Terjerat Pesona Mantan Istri

Terjerat Pesona Mantan Istri
Tidak mungkin


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan disini?" ujar Davin, membuat Alsha yang baru saja keluar dari ruangan Dokter obgyn terlonjak kaget dan menjatuhkan selembar foto yang merupakan hasil USG bayinya.


Buru-buru ia memungut foto yang terjatuh itu, dan memasukkannya kedalam tas selempang kecil miliknya, dan bergegas meninggalkan Davin yang menunggu jawabannya.


Davin berdiri mematung ditempatnya, saat tak sengaja melihat foto hasil USG milik Alsha yang baru saja terjatuh itu.


Sementara Alsha mempercepat langkahnya saat menyadari jika Davin kini mulai berjalan dan terus mengikutinya hingga lorong Rumah sakit.


"Tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku? apa yang kau lakukan didalam sana?" cecar Davin sembari mencengkram pergelangan tangan Alsha dengan kuat.


"Itu sama sekali bukan urusan anda, dan tidak ada kaitannya."


"Jangan membuatku kehilangan kesabaran Alsha."


"Sebenarnya apa maumu, mengapa anda selalu mengganggu saya, tidak bisakah membiarkan saya menikmati waktu saya dengan tenang, sebentar saja."


"Apa kau bilang, aku mengganggumu?"


"Ya, apa anda tidak menyadarinya?"


"Kau memang keras kepala Alsha, apa susahnya tinggal kau jawab saja."


"Kak, lepas!" mohon Alsha, yang menyadari jika posisi mereka kini masih berada didalam rumah sakit, Alsha tidak mau membuat keributan apapun disini.


"Aku_ aku sedang periksa kesehatan."


"Bohong!"


"Lalu apa yang ingin anda dengar?"


"Tidak bisakah kau menjawab pernyataanku dengan jujur saja." ujar Davin dengan suara yang sedikit meninggi.


"Apa yang harus saya jawab?"


"Jangan berpura-pura bodoh Alsha, tadi saya melihat sendiri kamu memasuki ruang Dokter kandungan, dan kamu membawa hasil USG, benar kan?"


"Ya, benar! lalu apa masalahnya dengan anda?"


"Kau hamil?"


Alsha tampak kaget, namun sedetik kemudian ia menghela napasnya lalu mengangguk pelan. "Itu benar."

__ADS_1


Mendengar kejujuran Alsha, Davin jadi berdecih, ia melipat tangannya didepan dada lalu menatap Alsha dengan tatapan rendah.


"CK, mama benar-benar sudah dibutakan dengan wanita seperti kau Alsha."


"Apa maksudmu?"


"Kau masih bertanya apa maksudku?" Davin tertawa mengejek. "Kau sama sekali tidak pantas menjadi menantunya."


Deg!


Apa lagi ini, batin Alsha menjerit, bahkan tanpa sadar kini matanya mulai meneteskan cairan bening.


"Bukankah memang sudah tidak lagi menjadi menantunya, jadi apa yang harus dipermasalahkan?"


"Cih, kau bahkan mulai berakting dihadapanku, kau pikir dengan kau menangis aku akan merasa iba, kau dengar! tidak sama sekali Alsha."


"Saya juga tidak butuh dikasihani." Alsha mengusap kasar air matanya menggunakan punggung tangannya.


"Jadi bisakah mulai sekarang anda tidak perlu menemui saya lagi, dan seperti permintaan saya sejak awal, tolong jika suatu hari kita tidak sengaja bertemu anggap anda tidak pernah mengenal saya, dan saya sendiri akan melakukan hal yang sama."


"Jadi benar, kau telah berhubungan lama dengan bajiingan itu bahkan sampai menghasilkan seorang anak, itu benar kan?"


"Jaga bicara anda tuan." sergah Alsha.


"Itu tidak benar."


