
Disarankan bagi yang sedang berpuasa, bacanya malam aja, Author juga ngetiknya malam kok😁🤭
*
Malam tiba, Alsha tampak canggung, Alsha bingung entah harus tidur dimana malam ini, tidak mungkin ia meminta untuk tidur dikamar yang terpisah seperti sebelumnya, sedangkan posisi mereka kini bukan lagi tinggal dirumahnya sendiri, melainkan satu rumah dengan Inara dan juga Adnan.
"Apa yang kamu pikirkan sayang, ayok tidur?" ajak Davin lembut, sembari menuntun tubuh Alsha membawanya ketempat tidur.
"Ada apa? kamu takut aku menyakitimu lagi hm?" lanjutnya yang kini meraih tangan Alsha dan menciuminya berkali-kali.
Saat ini Davin tampak bahagia bahkan ia tak merasa malu menunjukkan rasa cintanya didepan Alsha, berbeda dengan Alsha yang beberapa kali menahan napas menahan perasaaan asing setiap kali Davin menyentuh bagian tubuhnya.
"Sayang?" panggilnya, saat Alsha tak merespon ucapannya.
"Kenapa, kamu menyesal karena kembali padaku?"
Reflek Alsha menggeleng, "B-bukan kak."
"Lalu apa?"
"Aku_ aku hanya belum terbiasa berada didalam satu kamar yang sama dengan kak Davin." jawab gugup Alsha yang entah mengapa tampak menarik dimata Davin.
Davin mencondongkan wajahnya dan berbisik di telinga Alsha, "Kamu hanya belum terbiasa, suatu saat pasti akan terbiasa, lagi pula bukankah kita pernah berbagi peluh bersama, sampai adanya junior?"
Davin menarik diri kemudian ia tergelak saat menyadari wajah Alsha yang kini sudah mirip seperti kepiting rebus.
__ADS_1
"Kak Davin ihs, nggak ada yang lucu." protes Alsha dengan wajah membrengut kesal.
"Kamu kelihatan gemesin kalau wajahnya merah begini."
"Kak_"
Kedua mata Alsha membulat saat Davin menempelkan bibirnya dan melumaatnya dengan begitu lembut dan hati-hati.
"Aku mencintaimu Alsha, sangat mencintaimu." ujar Davin dengan mulut bergetar, lalu kembali meraup bibir mungil Alsha dengan perasaan menggebu, Davin tentu adalah pria normal terlebih gadis yang ia cumbui adalah Alsha gadisnya yang sangat ia cintai.
Davin menarik diri saat dirasa Alsha kewalahan mengimbangi serangannya, terlihat dari napas gadisnya yang tersengal-sengal, Davin yakin jika Alsha memang tidak berpengalaman akan hal tersebut, dan dia sangat menyukainya.
Itu berarti Alsha memang belum pernah tersentuh kan, dan dialah si pria beruntung yang berhasil mendapatkan segalanya dari Alsha.
Selama beberapa detik keduanya hanya diam saling pandang, lebih tepatnya Davin yang terus-menerus memandangi wajah Alsha dengan lekat, ia masih tak menyangka jika Alsha memiliki hati yang begitu lembut yang ia rasa dengan mudah memaafkan dirinya yang begitu kejam selama ini.
Melihat penyesalan yang teramat diwajah suaminya, Alsha ikut merasa terenyuh dengan berani ia menggenggam telapak tangan Davin yang masih menempel di pipinya.
"Semua orang pernah membuat kesalahan, dan semua orang pasti memiliki masa lalu kan? termasuk aku sendiri kak, lalu saat seseorang itu telah menyesali semua perbuatannya, lantas kenapa masih tidak mau memaafkannya, bahkan Tuhan pun maha pemaaf."
Deg!
Davin terperangah, mendengar ucapan gadisnya yang memberi pukulan telak, Alsha yang bahkan usianya jauh lebih muda darinya bisa begitu sangat dewasa.
Lalu bagaimana dengan dirinya?
__ADS_1
"Aku sangat beruntung memilikimu sayang, betapa bodohnya aku saat itu, aku hampir kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku atas kebodohanku sendiri."
Alsha menggeleng samar, "Kak Davin tidak Bodoh, hanya saja mungkin sedang khilaf."
Greppp!
Davin memeluknya, menumpahkan seluruh perasaannya terhadap Alsha, perasaan malu, haru, bangga sekaligus perasaan cinta yang semakin bertambah besar untuk Alsha nya.
Selanjutnya, Davin kembali menciumnya, menciptakan permainan-permainan yang membuat istrinya tak berdaya dan pasrah dalam rengkuhannya.
Pagi menjelang, Alsha bangun terlebih dulu dengan disuguhkan pemandangan indah yang berasal dari sebelah tempat tidur yang saat ini ia tempati.
Wajah tampan Davin tampak begitu tenang saat tertidur seperti sekarang, dan tanpa sadar sebelah tangannya bergerak menyentuh dada polos Davin yang terasa keras dan liat.
Yang seketika membuat bayangan kegiatan semalam terlintas memenuhi pikirannya.
Tubuh kekar yang dipenuhi peluh bergerak lembut diatasnya, memberinya kenikmatan yang tidak bisa diibaratkan dengan hal apapun.
Memikirkan itu Alsha jadi malu sendiri, dan reflek memegangi wajahnya yang mendadak terasa memanas.
"Jangan cuma dibayangin, praktekin langsung saja, mau?" bisik Davin, yang membuat Alsha hampir memekik kaget.
"K-kak Davin, ka-kapan bangun?" tanyanya dengan wajah gugup.
"Sejak tadi, saat kamu terus memandangiku?" godanya, dengan mengulas senyum genit.
__ADS_1
*
*