsha terkekeh, "oh iya aku lupa, karena yang ku ingat kamu selalu datang terlambat."


"CK, kamu ini Sha! oh iya kamu jadi keluar kota sore ini?"


"Tentu saja."


"Ah Alsha, boleh tukeran nggak sih aku aja gitu yang pergi sama pak Chandra."


"Boleh banget kalau diijinkan."


"Awas lho jangan jatuh cinta sama pak Chandra, dia milikku."


Alsha tertawa pelan, "Iya-iya, aku jamin nggak akan."


"Janji lho."


"Berarti kamu berniat merebut dia dari aku kan?"


"Ya gimana ya, perasaan itu kan selalu datang tiba-tiba, takutnya aku tiba-tiba jatuh cinta sama pak Chandra."


"Sha." rengek Merry, membuat Alsha semakin mengeraskan tawanya.


"Bercanda Mer, iya janji aku nggak akan jatuh cinta sama dia, kecuali kalau hilap."


"Please deh Sha."


Keduanya tertawa, kemudian melangkah bersama memasuki kantor, dan berpisah untuk menempati tempatnya masing-masing.


"Hai Sha?" sapa Chandra dengan senyum manis seperti biasanya.


"Selamat pagi pak."


"Pagi, sore ini sudah siap kan?"

__ADS_1


"Saya siap pak."


"Bagus, jangan lupa bawa beberapa setel pakaian ganti ya, karena ada tambahan beberapa pekerjaan lain disana, jadi mungkin bisa lebih dari tiga atau empat hari."


"Baik pak, saya mengerti."


"Yasudah, selamat bekerja Alsha."


"I-iya pak."


Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa hari sudah mulai sore Alsha bersiap untuk pulang, mengambil koper yang sudah ia siapkan untuk keberangkatannya sore ini.


"Pulangnya biar saya saja yang antar Sha." ucap Chandra yang entah sejak kapan berada dibelakangnya.


"Eh pak Chandra, tidak usah repot-repot pak! saya bisa pulang sendiri naik ojek seperti biasa."


"Jangan sungkan begitu Alsha, sore ini kita akan pergi bersama jadi saya antar kamu kerumah sekalian mengambil pakaian ganti kamu, setelah itu kita langsung berangkat, dan ya kebetulan saya sendiri sudah membawa barang-barang saya tadi pagi."


"Euhm tapi pak_"


"Sudahlah Alsha, jangan terus mencari-cari alasan, saya antar kamu kerumah."


"I-iya pak."


Alsha hanya bisa menghela napas pasrah, karena ia sendiri tak lagi menemukan alasan yang tepat untuk menghindari ajakan bosnya tersebut.


*


Setelah selesai makan malam bersama, disinilah keduanya kini disebuah hotel dengan kamar yang berbeda, dengan jarak yang sedikit jauh terhalang beberapa sekat kamar yang lain.


"Beristirahatlah Alsha, hubungi saya jika ada apa-apa."


"Baik pak, terimakasih."


Chandra menganggangukan kepala, "Selamat malam."


"Selamat malam." balas Alsha, yang kemudian menutup pintunya dari dalam.


Alsha melangkah menuju tempat tidur dengan selimut dan sprei yang berwarna putih khas hotel.


Melihat tempat tidur yang begitu luas itu tiba-tiba mengingatkannya pada tempat tidur yang berada dikamar Davin, lalu bayangan panas ketika ia melakukannya dengan Davin dalam keadaan sadar seketika memenuhi kepalanya.


"Apa yang kau pikirkan Alsha! lupakan dia, dia hanya akan menjadi masalalu mu." gerutunya memaki diri sendiri.

__ADS_1


*


*


__ADS_2