"Tidak seorangpun penjahat yang mengatakan dirinya bersalah, kenapa kau melakukannya,? kau merasa putus asa karena aku tidak pernah memberimu uang?"


"Bicaralah sesuka hatimu tuan."


"Pantas saja ayahmu tak menginginkan kehadiranmu, mungkin karena sejak awal dia sudah memprediksi bahwa kau akan tumbuh menjadi gadis yang tidak benar."


"Atau mungkin ibumu juga begitu dulu?" lanjut Davin tanpa perasaan.


"Cukup kak, cukup! anda tidak berhak menilai apapun mengenai ibu saya seperti apa, dia tidak ada hubungannya dengan kita, sama sekali tidak ada." balas Alsha dengan menggebu, ia benar-benar tak terima saat ibunya yang bahkan sudah lama meninggal itu dibawa-bawa dalam masalahnya.


"Memang benar kan, kenapa kau merasa malu?"


"Tidak benar sama sekali."


"Alsha, Alsha.. apakah kau tidak berpikir jauh mengenai masa depan bayimu suatu hari nanti, karena aku yakin jika ibunya saja sudah begini, maka tidak akan menutup kemungkinan jika sifat jelek mu itu akan menurun pada anakmu."

__ADS_1


Alsha menggeleng pelan, seiring air matanya yang semakin deras membasahi pipi.


"Dasar wanita murah_"


Plakkk!


Satu tamparan keras mendarat telak mengenai pipi kiri Davin, pria itu sampai membeku merasakan ngilu sekaligus rasa panas yang menjalar ke seluruh wajahnya.


"Anda sudah keterlaluan tuan, dan asal anda tahu, saya sama sekali tidak berhubungan dengan lelaki manapun, termasuk pak Chandra."


"Anak ini_" sambil menangis Alsha menyentuh perutnya yang masih terlihat rata, "Anak yang kau hina ini adalah darah daging kamu sendiri."


Deg!


"Apa?!" Belum hilang rasa terkejutnya saat Alsha menamparnya, kini kejutan lainnya membuat tubuh Davin hampir limbung dan tak berdaya.


"Malam itu_ apakah anda mengingat malam itu, saat anda meminta saya untuk melayani anda ditempat tidur, dan saya menyanggupinya dengan satu syarat?"


Deg!


Davin menggeleng kaku.


"Saat itu untuk pertama kalinya saya melakukannya dengan seorang pria."


Ya, Davin mengakuinya, bagaimana saat itu ia sendiri dengan sadar melihat bercak merah yang tertinggal diatas sepreinya.


Davin mengakui sekaligus merasa beruntung jika ia merupakan laki-laki pertama yang menyentuhnya.


"Sejak saat itu saya tidak pernah melakukannya lagi dengan siapapun, dan dengan pria manapun, jadi berhenti mengatai saya, dan menghina anak ini, dia sama sekali tidak ada hubungannya."


"Dan satu lagi, jika anda tak menginginkannya saya sama sekali tidak masalah, bahkan saat anda tak ingin mengakuinya sekalipun, saya sama sekali tidak masalah, saya bisa menjaganya sendirian, tapi saya minta satu hal jangan lagi menghinanya." lanjut Alsha yang kemudian melangkah cepat meninggalkan tersebut.


Meninggalkan Davin yang masih membeku lalu jatuh terduduk tanpa disadarinya.


Pria yang terlihat angkuh beberapa menit lalu itu kini lemas tak berdaya, sembari memegangi kepalanya, layaknya seperti orang yang linglung.


Ucapan telak Alsha barusan membuatnya benar-benar seperti merasakan ledakan bom yang tanpa peringatan sebelumnya.


"Tidak mungkin!" gumamnya dengan gelengan kepala, lalu ia mencoba berdiri, namun beberapa kali ia mencoba rupanya kedua lututnya tak mampu menopang tubuhnya yang terasa berat.


Ia terjatuh kembali, dan terduduk seperti semula.

__ADS_1


*


*


__ADS_2